Loading...

Sistim Tanam Jarwo Untuk Meningkatkan Produksi Padi Poktan Manjo Malano

Sistim Tanam Jarwo Untuk Meningkatkan Produksi Padi Poktan Manjo Malano
Padi merupakan tanaman pangan utama penduduk Indonesia. Sebagian besar padi ditanam pada lahan sawah. Kendala petani dalam meningkatkan produksi padi diantaranya serangan hama, penyakit dan gulma. Perkembangan pengganggu tanaman ini sering didukung oleh cara tanam. Kegiatan dalam bercocok tanam padi meliputi pembibitan, persiapan lahan, pemindahan bibit atau tanam, pemupukan, pemeliharaan (pengairan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit) dan panen. Dewasa ini telah diperkenalkan berbagai teknologi budidaya padi, antara lain budidaya sistem tanam benih langsung (Tabela), sistem tanam tanpa olah tanah (TOT), dan sistem tanam Jajar Legowo. Pengenalan dan peggunaan sistem tanam untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang optimal juga ditujukan untuk meningkatkan hasil dan pendapatan petani. Pada umumnya, padi pada kondisi jarak tanam sempit akan mengalami penurunan kulitas pertumbuhan, seperti jumlah anakan dan malai lebih sedikit, panjang malai yang lebih pendek, dan tentunya jumlah gabah per malai berkurang dibandingkan pada kondisi jarak tanam lebar (potensial). Beberapa kemungkinan yang menyebabkan rendahnya produktivitas pada jarak tanam rapat : (a) umumnya akan tumbuh tidak optimal apabila menerima sinar matahari yang rendah akibat adanya persaingan antar individu tanaman dalam jarak tanam rapat, (b) terjadinya kahat hara tertentu terutama N, P dan K serta air akibat pertanaman yang rapat, perakaran yang intensif sehingga pengurangan hara juga intensif, dan (c) terjadinya serangan penyakit endemik setempat, akibat kondisi iklim mikro yang menguntungkan bagi perkembangan penyakit pada jarak tanam rapat. Dalam upaya pencapaian target program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian melalui Badan Pengembangan dan Penelitian telah banyak mengeluarkan rekomendasi untuk diaplikasikan oleh petani. Salah satu rekomendasi ini adalah penerapan sistem tanam yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal dengan sistem tanam jajar legowo. Dalam melaksanakan usaha tanam padi ada bebarapa hal yang menjadi tantangan salah satunya yaitu bagaimana upaya ataupun cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil produksi padi yang tinggi. Namun untuk mewujudkan upaya tersebut masih terkendala karena jika diperhatikan masih banyak petani yang belum mau melaksanakan anjuran sepenuhnya. Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan kelanjutannya. Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian ditindak lanjuti oleh Kementerian Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi. Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi yang terdapat dalam paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Kegiatan Sekolah Lapangan (SL) budidaya padi sawah melalui anggaran APBN tahun 2018 dilaksanakan pada kelompok tani Manjo Malano, Nagari Air Amo, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Propinsi Sumatera Barat. Kelompok ini diketuai oleh Hamo TS yang beranggotakan 30 orang dengan luas sawah seluruhnya 20 ha. Produktivitas padi yang pernah diperoleh yaitu 5,0 ton/ha. Dalam upaya peningkatan produksi padi, kelompok tani Manjo Malano melaksanakan penerapan sistem tanam jajar legowo pada lahan demplot seluas 0,5 ha sesuai standard teknis yang disampaikan oleh Penyuluh Pertanian dan petugas Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung. Selain penerapan sistem tanam jajar legowo, pelaksana demplot juga memberikan pemupukan secara berimbang dan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Hasil kajian demplot diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan petani baik terhadap anggota kelompok tani Manjo Malano maupun terhadap petani pada kelompok tani lainnya yang ikut tergabung pada kegiatan SL. Penulis : Halim Amri (Penyuluh THL-TB Kabupaten Sijunjung)Sumber Informasi : https://bbpadi.litbang.pertanian.go.id