MOL adalah cairan yang berbahan dari berbagai sumber daya alam yang tersedia setempat. MOL mengandung unsur hara makro dan mikro dan juga mengandung mikrobaa yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan sebagai agen pengendali hama penyakit tanaman. Berdasarkan kandungan yang terdapat dalam MOL tersebut, maka MOL dapat digunakan sebagai pendekomposer, pupuk hayati, dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida (Purwasasmita dan Kunia, 2009). MOL dapat dibuat dari limbah sayuran, rebung, keong mas (Pomacea canaliculata), buah maja (Aegle marmelos), limbah buah-buahan, daun gamal (Glirisida sepium), bonggol pisang, nasi, urin kelinci dan lain-lain (NOSC, 2008). Keunggulan penggunaan MOL yang paling utama adalah mudah dan murah. Petani dapat membuat MOL dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitarnya. Cara pembuatan MOL mudah, bahan-bahan seperti limbah dapur, keong mas, urin kelinci, buah maja, bonggol pisang dan sebagainya dihaluskan atau dicincang kemudian dimasukkan kedalam drum plastik, kemudian dicampur dengan larutan yang mengandung glukosa seperti air nira, air kelapa atau air gula sebagai sumber energi, dan dibiarkan selama beberapa hari. Setelah itu larutan MOL dapat dipakai untuk menyemprot tanaman padi di sawah (NOSC, 2008) dan dapat juga digunakan sebagai aktivator dalam proses pembuatan kompos Kandungan bahan yang dibuat MOL dari berbagai macam MOL : Bonggol Pisang. Semua bagian tanaman pisang mulai dari akar sampai daun memiliki banyak manfaat, terutama yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah buahnya. Sedangkan bagian tanaman pisang yang lain, yaitu jantung, batang, kulit buah, dan bonggol jarang dimanfaatkan dan dibuang begitu saja menjadi limbah pisang. Bonggol pisang ternyata mengandung gizi yang cukup tinggi dengan komposisi yang lengkap. Bonggol pisang mengandung karbohidrat (66%), protein, air, dan mineral-mineral penting (Munadjim, 1983). Menurut Sukasa dkk.(1996), bonggol pisang mempunyai kandungan pati 45,4% dan kadar protein 4,35%. Bonggol pisang juga dapat dijadikan sebagai sumber mikroorganisme pengurai bahan organik atau dekomposer (Wulandari dkk, 2009).Pisang merupakan jenis tanaman yang mempunyai beberapa komposisi baik pada kandungan karbohidrat, protein, fosfor dan kandungan lainnya yang penting dan dibutuhkan oleh manusia. Komposisi antara satu jenis pisang dengan lainnya hampir sama hanya jumlah kandungan gizinya yang berbeda. Adapun kandungan dalam bonggol pisang ditunjukkan pada tabel dibawah ini: Bonggol pisang mengandung mikrobia pengurai bahan organik. Mikrobia pengurai tersebut terletak pada bonggol pisang bagian luar maupun bagian dalam(Suhastyo, 2011). Jenis mikrobia yangtelah diidentifikasi pada MOL bonggol pisang antara lain Bacillus sp., Aeromonas sp., danAspergillus nigger. Mikrobia inilah yang biasa menguraikan bahan organik (Suhastyo, 2011). Mikrobia pada MOL bonggol pisang akan bertindak sebagai dekomposer bahan organik yang akan dikomposka Sabut Kelapa. Sabut kelapa mengandung unsur kalium sebesar 10,25%, sehingga dapat menjadi alternatif sumber kalium organik untuk menggantikan pupuk KCl. Selain digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik, sabut kelapa juga digunakan sebagai media tanam dan pembuatan agar-agar kertas. Sabut kelapa mengandung unsur hara seperti Ca, Mg, K, Na dan P yang sesuai digunakan sebagai pupuk organik. Sabut kelapa sebagai media tanam mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat, aerasi dan drainase yang baik, sesuai dengan daerah panas dan mengadung unsur-unsur hara esensial. Daun Bebadotan Ageratum sebagai herbisida alami dan sumber bahan organic Bila kita perhatikan dengan teliti, tanaman Ageratum seringkali po-pulasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya dalam suatu lahan. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy, suatu keadaan di mana tanaman/bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanam-an lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection, 2004, 23: (915 – 922), 2004; penggunaan daunAgeratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% pertum-buhan beberapa gulma pada perta-naman padi sepertiAeschynomene indica, Monochoria vaginalis, dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan daun Ageratumsebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi. Selain itu penggunaan daun tanaman ini dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen padi. Tanaman padi yang diperlakukan dengan daun Ageratum meningkat 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan penggunaan herbisida . Hal tersebut diduga karena penambahan daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang sangat diperlukan bagi per-tumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga pupuk bagi petani. et al., 2004, Crop Protection 2004, 23 : 915-922. Air cucian beras. Komposisi air beras selain 90% karbohidrat yang berupa pati, juga mengandung vitamin, mineral dan protein, 80% protein beras di sebut protein glutein. Kualitas protein glutein cenderung berupa zat lisin, lisin sendiri merupakan asam amino essensial pembatas. Adapun penjelasan air beras di beberapa literatur hanya mengandung karbohidrat dan pati, tapi kalau menjabarkan 100% karbohidrat dalam jumlah tinggi akan membentuk proses terbentuknya hormon tumbuh berupa auksin, gibbereline, dan alanin. Ketiga jenis hormon tersebut bertugas merangsang pertumbuhan pucuk daun, mengangkut makanan ke sel-sel terpenting daun dan batang. Air leri / air cucian beras Dari struktur mikrobiologi, air beras juga punya keanekaragaman bakteri antagonis, artinya bisa melawan bakteri jahat/patogen. Juga dapat menginvasi sel telur hama kutu-kutuan menjadi pecah sebelum waktunya. Tak ayal daun yang selalu diaplikasikan dengan air cucian beras sebagai pupuk cair hayati cenderung sehat dan subur. Berikut ini beberapa jenis mikroorganisme bermanfaat yang dihasilkan dari air cucian beras : a. Bakteri Pseudomonas fluorescens adalah sejenis mikroba atau mikroorganismeyang beradaptasi serta mengkloning dengan baik pada sistem perakaran ( akar tanaman ) serta mempunyai keunggulan untuk mensintesis metabolit untuk proses menghambat perkembangbiakan patogen. b). Bakteri Pektolitik pektin adalah sejenis mikroba yang mensintesis karbohidrat dan asam amino untuk menghasilkan hormon tumbuh atau ZPT. c). Bakteri Xanthomonas maltophilia ini menginfeksi sel hama embun tepung karna perkembangbiakan pesat di atas suhu 33 derajat celcius dan ketersediaan lisis dalam jumlah besar .Kandungan Hara Air Leri atau Air Cucian Beras Klarifikasi unsur hara pada air cucian beras (air leri) Nitrogen (N) : 70,55 ppm Phosphor (P) : 60,65 ppm Kalium (K) : 91,11 ppm Besi (fe) : 09,95 ppm Boron (B) : 06,44 ppm Vitamin B : 205,44 ppm Vitamin K : 11,12 ppm kandungan dan manfaat air leri atau air cucian beras untuk menyuburkan tanaman. Aplikasinya boleh dikocor pada akar atau disemprotkan keseluruh bagian tanaman. Air leri bisa diaplikasikan langsung ketanaman atau difermentasi terlebih dahulu. Air Kelapa. Air kelapa yang biasanya dibuang begitu saja ternyata memiliki manfaat yang sangat luar biasa. Selain digunakan sebagai bahan pembuatan minuman kesegaran, antioksidan dan pembuatan nata de coco, air kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk tanaman. Air kelapa adalah salah satu sumber hormon alami auksin dan sitokinin yang merupakan hormon untuk memacu pertumbuhan tanaman. Selain itu, air kelapa juga kaya akan unsur-unsur mineral seperti K, N, Ca, Mg, Fe, Cu, P, dan S yang dimana unsur-unsur tersebut sering dijadikan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan pupuk organik cair di hampir semua produk pupuk pabrikan. Alat dan Bahan : 1 buah ember kapasitas 20 lt 50 cm selang 1 buah botol plastik Bonggol pisang 5 Kg Sabut Kelapa 300 Gram Daun Bebadotan 1 Kg 0,5 Kg gula merah 300 g gula pasir Air kelapa 7 liter Air cucian Beras 13 Liter Cara Pembuatan : Siapkan bonggol pisang yang sudah rajang/racik, begitu juga dengan sabut kelapa dan daun bebadotan Campurkan gula merah dan gula pasir yang telah dilarutkan terlebih dahulu dengan air, masukkan kedalam ember yang telah disiapkan selanjutnya masukkan air cucian beras dan air kelapa diaduk hingga rata. Masukkan bahan seperti bonggol pisang, sabut kelapa, dan daun bebadotan kedalam ember setelah itu diaduk hingga rata. Tutup dengen penutup ember yang telah diberi lubang agar selang bisa masuk Masukkan selang plastik pada lubang penutup ember selanjutnya ujung selang yang satu nya dimasukkan kedalam botol plastic agar gas yang dihasilkan dari permentasi dapat keluar Difermentasi selama 14-21 hari siap digunakan Dosis untuk 15 liter air 500 – 1000 cc aplikasikan pada pagi/sore hari. Oleh : Juandi, SST (PPL Kecamatan Tekarang)