Loading...

SOSIALISASI BUDIDAYA SECARA VERTIKULTUR DI KECAMATAN AIRMADIDI

SOSIALISASI BUDIDAYA SECARA VERTIKULTUR DI KECAMATAN AIRMADIDI
Vertikultur dapat diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara vertical dengan menggunakan ruang atau lahan yang sempit dengan demikian dapat memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam secara optimal. Melihat trend pertanian saat ini yang semakin inovatif, apalagi mulai digemarinya bertani dengan metode vertikultur hidropnik maka sangat perlu untuk mensosialiasikannya kepada masyarakat khsususnya di Kabupaten Minahasa Utara. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan di BPP Airmadidi tepatnya di desa Rap-rap yang dihadiri oleh petani di kecamatan Airmadidi. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian, Ir. Wangke Karundeng, MAP dan dilanjutkan dengan materi oleh Kepala Bidang Hortikultura, Joice Tamboto, SP. Materi yang dipaparkan antara lain pengenalan teknik vertikultur, dan bagaimana cara serta tahapan penerapannya. Teknik penanaman secara vertikultur dalam sejarahnya dikenalkan oleh sebuah perusahaan benih di Swiss pada tahun 1944 yang merujuk sebuah ide Vertical Garden. Kemudian vertikultur merajalela di negara Eropa yang memiliki iklim sub-tropis. Indonesia negara dengan iklim tropis juga mulai menerapkan teknik ini karena sangat membantu kebutuhan pangan yang meningkat namun ketersediaan lahan yang menurun. Teknik penanaman secara vertikultur awalnya hanya digunakan untuk ajang pameran tanaman yang dilaksanakan di taman, kebun maupun rumah kaca. Saat ini vertikultur mulai diterapkan dirumah-rumah khususnya para ibu rumah tangga yang hobi bercocok tanam. Secara umum vertikultur digunakan untuk menanam sayuran seperti bayam, kangkung, seledri, maupun tanaman hias yang batang berair. Bahan yang dapat digunakan untuk tekhnik ini adalah pipa paralon, botol bekas, talang air, bamboo dan biotekstil. Tanaman yang dikembangkan dengan teknik vertikultur antara lain sayuran dan tanaman hias. Sedngkan media tanam dapat menggunakan media tanah yang dicampur pupuk kandang, arang sekam dan atau serbuk sabut kelapa. Dengan vertikultur petani dapat memanfaatkan lahan yang sempit, hemat dalam penggunaan air, media tanam dapat disesuaikan dengan lingkungan sekitar, umur tanaman relative pendek dan mudah dipelihara serta dapat dilakukan oleh siapa saja. (Rano Yudha Prawira, STP – Penyuluh Pertanian Kabupaten Minahasa Utara).