Program peningkatan produksi pangan terus dilakukan pemerintah agar kedaulatan pangan tercapai. Akan tetapi penyusutan lahan menjadi masalah utama yang harus dihadapi seiring bertambahnya penduduk. Sehingga dengan kondisi yang ada menuntut adanya upaya pemanfaatan lahan yang terbatas tersebut agar tetap menghasilkan produksi yang efektif. Upaya yang dilakukan diantaranya dengan tumpang sisip. Bertempat di BPP Airmadidi Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Utara melaksanakan kegiatan sosialisasi Tumpang Sisip Kedelai jagung dan dihadiri oleh para petani dan aparat desa setempat. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian, Ir. Wangke Karundeng, MAP dan dilanjutkan dengan pemberian materi tentang tumpang sisip. Materi dibawakan langsung oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan, Celly Bernadus, SP. Dalam pemaparannya dijelaskan latarbelakang dan teknik penanaman tumpang sisip untuk komoditi jagung dan kedele. Pada system tumpang sisip dua jenis tanaman atau lebih ditanam pada musim dan lahan yang sama melalui pengaturan waktu dan tata ruang tanam. Sebelum tanaman pertama di panen, tanaman kedua sudah mulai ditanam sehingga lahan tidak ada jeda waktu kosong tanaman. Hal ini berkaitan juga dengan pemanfaatn air yang tersedia. Kedelai ditanam diantara barisan tanaman jagung pada saat tanaman jagung berumur 20 hari sebelum panen. Jagung ditanam sebelum tanaman kedelai dengan jarak tanam 75 cm x 20 cm, 1 tanaman perlubang. Varietas kedelai yang ditanam disesuiakan dengan perkiraan curah hujan tapi yang toleran kekeringan lebih direkomendasikan antara lain Argomulyo, Dega 1, Devon 1 Anjasmoro dan Dena 1. Kedelai ditanam kurang lebih 20 hari sebelum jagung dipanen secara double row di antara barisan jagung dengan jarak tanam 30 cm x 15 cm, 2 biji per lubang. Lubang tanam ditutup pupuk kandang kering 1 – 1,5 ton per Ha dengan cara di hambur. Pemupukan NPK diberikan saat kedelai berumur 10 hari menggunakan phonska dengan dosis 150-200 kg/ha ditatambah SP 36. Pemotongan batang dan daun jagung di atas tongko dilakukan pada saat 5 hari sebelum panen agar mengurangi naungan pada kedelai dan mengurangi serapan air tanah oleh tanaman jagung sehingga air cukup bagi kedelai. Pada saat umur 20 hari dilakukan pengendalian gulmamenggunakan herbisda yang berefek minimal. Pemanenan dilakukan saat masak fisiologis ditandai dengan oleh daun telah gugur dan 95% kulit pohon berwarna cokelat atau colkelat kehitaman. Panen dilakukan dengan memotong tanaman di atas permukaan tanah agar akar dan bintilnya tetap berada di tanah. Peserta begitu antusias karena memperoleh pengetahuan baru tentang teknik budidaya tanaman baru khususnya tanaman kedelai dan jagung. (Rano Yudha Prawira, STP. – Penyuluh Pertanian Minahasa Utara).