Kentang (Solanum tuberosum) merupakan sayuran ubi dan dipanen bagian ubinya sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi. Sebagai sumber karbohidrat, kalori, mineral dan protein, pengembangan tanaman kentang memiliki prospek yang sangat besar untuk menunjang program diversifikasi pangan, bahan baku industri, dan komoditas ekspor. Total produksi kentang nasional meningkat dari tahun ke tahun, yaitu 1.124.282 ton (2013) menjadi 1.316.015 ton (2014) atau naik 17,05 %. Pada tahun 2015 angka produksi mencapai 1.322.374 ton (angka sementara, sumber Renstra Ditjen Hortikultura Tahun 2015-2019) dan proyeksi produksi tahun 2016 sebesar 1.348.821 ton atau naik 6,99 % dari tahun sebelumnya. Seperti halnya produk sayuran lainnya, kentang setelah dipanen masih melakukan aktivitas metabolisme, sehingga bila tidak ditangani dengan segera akan mengalami kerusakan fisik dan kimiawi. Sifat sayuran yang mudah rusak tersebut mengakibatkan tingginya susut pascapanen, terbatasnya masa simpan setelah pemanenan, dan timbulnya serangan organisme pengganggu tanaman yang dapat menurunkan mutu. Perubahan yang terjadi setelah panen dan pascapanen tersebut tidak dapat dihentikan, namun prosesnya dapat diperlambat sampai batas tertentuUntuk itu penanganan teknologi pascapanen kentang di tingkat petani perlu diperbaiki dan disempurnakan sesuai dengan SOP Pascapanen Kentang, agar kentang yang dihasilkan dalam kondisi baik dan sesuai/tepat untuk konsumsi segar atau bahan baku pengolahan. Ruang lingkup SOP Pascapanen Kentang meliputi dari 1) Penentuan Waktu Panen dan Penanganan Panen, 2) Perlakuan Segera Setelah Panen, 3) Sortasi dan Grading, 4) Penyimpanan, 5) Pengemasan, dan 6) Distribusi. Berikut ini diuraikan secara singkat SOP Pascapanen Kentang: Penyimpanan. Pengertian Penyimpanan merupakan proses menyimpan hasil panen kentang yang tidak segera terjual (seharusnya dilakukan oleh petani kentang). Penyimpanan dilakukan terhadap kentang yang telah disortasi dan dipilah berdasarkan kelasnya. Penyimpanan sebaiknya dilakukan di dalam gudang.Tujuan1. Mengurangi resiko susut bobot yang terlalu banyak, resiko kerusakan dan serangan hama penyakit;2. Menunggu saat pemasaran yang tepat.Sasaran Mempertahankan kualitas ubi kentang yang tidak segera terjual dengan tujuan menunggu saat pemasaran yang tepat.Standar PenyimpananPenyimpanan dilakukan di dalam gudang berventilasi, agar sirkulasi udara lancar, dengan kelembaban sekitar 65 0C - 70 0C, dan sebaiknya di tempat gelap atau kurang cahaya, untuk menghindari terjadinya greening (proses menghijau). Tempat penyimpanan harus bersih.Prosedur Penyimpanan1. Persiapkan kotak kayu atau keranjang plastik/bambu yang digunakan sebagai wadah ubi kentang yang akan disimpan di dalam gudang;2. Masukkan wadah berisi ubi kentang ke dalam ruang penyimpanan dan susunlah dengan rapih;3. Catat seluruh langkah yang dilakukan.Sumber informasi:1. Anonymous. 2015. Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2015 -2019, Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian2. Anonymous. 2012. Standar Operasional Prosedur (SOP) Pascapanen Kentang, Jakarta: Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian3. Anonymous. 2010. Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Kentang Varietas Granola (Solanum tuberosum L) Kabupaten bandung Provinsi Jawa Barat, Jakarta: Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian