Tanaman pisang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan dan tidak memerlukan pemeliharaan yang rumit. Selain budidayanya yang mudah, pisang dikenal sebagai bahan pangan yang mengandung sumber energi karbohidrat, vitamin, mineral dan kaya akan nilai gizi. Buah pisang banyak dikonsumsi sebagai pisang meja (banana) untuk konsumsi segar dan pisang olahan (plantain). Salah satunya adalah pisang barangan yang dapat di makan langsung setelah masak. Ciri-ciri pisang barangan yaitu bertekstur lurus degan panjang sekitar 11 cm dan berdiameter 30 mm. Daging buah pisang barangan berwarna kuning sedikit putih, rasanya manis dan tidak berbiji. Pisang ini biasanya disajikan sebagai makanan pencuci mulut pada acara-acara pesta. Pisang barangan merupakan komoditi unggulan di wilayah Sumatera Utara terutama di Kabupaten Deli Serdang. Pada buah pisang ini memiliki kandungan gizi yang cukup untuk tubuh, diantaranya adalah setiap 100 gram pisang barangan mengandung energi 110 kal, karbohidrat 25,8 gr, protein 1,2 gr dan vitamin C 3 gr. Namun tidak hanya di Sumatera Utara saja pisang ini dibudidayakan tetapi juga beberapa daerah lain yang ada di Jawa mulai membudidayakan jenis pisang ini. Sebagian besar budidaya pisang masih dilakukan secara tradisonal. Banyak factor yang mempengaruhi hal tersebut antara lain terbatasnya ketersediaan bibit dalam jumlah besar, bibit kurang terseleksi dan gangguan hama dan penyakit yang kurang mendapat penanganan yang baik. Satu satu cara untuk mengatasi kebutuhan jumlah bibit secara cepat dan tepat dengan tujun diperoleh bibit yang memiliki sifat sama dengan induknya melalui kultur jaringan (in-vitro). Pisang barangan dapat dibudidayakan di Provinsi Lampung, salah satunya Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Lampung melakukan kegiatan perbanyakan Pisang Barangan dengan sistem kultur jaringan di Laboratorium Kultur Jaringan, dengan menggunakan sumber ekspan bonggol dari anakan pedang dan subkultur pertama dilakukan saat bonggol umur 1 bulan setelah tanam. Cara Perbanyakan Pisang Barangan dengan Kultur Jaringan Tahap penanaman bonggol / tahap subkultur Langkah awal adalah sterilisasi Laminar Air Flow Cabinet (LAFC). Bukalah tutup botol yang berisi eksplan, usaplah dengan kapas yang mengandung bethadin, ke bagian leher botol terutama bagian ulirnya, bakarlah di api bunsen sekitar mulut botol. Ambil pinset yang sudah dibakar terlebih dahulu kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi air steril. Bukalah petridish, ambil eksplan dari botol kemudian lettakkan dalam petridish, tutup petridish, tutup botol berisi eksplan (untuk subkultur), ambil pisau dengan menggunakan tangan kanan juga pinset dengan tangan kiri, buka petridish, potong eksplan sesuai kebutuhan, pisahkan eksplan yang akan ditanam dengan yang tidak dipakai, kemudian tutup petridish lagi. Ambil botol berisi media baru, bakarlah tutup botol beserta mulut botol, ambil pinset yang sudah dibakar terlebih dahulu, dan disimpan di air steril, buka tutup petridish, ambil eksplan, masukkan ke dalam botol baru, tutup petridish, bakar mulut botol, tutup botol, simpan di sebelah kanan. Setelah selesai, matikan blower. Kelurkan botol-botol dan alat-alat dari laminar. Botol yang berisi eksplan, bagian atas dilapisi alumunium foil dan plastik serta dikencangkan dengan karet, kemudian di wrap sebelum disimpan di ruang inkubasi. Simpan dalam ruang inkubasi (suhu 20-270C, kelembaban 70-8-%, kelembaban dalam wadah kultur ± 90%, intensitas cahaya 1-1000 lux (tahap inisiasi), 1000-10.000 (tahap multiplikasi). Bersihkan laminar, semprotkan alkohol 70%, kemudian tutup Kembali laminar. Botol yang kosong, dan alat-alat-alat yang dipakai segera dicuci, terutama yang terbuat dari stainless. Alkohol yang bekas jangan dibuang, alkohol disaring, supaya tidak ada kotoran dan kumpulkan dalam jerigen. Tahap subkultur sampai 5 kali (sebulan sekali pindah) Setelah kurang lebih sampai 7 bulan baru dapat dilakukan aktimatisasi/dikeluarkan dari botol Sumber : BPSIP Lampung dan berbagai sumber. Penulis : Ely Novrianty (Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Lampung)