Loading...

Standart Mutu Biji Kedelai

Standart Mutu Biji Kedelai
Tanaman kedelai telah lama diusahakan di Indonesia yaitu sejak tahun 1970. Sebagai bahan makanan, kedelai banyak mengandung protein, lemak dan vitamin, sehingga tidak mengherankan bila kedelai mendapat julukan : gold from the soil Berdasarkan warna kulitnya, kedelai dapat dibedakan atas kedelai putih, kedelai hitam, kedelai coklat, dan kedelai hijau. Kedelai yang ditanam di Indonesia adalah kedelai kuning atau putih, hitam dan hijau. Perbedaan warna tersebut akan berpengaruh dalam penggunaan kedelai sebagai bahan pangan.Secara umum dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi mutu kedelai dapat diklasifikan atas dasar :1) kadar air, 2) persentase biji keriput, 3) persentase kotoran.Menurut SNI 01-3922-1995, klasifikasi mutu kedelai dibagi dalam 4 tingkatan, dengan jenis uji kadar air, butir belah, butir rusak, butir warna lain, butir keriput dan kotoran. Syarat mutu kedelai secara umum adalah :1) bebas hama penyakit. 2) bebas bau busuk, bau asam, bau apek, dan bau asing lainnya, 3) bebas dari bahan kimia seperti insektisida dan fungisida.4) memiliki suhu normal.Benih kedelai yang digunakan, pada dasarnya harus benih yang baik dan bermutu tinggi. Benih yang baik dan bermutu tinggi akan menjamin pertanaman yang bagus dan hasil panen yang tinggi, dan ini dicerminkan oleh tingginya tingkat keseragaman biji, daya tumbuh dan tingkat kemurnian. Syarat Benih Bermutu antara lain: 1) murni dan diketahui nama varietasnya, 2) daya tumbuhnya tinggi ( minimal 80% ), serta vigornya baik, 3) biji sehat, bernas, mengkilat, tidak keriput dan 4) dipanen dari tanaman yang telah matang, 5). dipanen dan tanaman yang sehat, tidak terkena penyakit virus, 6). tidak terinfeksi cendawan, bakteri atau virus, 7). bersih, tidak tercampur biji tanaman lain atau biji rerumputan.Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu benih antara lain 1) Faktor bawaan ( kemurnian varietas ), 2) Faktor fisiologi dan fisik benih, 3) Faktor lingkungan, dan 4) Faktor perlakuan pasca panen.Faktor fisiologi dan fisik benih:1) tingkat kematangan benih, 2) benih harus dipanen dari tanaman yang sudah matang benar, 3) tingkat kerusakan mekanis benih, 4) tingkat keusangan benih, yaitu hubungan antara vigor awal benih dengan lamanya benih yang disimpan. 5) patogen pada benih, terutama soybean mozaic virus (smu) serta penyakit virus lainnya, 6) ukuran dan berat jenis benih, 7) komposisi kimia benih,Faktor lingkungan,1) musim tanam,2) kultur teknik,3) waktu panen, 4) cara tanam faktor perlakuan pascapanen, 1) cara penimbunan serta lamanya penimbunan brangkasan sebelum pengeringan dan pembijian, 2) cara pengeringan, 3) keseragaman dan kesehatan benih sebelum disimpan, 4) cara pengepakan, khususnya volume dan jenis kemasan, 5) suhu dan kelembaban tempat penyimpanan, 6) lama, cara, dan proses pengangkutan benih.Mempertahankan Kemurnian Varietas, 1). jaminan akan kebenaran varietas, b) kejelasan sumber dari varietas tersebut, 3) legalitas dari sumber varietas. 4). tingkat kemurnian dan varietas asal.5). menanam dengan jarak tanam teratur, 6) menanam dengan jarak tanam teratur, 7). lantai jemur, cara pembijian, dan wadah benih jenis atau varietas lain, 8) mencabut/membuang jenis tanaman/varietas lain. Penerapan Standar Mutu dalam System Pascapanen KedelaiSebetulnya standar mutu biji kedelai sudah lama diterapkannya, namun masih banyak hambatannya. Hal tersebut karena rendahnya adopsi teknologi mekanis pada saat pasca panen kedelai. Penerapan teknologi mekanis baru pada tahap meringankan beban kerja, belum berorientasi ke mutu. Hal ini tampak dari pengembangan jasa perontok padi yang juga dapat dipakai untuk kedelai. Saat ini petani kedelai telah dapat mengurangi beban kerja dan menghemat biaya dengan cara menyewa mesin perontok. Pengembangan jasa perontok sangat tepat mengingat saat ini kehilangan hasil panen kedelai masih cukup tinggi mencapai 14,7% &, 7,2% di antaranya terjadi pada saat perotokan. Namun sayangnya, kinerja mesin perontok kedelai yang beroperasi di sentra produksi umumnya belum optimum, terbukti masih diperlukan banyak tenaga untuk membersihkan biji setelah dirontok dengan mesin. Akibatnya biaya untuk perontokan dan pembersihan kedelai dengan mesin lebih mahal dibanding cara tradisional. Kenyataan ini menunjukkan bahwa penerapan standar mutu biji terutama dari komponen mutu/percentase kotoran biji pada tingkatan penjualan jasa perontokan kedelai belum berjalan dengan baik.Sesungguhnya masih ada peluang untuk memacu penerapan standar mutu biji kedelai dengan menggunakan mesin perontok yang tepat guna dan kesepakatan adanya jaminan pembagian nilai tambah yang wajar bagi petani sebagai pengguna, pemilik mesin sebagai penjual jasa perontokan , dan bengkel alsintan sebagai produsen mesin perontok. Untuk itu diperlukan upaya pelembagaan standar mutu biji yang menyeluruh melalui pendekatan system dalam mengembangkan system penjualan jasa perontok kedelai. Hal ini dapat dilakukan kesepakatan dalam memilih dan mengoperasikan alat perontok yang tepat guna, yang berdampak positif terhadap peningkatan mutu biji kedelai maupun pendapatan petani, penjualan jasa dan bengkel alsintan.Penyunting: Yulia Tri Semail : yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: 1. Erliana Ginting dan IK Tastra, 2007. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, malang2. http://setiono774.blogspot.co.id/2010/11/produksi-benih-kedelai.html3. http://jawaratani.blogspot.co.id/2013/05/standard-mutu-benih.html