Loading...

Strategi Aplikatif Yang Mendorong Pengembangan Usahatani Kedelai

Strategi Aplikatif Yang Mendorong Pengembangan Usahatani Kedelai
Kebijakan pengembangan program usahatani kedelai yang telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun pihak-pihak lain dianggap belum maksimal dan mampu meningkatkan kemampuan usahatani kedelai di Indonesia. Serangkaian kebijakan yang telah diprogramkan dan dilaksanakan juga dirasa belum mampu menyentuh hingga level petani di tingkat bawah. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu strategi yang aplikatif sehingga dapat mendorong pengembangan usahatani kedelai yang berdampak kepada terwujudnya ketahanan pangan Indonesia.Bayu Rizky Pratama dan Hardiansyah Nur Sahaya di Jawa Tengah melakukan penelitian dengan menggunaan Metode Analisis Hierarki Proses (AHP) dengan tujuan untuk mengetahui program manakah yang perlu didahulukan atau diprioritaskan dalam upaya mengembangkan usahatani kedelai. Dalam penelitian tersebut digunakan beberapa pihak yang dianggap berkompeten yang mewakili. Dalam penelitiannya menggunakan 5 kriteria yaitu 1) kriteria budidaya, 2) kriteria pengadaan dan distribusi input dan 3) kriteria kelembagaan tani dan penyuluh, 4) kriteria pasca panen dan 5) kriteria pemasaran. 1. Kriteria BudidayaHasil yang diperoleh berdasarkan kriteria budidanya ditunjukkan sebagai berikut: a. Aspek peningkatan pengetahuan dan keterampilan budidaya kedelai yang dipandang utama. Secara implisit terpilihnya aspek ini menunjukan bahwa permasalahan utama dalam kriteria budidaya adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan budidaya kedelai. Oleh karena ituperlu adanya upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan budidaya.b. Aspek pendampingan kepada petani untuk menerapkan teknologi budidaya kedelai yang tepat terpilih pada urutan yang kedua. Hal ini berkaitan dengan dibutuhkannya teknologi budidaya seperti penggunaan mesin maupun alat yang dapat meningkatkan hasil panen kedelai para petani.c. Aspek penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati menduduki urutan yang ke tiga. Hal ini berkaitan dengan pertanian yang ramah lingkungan serta terwujudnya hasil pertanian kedelai yang aman dan sehat untuk konsumen yang mengkonsumsi kedelai. d. Aspek pengunaan benih kedelai berlabel menduduki urutan terakhir. Hal ini disadari oleh fakta dilapangan selama ini penggunaan kedelai berlabel dengan kedelai non label sama-sama menghasilkan kedelai yang bermutu, akan tetapi para petani lebih memilih kedelai non label. Hal ini disebabkan kalau ingin menggunakan kedelai berlabel membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperoleh bibitnya karena bibit kedelai tersebut harus di uji dan diverifikasi.2. Kriteria Pengadaan dan Distribusi Input, Hasilnya menunjukkan bahwa Aspek pemberian subsidi input produksi sesuai kebutuhan petani menjadi prioritas utama karena untuk mengembangkan usahatani kedelai, dibandingkan yang lainnya seperti pembukaan kesempatan seluas-luasnya kepada pihak swasta untuk berinvestasi dalam bidang pupuk dan menyerahkan harga pada mekanisme pasar (tanpa subsidi), penyediaan sarana produksi pertanian yang tepat waktu, jumlah, harga, dan mutu. Pemberian subsidi pupuk terkadang dilakukan secara parsial menyebabkan timbulnya exces demand (tuntutan yang berlebihan). Suplai pupuk bersubsidi dalam jumlah yang kecil mendorong timbulnya pasar gelap, jadi menurut responden aspek pemberian subsidi input produksi seperti subsidi pupuk perlu mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.3. Kriteria Kelembagaan Tani dan Penyuluh. Hasilnya menunjukkan bahwa aspek penyuluhan untuk penguatan kelembagaan petani menjadi prioritas yang lebih utama dibandingkan yang lainnya (Pemberian insentif bagi kelembagaan tani yang aktif, Revitalisasi kelembagaan penyuluhan, Memaksimalkan pemberdayaan kelembagaan petani). Penguatan kelembagaan petani dilakukan melalui forum pertemuan antara kelompok tani dengan dinas maupun lembaga swasta yang memiliki peran dalam pengembangan usahatani kedelai.4. Kriteria kriteria paca panen. Hasilnya menunjukkan bahwa aspek pemberian bantuan mesin pengering kepada kelompok tani menjadi prioritas utama dibandingkan yang lainnya (Penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran petani melakukan penanganan pasca panen yang tepat, dan Pengendalian harga kedelai). Fakta menunjukan rusaknya hasil panen dikarenakan kurangnya bantuan mesin pengering pada saat curah hujan yang sangat tinggi. Bantuan mesin pengering mutlak diperlukan untuk meminimalkan tingkat kehilangan hasil dan mempertahankan kualitas hasil panen biji kedelai.5. Kriteria PemasaranHasilnya menunjukkan bahwa aspek bantuan permodalan bagi kelompok tani untuk pembelian kedelai menjadi prioritas utama dibandingkan yang lainnya (Pembentukan kemitraan kelompok tani dengan pedagang besar, dan Pembentukan kemitraan kelompok tani dengan pabrik tahu atau pengguna kedelai lainnya secara langsung). Bantuan modal untuk pembelian kedelai dimaksudkan untuk mengurangi rantai pemasaran yang terlalu panjang dari petani sampai dengan konsumen. Melalui fasilitas bantuan permodalan kelompok ini diharapkan kelompok tani dapat membeli biji kedelai, sehingga petani tidak menjual kedelai secara perorangan kepada pedagang besar atau industri pengolahan kedelai. Hal ini diharapkan dapat menaikan posisi tawar petani dalam hal pemasaran biji kedelai. KesimpulanSimpulan Penelitian tentang pengembangan usahatani kedelai di Provinsi Jawa Tengah sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional yang dilakukan terhadap 12 key person (pihak yang dianggap berkompeten) yang terdiri dari unsur petani kedelai, pemerintah bidang pertanian, peneliti pertanian, akademisi, pengusaha pengguna kedelai, dan masyarakat. Mempergunakan bantuan alat Analisis Hirerarki Proses (AHP). Memberikan kesimpulan bahwa a. Pengembangan usahatani kedelai di Provinsi Jawa Tengah tersusun atas beberapa kriteria program yang diprioritaskan dalam pembentukannya yaitu pertama kriteria budidaya (nilai bobot 0,537), kedua kriteria input (nilai bobot 0,220), ketiga kriteria lembaga (nilai bobot 0,110), keempat kriteria pasca panen (nilai bobot 0,058), dan kelima kriteria pemasaran (nilai bobot 0,040). b. Hasil analisis melalui AHP terpilihnya kriteria budidaya sebagai prioritas utama mencerminkan bahwa pengembangan usahatani kedelai di Provinsi Jawa Tengah sangat erat kaitannya dengan masalah budidaya. Hal ini didasari melalui fakta dilapangan bahwa petani kedelai di Provinsi Jawa Tengah memiliki pengetahuan yang rendah mengenai usahatani yang dikerjakannya. Penyunting: Yulia Tri S email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber:1) http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jejak dengan judul Strategi Pengembangan Usahatani Kedelai Untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Indonesia, ditulis oleh Bayu Rizky Pratama?, Hardiansyah Nur Sahaya dariFakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia 2) http://sigmaompex.blogspot.co.id/2015/07/produksi-padi-jagung-dan-kedelai.html