Wereng merupakan salah satu hama utama tanaman padi. Hama wereng umumnya menyerng dengan cara menghisap cairan yang ada dalam tumbuhan. Selain itu, wereng juga menjadi pembawa (vektor) bagi penularan penyakit lain, khususnya dari kelompok virus. Wereng coklat (Nilaparvata lugens) atau wereng batang coklat (WBC) salah satu jenis wereng yang paling banyak menyerang tanaman padi. Wereng coklat menyerang tanaman padi dengan cara mengisap cairan tanaman yang menyebabkan daun menguning, kering dan akhirnya mati. Selain itu, hama ini merupakan pembawa dan perantara penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa. Sejak tahun 1985, hama ini menjadi hama penting tanaman padi di Indonesia dan serangannya telah mengancam target swasembada beras. Beberapa pemicu serangan hama wereng coklat diantaranya: • Pola pertanaman yang tidak serempak• Menanam varietas rentan wereng• Pemakaian pupuk nitrogen (Urea, ZA) yang berlebihan serta pengairan yang selalu tergenang sepanjang fase pertumbuhan tanaman padi). • Terjadinya perubahan biotipe wereng coklat. • Secara tidak sengaja para petani menggunakan insektisida yang diduga sudah tidak manjur atau adanya pelemahan dosis dan konsentrasi pemakaian insektisida, • Gagalnya pengendalian di daerah hot spot (Pandeglang, Subang, Pati, Klaten, Jember dan Banyuwangi) yang disebabkan kurangnya perhatian dan monitoring dan pengendalian dini. • Secara lingkungan, di lapangan ledakan wereng coklat diakibatkan terjadinya kehilangan rantai makanan terutama di jalur pantura. Beberapa kiat kebijakan pengelolaan pertanaman padi di lapangan sebagai sebagai berikut: 1. Perhatikan Daerah Hama GandaPengendalian harus terencana dan dilakukan sejak awal. Diantaranya dengan penggunaan varietas tahan (Inpari I, 3, 6 Jete, 1, 13, dan IR66), waktu tanam yang tepat, pergiliran varietas, dan manipulasi musuh alami. Pengendalian dari satu tempat ke tempat lain akan berbeda, tergantung dari hama dan penyakit yang menyerang, dan tergantung dari sarana dan prasarana produksi.Pengendalian dengan memperhatikan daerah hama ganda, dilakukan dengan penelaahan kejadian di lapangan. Pengelompokan didasarkan pada jumlah hama yang menyerang. Saat ini, telah dibuat empat kelompok daerah hama, yaitu: • Daerah satu hama-penyakit = single dangerous pest area (SDPA). Wilayah yang termasuk kategori ini dibedakan menjadi dua, yaitu: SDPA tungro, meliputi wilayah Sulawesi Selatan, NTT, Maluku, dan Papua. Kedua adalah SDPA wereng coklat, meliputi wilayah: Aceh, Sumut, Riau, dan Lampung.• Daerah dua hama-penyakit = double dangerous pests areas (DDPA). Dua jenis hama penyakit yang menyerang adalah tungro dan wereng coklat. Yang termasuk wilayah ini diantaranya: Sumbar, jambi, Sumsel, jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, Kalbar, Kalsel, kaltim, Sulut, Sulteng, Sultera, NTB• Daerah tiga hama-penyakit = triple dangerous pests areas (TDPA). • Daerah empat hama-penyakit = Quartet dangerous pests areas (QDPA). Daerah serangan empat hama penyakit ini berada di pulau Jawa, terbentang dari Banten sampai Jawa Timur termasuk QDPA (wereng coklat, penggerek, penyakit kerdil hama dan hawar daun bakteri). 2. Pola Pertanaman SerempakPertanaman padi serempak dapat menghindari penumpukan hama di suatu daerah atau pada satu titik serangan yang selanjutnya akan menyebar menjadi hama pada areal yang lebih luas. Pertanaman serentak tidak dibatasi oleh wilayah administratif. Ini disebabkan karena kemampuan terbang wereng batang coklat dapat mencapai 200 km dari daerah titik serangan sampai ke daerah lain yang terdapat pertanaman padi muda. Bila suatu daerah mengalami panen atau puso, maka wereng makroptera (bersayap panjang) dalam jumlah banyak akan terbang pindah ke daerah yang terdapat pertanaman padi muda untuk berkembang biak. 3. Monitoring, Lampu Perangkap dan Pengendalian Dini Hama dalam SL PHTMonitoring penting dilakukan untuk memantau perkembangan wereng batang coklat. Lakukan monitoring sesegera mungkin, hal ini disebabkan perkembangan populasi wereng coklat sangat cepat. Jangan kaget jika perkembangan populasi wereng sangat tinggi, karena satu pasang wereng coklat bersayap panjang yang bermigrasi dan hinggap pada tanaman padi maka dalam kurun waktu 20 hari (generasi ke-1) hanya mencapai 146 ekor, kurun waktu 40 hari (generasi ke-2) mencapai 5.015 ekor, sedangkan pada kurun waktu 62 hari mencapai generasi ke-3 sebagai generasi penghancur mencapai 14.727 ekor.Untuk mengatasi terjadinya ledakan diperlukan pengendalian tuntas pada generasi ke 1 atau paling lambat harus tuntas pada generasi ke-2. Bila pengendalian sudah generasi ke-3, dapat dipastikan pengendalian tersebut tidak akan berhasil. Oleh karena itu kepada seluruh petani, PHP, PPL dan petugas lapang lainnya harus waspada dan pandai mencermati batas generasi. 4. Tuntaskan Pengendalian di Daerah Hot Spot dan Perubahan SOP Bantuan InsektisidaDaerah hot spot wereng coklat adalah daerah dimana selalu terjadi ledakan wereng coklat untuk setiap tahunnya. Besarnya ledakan tergantung dari musim dan pendukung penyebab ledakan. Daerah hot spot wereng coklat diantaranya di Kabupaten Pandeglang di Banten, Karawang dan atau Subang di Jawa Barat, Klaten dan Pati di Jawa Tengah, Jember serta Banyuwangi di Jawa Timur, dan Simalungun di Sumatera Utara. Di lain pihak terdapat titik (bercak-bercak) serangan wereng coklat disekitar daerah hot spot. Kalau kita dapat mengamankan daerah tersebut pada saat generasi ke-1, ada kemungkinan besar tidak akan terjadi ledakan.Selama ini standar operasional prosedur (SOP) pengeluaran bantuan diberikan saat sudah terjadi ledakan yang merugikan dan tidak dikeluarkan saat ada serangan sedang apalagi ringan. Oleh karena itu kalau pertanaman padi akan diamankan pada generasi ke-1, maka SOP bantuan harus segera dirubah yaitu diberikan pada saat pengendalian dini dan bukan saat pemadam kebakaran khususnya didaerah hot spot. 5. Waspada terhadap Migrasi Wereng Coklat dan La NinaMigrasi wereng coklat secara besar-besaran terjadi pada saat akan mencapai hopperburn baik pada masa pertumbuhan tanaman padi maupun saat perkembangan tanaman. Migrasi wereng coklat dapat terjadi jarak dekat (hanya belasan kilometer), jarak jauh (mencapai 200-300 km), dan jarak sangat jauh. Lamanya waktu penerbangan migrasi mencapai 10 hari dan 10 malam, sehingga populasi wereng coklat imigran pada tanaman muda makin bertambah. Pada tanaman muda dari varietas yang rentan dengan populasi imigran tersebut terjadi hopperbun setelah satu minggu penerbangan. Di lain pihak pada tanaman muda dari varietas yang tahan dan agak tahan yang dikendalikan dengan insektisida masih dapat bertahan, namun populasi nimfanya setelah 10 hari dari awal penerbangan mencapai 100-500 ekor dan menimbulkan puso.Ketidak seragaman pertanaman musim hujan diikuti dengan curah hujan tinggi memasuki musim kemarau atau terjadi La-Nina pada pertanaman MK 1998 telah merangsang ledakan hama wereng coklat dan wereng punggung putih. Hal ini menunjukkan bahwa La-Nina atau hujan di musim kemarau akan memicu ledakan wereng coklat. Sesuai dengan pembahasan di atas akan memperkuat bahwa adanya curah hujan yang tinggi, kelembaban tinggi dan suhu rendah merupakan keadaan yang cocok untuk perkembangan hama wereng coklat. Sumber : Prof. Dr. Baehaki S.E. Normalisasi dan Pengendalian Dini Hama Wereng Coklat Pengaman Produksi Padi Nasional, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com