Strategi Pemberian Air Tanaman Jagung Dalam Kondisi Defisit Air
Dengan memperhitungkan tingkat ETP (evapotranspirasi potensial) dalam pemberian air irigasi, perkiraan deplesi air pada fase-fase pertumbuhan tanaman adalah 40% pada fase pertumbuhan awal, antara 55 dan 65% pada fase 1, fase 2, dan fase 3, serta 80% pada fase pemasakan. Menurut hasil penelitian FAO, jumlah pemberian air tanaman jagung dalam satu musim tanam berkisar antara dua kali sampai lima kali. Waktu pemberian air yang tepat sesuai dengan tingkat ketersediaan air disajikan pada Tabel 3 (FAO, 2001). Dalam kondisi dimana tidak ada hujan dan ketersediaan air irigasi sangat terbatas maka pemberian air irigasi dapat dikurangi dan pemberian difokuskan pada periode pembungaan (fase 2) serta pembentukan biji (fase 3), dan pemberian air selama fase vegetatif dapat dikurangi. Dengan irigasi yang tepat waktu dan tepat jumlah maka diharapkan akan didapatkan hasil produksi antara 6-9 ton/ha (kadar air 10-13%), dengan efisiensi penggunaan air antara 0,8-1,6 kg/m3. Teknik pengairan pada tanaman jagung Linsley dan Fransini (1986) membagi metode pemberian air tanaman kedalam lima cara yaitu : Pemberian air tanaman jagung model genangan Pemberian air tanaman jagung model alur (furrow) Pemberian air tanaman jagung model bawah permukaan (sub surface) Pemberian air tanaman jagung model pancaran (sprinkler) Pemberian air tanaman jagung model tetes (drip) Diantara model pemberian air yang disebutkan di atas, pemberian air dengan metode alur paling banyak diterapkan dalam budidaya jagung. Pemberian air dengan metode alur merupakan cara pemberian air melalui alur-alur sepanjang baris tanaman. Dengan menggunakan alur untuk mendistribusikan air, kebutuhan pembasahan hanya sebagian dari permukaan (1/2–1/5) sehingga mengurangi kehilangan air akibat penguapan, mengurangi pelumpuran tanah berat, dan memungkinkan untuk mengolah tanah lebih cepat setelah pemberian air. Kegiatan perbaikan efisiensi irigasi alur pada tanaman jagung telah banyak dilakukan. Pertama-tama dilakukan pengujian tingkat kemampuan tanah untuk melewatkan air ke daerah perakaran tanaman (infiltrasi). Berdasarkan hasil pengukuran didapatkan jumlah air maksimum yang dapat ditampung oleh tanah hanya 32,5 mm (325 m3/hari) dan pemberian air yang berlebih tidak dapat lagi dimanfaatkan oleh tanaman. Berdasarkan data tersebut maka dibuat model matematik untuk memprediksi bentuk dan dimensi saluran dengan tingkat infiltrasi yang seragam sepanjang lahan. Hasil uji model menghasilkan dimensi saluran optimal adalah lebar = 32 – 34 cm dan kedalaman alur =21 -25 cm dengan kelerengan saluran 0,8 % (Aqil et al., 2004). Selanjutnya dilakukan pembuatan alat pembuat alur dalam dua type yaitu PAI-M1 dan PAI-M2 Admin Kab. Bima Hartanto Ts. SPt. MM