Loading...

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA WERENG BATANG COKLAT

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA WERENG BATANG COKLAT
LATAR BELKANG Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) tergolong hama yang sangat berbahaya bagitanaman padi. Hama ini telah menjadi hama global (the very important global pest). Pada tahun 2010, selain Indonesia, hama ini juga menyerang tanaman padi di China, Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Malaysia, Filipina, Jepang dan Korea. Wereng coklat merupakan hama laten yang sulit dideteksi, tetapi keberadaannya selalu mengancam kestabilan produksi padi nasional. Hama ini sangat sulit diberantas atau dikendalikan karena memiliki berbagai keunggulan yaitu mudah beradaptasi dan mampu membentuk biotipe baru dengan mentransfer virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput yang daya rusaknya lebih hebat. Hama ini juga memiliki kemampuan mempertahankan generasi yang sangat baik. Serangan hama wereng, terutama Wereng Batang Coklat (WBC) dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi petani, karena jika tingkat serangan yang terjadi mencapai lebih dari 90% populasi tanaman dapat mengakibatkan gagal panen atau puso. Wereng coklat dapat menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan, mulai dari pembibitan sampai menjelang panen. Serangan yang berat dapat mengakibatkan puso (hopperburn) dan menggagalkan panen. Faktor utama yang memberi sumbangan terhadap meningkatnya populasi dan serangan WBC dalam beberapa tahun terakhir adalah potensi biotis WBC yang tinggi, faktor abiotik, dan sistem budidaya padi yang mendukung berkembangnya populasi WBC. Ketiga faktor tersebut bekerja secara bersama-sama. Faktor yang optimum untuk perkembangan populasi WBC adalah tersedianya padi sepanjang tahun, jarak tanam yang rapat untuk varietas padi yang memiliki anakan banyak sehingga tercipta iklim mikro yang sesuai untuk perkembangan populasinya, pemakaian varietas yang memiliki hasil yang tinggi namun rentan terhadap WBC, pemberian pupuk N yang berlebihan, kondisi suhu lingkungan 18-30 ºC, kelembaban relatif antara 70 hingga 85 %, dan penggunaan insektisida dengan tidak bijaksana yang dapat menyebabkan terbunuhnya musuh alami dan menimbulkan masalah resistensi serta resurjensi pada populasi hama WBC. Tanam serempak dan waktu panen yang bersamaan dapat mencegah terjadinya kerusakan oleh WBC. Pengelolaan hama Wereng Batang Coklat (WBC) merupakan hama dengan perkembangan populasi cepat dan selalu mengancam produksi padi di Indonesia. Setiap tahun hama ini telah mengakibatkan kerusakan di berbagai daerah sentra padi, baik di Jawa maupun diluar Jawa dengan serangan yang makin meningkat. Oleh karena itu, langkah dini sesuai dengan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu perlu diterapkan untuk mengurangi resiko terjadinya ledakan WBC dan Virus yang ditularkannya. Karakteristik Wereng Batang Coklat 1. WBC dewasa mempunyai dua bentuk sayap, yaitu dewasa sayap panjang (makroptera) dan dewasa sayap pendek (brakhiptera). 2. Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang, dan emigrasi, sedangkan brakhiptera populasi penetap. 3. WBC mampu beradaptasi terhadap pergantian va - rietas tahan, dengan membentuk biotipe atau koloni baru. 4. Populasi WBC dapat meningkat lebih tinggi dengan aplikasi insektisida yang tidak bijaksana , karena dapat menimbulkan resistensi. Kerusakan Akan Terjadi Apabila : a. Hopper burn terjadi pada tanaman padi muda umur sekitar 30 hst, bila padat populasi imigran dipesemaian adalah 50 betina makroptera per 25 kali ayunan. Hopper-burn awal demikian terjadi bila waktu tanam tupang tindih karena perpindahan serangga makroptera dalam jumlah besar terjadi dari sawah yang sedang dipanen ke sawah yang sedang ditanami. b. Bila kepadatan imigran 2 – 5 betina per-rumpun pada umur 20 – 30 hst, hopperburn disebabkan oleh keturunannya terjadi pada umur 50 – 60 hst. c. Bila pertumbuhan populasi dimulai oleh imigran 0,2 – 0,5 betina per-rumpun pada umur 20 – 30 hst atau kepadatan brakhiptera betina pada umur 50 – 60 hst adalah 2 – 5 ekor per-rumpun, hopperburn biasanya terjadi setelah pembentukan bunga. Strategi Pengendalian WBC 1. Pengamatan dilakukan secara terprogram, sejak awal di pesemaian : a. Waspadai daerah endemis wereng coklat b. Waspadai adanya populasi WBC di pesemaian dan tanaman muda. c. Koordinasikan gerakan dan tingkatkan penyuluhan. 2. Pengendalian Pra-tanam a. Perencanaan pemilihan varietas tahan. b. Pemusnahan singgang/sisa tanaman yang terserang virus yang ditularkan WBC yaitu kerdil rumput dan kerdil hampa. a. Pemusnahan bibit yang terserang virus yang ditularkan WBC. FASE PESEMAIAN : A. pemantauan populasi WBC dan musuh alaminya. B. Gunakan agens hayati apabila ditemukan populasi WBC di bawah ambang pengendalian. FASE TANAM – ANAKAN MAKSIMUM : A. Tanamlah varietas yang telah terbukti tahan di daerah yang bersangkutan hindar kan penanaman varietas rentan maupun varietas pemicu. B. Eradikasi selektif tanaman yang terserang ringan s/d berat dan eradikasi total tanam -an yang terserang berat. C. Penggunaan agens hayati. D. penggunaan insektisida yang diijinkan apabila populasi WBC > 10 ekor/rpn pada tanaman umur < 40 hst atau populasi > 20 ekor/rpn tanaman pada tanaman berumur > 40 hst. Penulis : Ir. M. Samson Najib (Penyuluh Pertanian Kec. Plumpang)