Masalah dalam peningkatan produksi padi diantaranya adalah terjadinya serangan penyakit. Penyakit Blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea merupakan penyakit penting pada tanaman padi di Indonesia terutama pada tanaman padi gogo di lahan kering. Namun akhir-akhir ini banyak dilaporkan bahwa penyakit ini banyak ditemukan pada padi sawah beririgasi, terutama di Jawa (Sudir at al. 2013). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh munculnya jamur Pyricularia grisea ras baru yang mampu beradaptasi dan berkembang pada padi sawah irigasi. Jamur Pyricularia grisea mempunyai keragaman genetik yang tinggi dan perkembangan seluler dan morfologi yang sangat adaptif pada tanaman padi yang diinfeksi.Berkembangnya penyakit blas pada tanaman padi sawah diduga kuat berkaitan dengan perubahan teknik budidaya padi, khususnya penggunaan pupuk N dosis tinggi serta penenaman varietas yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit ini.Jamur patogen Pyricularia grisea mampu menyerang tanaman padi pad berbagai stadia pertumbuhan dari benih sampai fase pertumbuhan malai (generatif). Pada tanaman padi stadium Vegetatif biasanya pathogen menginfeksi bagian daun yang disebut blas daun (leaf blas). Pada stadium generatif jamur Pyricularia grisea selain menginfeksi daun juga leher malai disebut blas leher (neck blas) . Infeksi patogen juga dapat terjadi pada bagian buku tanaman padi yang menyebabkan batang patah dan kematian yang menyeluruh pada batang atas dari buku yang terinfeksi.Kerugian hasil yang diakibatkan oleh penyakit blas Pyricularia grisea sangat bervariasi tergantung dari varietas yang ditanam, lokasi, musim dan teknik budidaya. Serangan pada fase vegetatif menyebabkan tanaman mati, dan pada fase generatif dapat menyebabkan kegagalan panen hingga 100%. (Sobrizal et al. 2007).Gejala PenyakitPada umumnya penyakit blas menyerang tanaman padi pada bagian daun dan leher malai. Penyakit blas yang menyerang daun disebut sebagai blas daun, sedangkan yang meyerang leher malai disebut blas leher (Santoso at al. 2007). Bentukkhas dari bercak blas adalah berbentuk elips dengan ujungnya agak runcing seperti membentuk belah ketupat. Bercak yang telah berkembang, bagian tepi berwarna coklat dan bagian tengan berwarna putih keabu-abuan. Bentuk dan warna bercak bervariasi tergantung pada keadaan sekitarnya, kerentanan varietas dan umur bercak. Bercak bermula kecil berwarna hijau gelap, abu-abu sedikit kebiru-biruan. Bercak ini akan terus berkembang dan membesar pada varieta yang peka, terlebih pada keadaan lembab. Bercak akan berkembang sampai beberapa millimeter berbentuk bulat atau elips dengan tepi warna coklat pada varietas dengan rekasi sedang. Infeksi pada leher malai menyebabkan pangkal malai menjadi busuk berwarna coklat keabu-abuan mengakibatkan malai patah dan gabah menjadi hampa. Kelembaban menjadi sangat penting untuk tibulnya gejala blas, baik pada daun maupun leher malai.Teknologi PengedalianPengendalian penyakit blas dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan teknik budidaya, yaitu penanaman varietas tahan dan penggunaan fungisida.Penggunaan vaietas tahan merupakan cara yang paling efektif, ekonomis dan mudah dilakukan. Pengendalian penyakit blas secara terpadu berdasa sifat epidemiologi pathogen meliputi (1) pengendalian alamiah dengan merekayasa teknik budidaya, yaitu menanam benih dan bibit sehat, mengatur waktu tanam yang tepat, mengatur cara tanam dan pemupukan, eradikasi lingkungan dari inang alternatif pathogen dan memanfaatkan jerami sebagai kompos (2) menanam varietas tahan sesuai dengan keberadaan ras pathogen, dan (3) pengendalian hayati dan kimiawi.(1) Penanaman benih dan bibit sehatDianjurkan benih yang berasal dari pertanaman terinfeksi penyakit blas gabah hasil panennya tidak digunakan sebagai benih. Benih yang dipakai dipersyaratkan lulus uji sertifikasi benih guna mencegah meluasnya penyakit blas. Apa bila sudah terdapat infeksi pada bibit,maka sebelum bibit ditanam dianjurkan disemprot terlebih dahulu dengan fungisida sehingga tidak menjadi sumber inokulum dan penyebaran jamur pathogen. Sebaiknya bibit yang sudah terifeksi jangan digunakan/ditanam.(2) Waktu tanam yang tepatPengaturan waktu tanam bertujuan untuk menghindari stadia heading pada saat banyak hujan dan embun. Di Indonesia faktor kelembaban udara perlu diperhatikan untuk menghidari serangan penyakit blas leher. Penyakit blas berat akan timbul apa bila udara lembab dan berembun pada suhu sekitar 30-32OC. Untuk itu diperlukan data penunjang iklim dan umur tanaman sebagai dasar penentuan waktu tanam yang tepat.(3) Cara tanamPertanaman yang terlalu rapat akan menciptakan kondisi lingkungan, terutama suhu,kelembaban, dan aerasi yang lebih menguntungkan perkembangan penyakit. Untuk memberikan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan penyakit blas dianjurkan jarak tanam dengan jajar legowo, sehingga akan mengurangi kelembaban disekitar kanopi pertanaman,mengurangi terjadinya embun dan gesekan daun antar tanaman sebagai media penularan pathogen.(4) Sanitasi lingkunganSanitasi lingkungan sawah dengan menjaga kebersihan dari gulma dan sisa tanaman yang terinfeksi merupakan yang dianjurkan.(5) Pemakaian jerami sebagai komposJamur Pyricularia grisea dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman padi/jerami dan biji-biji sisa tanaman padi sebelumnya sehingga sumber inokulum selalu tersedia dari musim ke musim. Tetapi apabila jerami dibenamkan dalam tanah sebagai kompos, miselia dan spora akan mati karena naiknya suhu selama proses dekomposisasi(6) PemupukanPertanaman yang dipupuk nitrogen (N) dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Namun sebaliknya dengan pupuk kalium (K) tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit hawar daun jamur. Untuk itu agar menggunakan pupuk N dan K secara berimbang dengan menghindari pemupukan N dosis tinggi.Ruslia Atamaja Sumber : Puslitbangtan - Balitbangtan 2014