Loading...

Strategi Tanam Pisang Di Lahan Endemi Hama Uret

Strategi Tanam Pisang Di Lahan Endemi Hama Uret
Pisang merupakan salah satu dari berbagai jenis buah-buahan tropis yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Syarat tumbuh yang toleran dalam lingkungan yang luas dan juga teknik budidaya yang relatif mudah, membuat pisang banyak dibudidayakan. Baik di lahan sawah, tegal maupun di pekarangan pun bisa tumbuh dengan baik. Seperti halnya, yang pernah dilakukan para petani dusun patilaler desa deyeng kec. Ringinrejo kab. Kediri, Jatim. Menurut petani, dalam hal budidaya pisang yang dalam hal ini varietas ambon dan raja secara umum tidaklah begitu sulit. Akan tetapi menurut petani di daerah tersebut, khusus untuk tanam pisang di lahan tegal atau pekarangan yang endemi hama uret, ada hal-hal khusus yang harus di perhatikan agar tanaman bisa tumbuh dengan baik. Untuk diketahui, lahan tegal atau pekarangan khususnya yang berada di daerah desa deyeng umumnya berpasir (komposisi pasirnya lebih banyak daripada tanah liat/lempung). Dimana secara ekologi, uret menyukai kondisi lingkungan tanah yang berpasir. Karena itu, menurut petani ada tiga kiat/langkah yang harus diperhatikan agar pertumbuhan pisang bisa maksimal tanpa mengabaikan teknis budidaya lainya, seperti halnya jarak dan ukuran lubang tanam, penyiraman, pemupukan dan pengendalian hama/penyakit. Adapun kiat tersebut adalah sebagai berikut :a. Waktu TanamWaktu tanam pisang sebaiknya dilakukan saat kemarau misal bulan juli, agustus atau september. Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan siklus hidup hama uret, dan agar saat periode kritis, bibit pisang tidak layu/mati karena pada bulan tersebut hama uret yang menjadi momok petani masih berbentuk pupa/kumbang kecil dan berada di lapisan tanah bawah (20 cm) sehingga pupa tersebut belum mampu/tidak memakan akar pisang. b. Kedalaman Lubang TanamUntuk menghindari serangan hama uret pada akar pisang, maka kedalaman lubang tanam haruslah juga menjadi perhatikan. Menurut pengalaman petani, kedalaman ideal lubang tanam adalah 75 cm (memanjang berbentuk parit). Hal ini mempuyai dua (2) tujuan, pertama; kedalaman tanah 75 cm, struktur tanahnya remah, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan akar awal bibit pisang. Kedua; kedalaman tersebut jauh dari jangkauan habitat hama uret. Karena hama uret tidak mampu hidup di kedalaman tanah lebih dari 20 s/d 30 cm. c. Aplikasi Sekam Padi di Sekitar PerakaranSetelah bibit ditanam (30 HST), hal yang harus diperhatikan adalah perlunya pemberian sekam padi. Sekam tersebut bisa di berikan saat aplikasi pupuk kandang saat tanam atau langsung pada lubang tanam dengan cara menyadurnya terlebih dahulu dengan tanah di luar lubang.Pemberian sekam ini memiliki tiga tujuan, yaitu sekam padi memiliki sifat absorbsi sehingga sangat baik sebagai media penyimpan air pada musim kemarau sehingga saat penyiraman/irigasi, air tersebut terserap sekam sehingga kelembaban tanah di sekitar perakaran tetap terjaga. Selain itu, aplikasi sekam juga mampu menjaga porositas tanah, sehingga tanah tidak padat dan menjadikan pertumbuhan perakaran bibit pisang lebih maksimal. Terakhir, keberadaan sekam disekitar perakaran (lubang tanam) membuat ruang gerak hama uret tidak lagi bebas, karena bentuk sekam itu lancip, sehingga bagian tubuh uret tidak tahan terkena tusukan sekam sebagai akibat dari pergerakan uret itu sendiri di dalam tanah. Selain itu, gangguan semut yang ada disekitar perakaran karena sekam padi yang masih tersisa pecahan beras mengundang semut, terutama semut merah (gramang)(Penulis : Sugijantoro, SP)