Rerata konsumsi gula dunia dalam kurunwaktu 1979/1980 hingga 1983/1984 sekitar 92,2 juta ton pertahun. Sedangkan rerata konsumsi gula dunia pertahun dalam kurun waktu antara 1989/1990 - 1991/1992 sekitar 108,71 juta ton yang berarti 18 % lebih tinggi. Gambaran ini menunjukan masih adanya kecenderungan konsumsi gula yang meningkat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, laju peningkatan konsumsi gula menunjukkan gejala penurunan. Rerata laju kenaikan konsumsi gula dunia dalam kurun waktu 1983-1987 sekitar 2,84 % per tahun. Sedangkan dalam kurun waktu 1988-1992 rerata laju kenaikan konsumsi gula dunia tersebut hanya 0,94 % per tahun. Konsumsi gula 10 negara pemakai gula terbesar mencakup sekitar 65,5 % dari konsumsi gula dunia. Negara MEE dan Brasil termasuk kelompok negara utama pemakai gula, namun juga termasuk kelompok negara penghasil dan pengekspor gula utama. India, China, Amerika Serikat, Meksiko dan CIS termasuk negara pemakai gula utama, tetapi juga merupakan negara-negara yang termasuk penghasil gula utama. Sedangkan jepang, Indonesia dan Pakistan merupakan negara pemakai gula utama yang tidak termasuk negara penghasil dan pengekspor gula utama dunia. Pakistan merupakan negara pendatang baru pada kelompok negara pemakai gula utama yang telah menggeser kedudukan Polandia. Ditinjau dari porsi konsumsi negara pemakai gula utama, konsumsi gula dunia terpusat di negara-negara tertentu dengan tingkat konsumsi yang kira-kira sama dengan tingkat konsentrasi kegiatan produksinya. Tingkat konsumsi gula pada umumnya meningkat dengan naiknya tingkat pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi suatu negara sampai tingkat tertentu, tetapi kemudian pada tingkat pendapatan tertentu yang relatif tinggi, konsumsi gula cenderung menurun karena sebagian masyarakat yang berpendapatan tinggi mengurangi konsumsi gulanya. Gejala umum ini tampak juga pada perkembangan konsumsi gula negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Terpusatnya konsumsi gula dunia, penurunan konsumsi gula negara maju dan meningkatnya konsumsi di negara-negara berkembang dapat berpengaruh pada struktur pergulaan dunia dimasa depan terutama pada perdagnagnnya.DITINJAU DARI PERDAGANGAN : Dalam perdagangan gula dipenuhidengan campur tangan pemerintah di seluruh dunia. Oleh karena itu faktorfaktor politik dan kekuatan sangat mempengaruhi volume dan polaperdagangan gula dunia. Analisis ekonomi terhadap perdagangan gulainternasional selalu terkait dengan faktor politik dan kekuatan. Dengan demikian persoalan pergulaan internasional sebagian besar terletak pada segi perdagangannya. Volume gula yang diperdagangkan di dunia, rerata setahun dalam kurun waktu 1990-1992 sekitar 30,3 juta ton, 65 % diantaranya diekspor oleh 10 negara pengekspor gula terbesar . Sejak tahun enampuluhan jelas dapat dilihat adanya pergeseran kedudukan negara pengekspor gula utama. Negara-negara Philipina, Republik Dominika, Taiwan, Peru dan Polandia yang semula merupakan negara-negara pengekspor Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat. Email : agussutarman56@gmail.comSumber : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan berbagai sumber tulisan.