Sepanjang sejarah perdagangan gula di dunia, selalu terkait dengan campur tangan pemerintah. Produksi dan konsumsi gula di dunia yang terpusat di negara-negara tertentu menimbulkan arus dan pola perdagangan yang khas. Akibat dari banyaknya campur tangan pemerintah, situasi pergulaan dunia sangat peka terhadap perubahan situasi politik di berbagai kawasan. Dengan diperlakukannya GATT yang merupakan deregulasi global dibidang perdagangan internasional kearah liberalisasi, jelas akan mempengaruhi struktur pergulaan dunia. Uraian berikut merupakan gambaran perkiraan struktur pergulaan dunia yang dikembangkan, Data dalam World Sugar Statistics antara tahun 1987/1988 dan 1991/1992 menunjukan bahwa rerata produksi gula dunia dalam kurun waktu tersebut sekitar 109,8 juta ton (raw veleu). Angka rerata produksi itu sedikit lebih rendah dari pada produksi gula tahun tanam 1991/1992, yakni sekitar 115,6 juta ton. Berdasrkan 2 angka produksi tersebut secara kasar tampak bahwa produksi gula dunia cenderung meningkat. Rerata laju kenaikan produksi gula dalam kurun waktu 1987 – 1992 sekitar 2,12 % per tahun. Pada awal tahun delapan puluhan, Filipina dan Australia termasuk 10 Negara penghasil gula dunia terbesar, tetapi pada akhir tahun delapan puluhan tersebut kedudukannya digeser oleh Thailand dan Afrika Selatan. Disamping itu pada awal tahun delapan puluhan, sumbangan 10 negara penghasil gula terbesar sekitar 68,0 %. Sedangkan rerata produksi gula yang dihasilkan 10 negara penghasil gula terbesar dalam lima tahun (1988-1992) terakhir sekitar 68,1 % dari produksi gula dunia. Fakta ini menunjukan bahwa kegiatan produksi gula dunia terpusat di negara-negara tertentu dan terjadi pergeseran-pergeseran. Mundurnya industri gula di Filipina disebabkan oleh ketidak stabilan politik dan ekonomi. Sedang merosotnya produksi gula Australia tampaknya lebih banyak berkaitan situasi perkembangan pasar gula dunia yang kurang menguntungkan. Hal ini pula yang menyebabbkan kedudukan Brasil dalam 10 negara penghasil gula terbesar juga mengalami penurunan, disamping oleh situasi perekonomian di dalam negerinya. India, Cina dan Thailand merupakan 3 negara diantara 10 negara penghasil gula terbesar yang menunnjukan peningkatan yang pesat. Peningkatan produksi gula India disebabkan 2 faktor yaitu (1) peningkatan luas area tanaman tebu (dari 2,7 juta ha pada tahun 1980/1981 menjadi 3,7 juta ha pada tahun 1990/1991), dan (2) kemajuan teknologi seperti tercermin dari angka produktivitas (dari 5,78 ton tebu / ha dengan rendemen 10,84 pada tahun 1980/1981, menjadi 65,3 ton tebu/ha denga rendemen 10,71 pada tahun 1990/1991. Namun kontribusi peningkatan teknologi ini relatif kecil. Pertumbuhan industri gula di cina tampak erat kaitannya dengan reformasi ekonomi sejak tahun 80-an. Disamping itu adanya pengembangan industri gula kedaerah-daerah potensial dan Xinjiang, serta daerah Zanziang. Dengan perkembangan industri gula tersebut produksi gula di cina meningkat lebih dari 2 kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (dari sekitar 4,18 juta ton pada tahun 1982/1983 menjadi 8,52 juta ton pada tahun 1990/1991). Munculnya Thailan sebagai negara penghasil gula utama pada akhir tahu 80-an terutama karena perluasan area tanaman tebu disamping adanya produktivitas yang meningkat sebagai hasil dari pengembangan teknologi. Luas area tanaman tebu di Thailand meningkat 66,5 % dari tahun 1981/1982 sampai dengan tahun 1991/1992, sementara produksi gulanya meningkat 82,1 %. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat. Email :agussutarman56@gmail.comSumber : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan berbagai sumber tulisan.