STUDI KELAYAKAN USAHA PRODUKSI INSEKTA (INSEKTISIDA NIKOTIN BATANG TEMBAKAU) UNTUK PENGENDALIAN WERENG BATANG COKLAT Moch. Kosim, S.TPPenyuluh Pertanian Dinas Tanaman Pangan Horikultura dan Perkebunan Kabupaten JemberEmail: kosimgemilang@gmail.com ABSTRACT The climate anomaly phenomenon and the farmers unfriendly behavior has triggered the explosion of pests and diseases in the agricultural sector. In 2013, the extent of controlling stem brown planthopper (Nilaparvata lugens) attack reached 171,119 ha. On the other hand, Indonesia occupies the fifth position as the largest tobacco producer in the world. Thus far the tobacco stem waste has not been utilized optimally. Therefore, the utilization of tobacco stem waste is interesting to be studied. This research uses literature study method. The purpose of this study is to increase the economic value of tobacco stem waste for the production of INSEKTA (Insecticide Nicotine Tobacco Stem). The nicotine extraction from tobacco stems using water solvent runs optimally at the extraction temperature of 80oC - 90oC (Sri Subenry, 2010). Tuti, HK., Et al. (2014) explains that the tobacco plant waste extracts can be used to control stem brown planthopper pests (Nilaparvata lugens). Production of INSEKTA botanical pesticides is done by using distillation machine of 50 Kg capacity. The cost total of one production process IDR 134.000, - and profit generated IDR. 116.000, -. This business yields Profitability Index [PI] 1.86. The high incidence of stem brown planthopper pest (Nilaparvata lugens) attack and the market demand for friendly environmental pesticides make this business profitable and feasible to develop. Keywords: Tobacco stem waste, botanical pesticides, business feasibility ABSTRAK Fenomena anomali iklim dan perilaku petani yang tidak ramah lingkungan menjadi pemicu ledakan hama dan penyakit pada sektor pertanian. Tahun 2013, luas pengendalian serangan hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) mencapai 171.119 Ha. Disisi lain, Indonesia menempati posisi ke-5 sebagai produsen tembakau terbesar di dunia. Selama ini limbah batang tembakau tidak dimanfaatkan dengan optimal. Untuk itu pemanfaatan limbah batang tembakau menarik untuk dikaji. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan nilai ekonomis limbah batang tembakau untuk produksi INSEKTA (Insektisida Nikotin Batang Tembakau). Pengambilan nikotin dari batang tembakau menggunakan pelarut air berjalan optimal pada suhu ekstraksi 80oC - 90oC (Sri Subenry, 2010). Tuti, HK., dkk., (2014) menjelaskan ekstrak limbah tanaman tembakau dapat digunakan untuk mengendalikan hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens). Produksi pestisida nabati INSEKTA dilakukan dengan menggunakan mesin destilasi kapasitas 50 Kg. Total biaya untuk satu kali proses produksi Rp 134.000,- dan laba yang dihasilkan Rp. 116.000,-. Usaha ini menghasilkan Profitability Index [PI] 1,86. Tingginya serangan hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) dan tuntutan pasar terhadap pestisida yang ramah lingkungan menjadikan usaha ini menguntungkan dan layak untuk dikembangkan. Kata kunci: Limbah batang tembakau, pestisida nabati, kelayakan usaha