Loading...

Study Banding Ternak Kambing PE Di Kabupaten Tulung Agung

Study Banding Ternak Kambing PE Di Kabupaten Tulung Agung
Bukan perkara mudah untuk mendapatkan solusi atas persoalan rendahnya taraf ekonomi masyarakat Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Kecamatan yang juga merupakan Kecamatan hutan di wilayah kerja KPH Wilis ini dikenal sebagai Kecamatan yang sangat tandus di musim kemarau. Akibatnya sumber pendapatan utama masyarakat hanyalah pertanian palawija di musim penghujan saja, dan itupun sepenuhnya mengandalkan lahan hutan karena rendahnya pemilikan lahan masyarakat. Karenanya tak mengherankan jika tekanan sosial terhadap sumberdaya hutan dan segala akibatnya menjadi begitu tinggi. Namun demikian hal tersebut tidak menyurutkan tekad Gapoktan Bathoro Sejati bersama-sama dengan Kelompok Tani dan jajaran pemerintah Kecamatan Ngebel untuk mencari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Budidaya ternak merupakan salah satu solusi yang diharapkan bisa efektif menjawab persoalan mendasar yang sudah sekian lama dihadapi masyarakat Ngebel. Setelah sebelumnya diawali dengan menggugah kesadaran akan perlunya menyiapkan tanaman hijauan makanan ternak dengan melakukan penanaman bersama di alur hutan. Studi banding dilakukan dengan objek peternakan kambing peranakan etawa (PE) Gapoktan Bathoro Sejati, di Kabupaten Tulung Agung, Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 2013 tersebut diikuti oleh 30 peserta. Peserta studi banding sangat antusias mendengarkan penjelasan dari para pelaku usaha ternak PE di Tulung Agung, baik tentang aspek teknis budidaya maupun aspek kelola bisnisnya. Tak lupa pula dijelaskan tentang betapa bergantungnya budidaya ternak dengan kelestarian sumberdaya hutan sebagai sumber pakan. Antusiasme mereka pun disambut sangat baik oleh tuan rumah. Bahkan tuan rumah mempersilakan jika studi banding tersebut segera ditindaklanjuti dengan magang singkat agar diperoleh pemahaman sekaligus ketrampilan yang cukup, mengingat budidaya kambing PE adalah hal yang relatif baru bagi warga Ngebel. Studi banding hari itu memang tidak lama, namun setidaknya mampu membuka cakrawala pemikiran dan kesadaran para pesertanya bahwa masih banyak sumber perekonomian yang bisa dijadikan penghidupan dengan mengoptimalkan potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya hutan sebagai pendukung utamanya. Peternakan merupakan salah satunya. Kesadaran yang seolah membangunkan masyarakat Ngebel dari tidur panjangnya dalam keterpurukan perekonomian karena keterbatasan sumberdaya, untuk kemudian melangkah menuju kehidupan yang lebih baik selaras dengan membaiknya sumberdaya hutan di wilayah pangkuannya. Sebuah upaya yang membutuhkan waktu tidak sebentar namun harus mulai dilakukan meskipun berawal dari langkah-langkah kecil. (admin_ponorogo/ Elip Widiyanti, SP)