Loading...

sumber inokulum penyakit busuk buah ada disekitar kita

sumber inokulum penyakit busuk buah ada disekitar kita
penyakit busuk buah kakao (bbk) sudah tidak asing lagi bagi petani kakao. karena penyakit ini hampir selalu ditemukan pada setiap hamparan kebun tanaman kakao. bahkan petani tidak bisa melakukan panen lantaran beratnya serangan dari penyakit ini. penyakit ini merupakan salah satu penyakit utama tanaman kakao, disamping menyerang buah, penyakit ini dapat juga menyerang batang tanaman. sebenarnya juga dapat menginfeksi pada bagian tanaman kakao lainnya seperti batang, daun, tunas, bahkan bunga. kendatipun demikian, dampak negatif serangan pada bagian tanaman lainnya tersebut tidak sebesar jika cendawan ini menginfeksi buah. buah yang terserang meliputi buah kecil maupun buah besar, tetapi kebanyakan tampak menyerang buah yang besar. buah kecil akan menjadi busuk dan menjadi rusak, akibatnya tidak dapat tumbuh dan berkembang. serangan pada buah besar disamping merusak daging buah, akan merusak sampai ke biji kakao, tetapi masih dapat dipanen dengan kualitas kurang baik. penyakit ini banyak menyerang tanaman pada areal kakao yang lembab dan naungan terlalu rimbun. kehilangan hasil akibat serangan penyakit ini dapat mencapai 41-53%. penyakit ini disebabkan oleh jamur phytophthora palmivora. faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit meliputi kelembaban udara, temperatur, curah hujan, naungan dan keberadaan binatang. spora jamur mudah berkecambah untuk menginfeksi buah kakao pada kelembaban nisbi udara lebih dari 95%. apabila terjadi hujan lebat akan menyebarkan spora dari sumber penyakit ke bagian tanaman yang masih sehat, disamping juga dengan adanya hujan menjadi pemicu terjadinya kelembaban tinggi di kebun dan suhu yang rendah semakin memicu tingkat serangan penyakit. pohon pelindung yang terlalu rimbun akan menghasilkan kelembaban tinggi di areal kebun kakao, sehingga tingkat serangan penyakit menjadi meningkat. beberapa jenis binatang dapat menyebarkan penyakit ke tempat lain atau tanaman kakao lain, seperti tikus, tupai, bekicot dan serangga (semut, kumbang dan lalat) yang membawa spora jamur pbb. gejala awal pada buah kakao yang terserang berupa bercak coklat pada permukaan buah, umumnya pada ujung atau pangkal buah yang lembab dan basah. selanjutnya bercak membesar berwarna coklat yang dengan jelas dapat membedakannya dengan warna yang masih sehat di sekeliling bercak tersebut. warna buah akhirnya berubah menjadi hitam, dimana pada permukaan buah tampak miselium dan spora jamur, terutama pada cuaca lembab. pada prinsipnya sebagian besar petani pekebun sudah tahu dan mengenal penyakit ini, namun perhatian petani dalam pencegahan masih kurang. memgingat penyakit ini menyebar melalui banyak perantara baik berupa angin, air hujan maupun dibawa oleh binatang, maka besar kecilnya intensitas serangan sangat tergantung dari sumber penyakit tersebut (inokulum). makin banyak sumber penyakit yang ada maka makin cepat penyebaran penyakit ini sehingga besar kemungkinan makin cepat tanaman terserang oleh penyakit ini. kebiasaan petani yang membiarkan buah-buah kakao yang terserang penyakit ini berserakan di hamparan kebun, juga membiarkan buah-buah yang terserang penyakit busuk buah ini masih bergantungan pada tanaman kakao, tentu ini merupakan sumber inokulum bagi tanaman yang sehat disekitarnya. sumber-sumber inokulum ini akan disebarkan oleh angin, air, atau binatang lainnya. dengan banyaknya cara yang bisa menyebarkan penyakit ini maka penyebaran penyakit menjadi lebih cepat. oleh karena itu salah satu metode untuk pencegahan penyebaran penyakit ini adalah dengan mengurangi sumber inokulum yang ada disekitar kita, dengan teknik pencegahan penyebaran sebagai berikut : bersihkan buah-buah kakao yang terserang oleh penyakit busuk buah yang masih bergelantungan pada tanaman kakao. dalam melakukan panen buah kakao, jangan lupa juga memanen buah-buah kakao yang terserang oleh penyakit ini, baik pada buah yang besar maupun pada buah yang kecil-kecil. buah-buah yang sudah dipanen, dikumpulkan jadi satu, selanjutnya di kubur dalam tanah, atau dapat pula dibakar. namun bila dimusnahkan dengan cara membakar harus dipersiapkan tempat pembakaran, karena kalau hanya buah-buah yang teserang dibakar, kemungkinan tidak bisa dibakar secara tuntas, karena buah masih basah sehingga sulit terbakar. ranting-ranting yang berserakan disekitar lahan kebun dibersihkan, terutama bekas-bekas pangkasan, yang membuat kondisi kebun menjadi lembab. sebaiknya ranting-ranting bekas pangkasan di taruh dalam rorak, sehingga nantinya dapat bermanfaat sebagai pupuk organik bagi tanaman kakao. oleh karena itu rorak wajib juga dibuat oleh petani untuk berbudidaya tanaman kakao yang sehat. melakukan pamangkasan secara teratur dan berkelanjutan. tanaman kakao memiliki pertumbuhan vegetatif yang sangat cepat, oleh karena itu perlu dilakukan pemangkasan secara teratur untuk mempertahankan bentuk tajuk tanaman, sehingga memiliki bentuk dengan cabang-cabang yang menyebar secara merata, dengan tajuk tanaman yang tidak terlalu tinggi. keadaan yang nampak pada kebun petani kebanyakan tanaman kakao tinggi-tinggi, sehingga sulit melakukan pemangkasan. oleh karena itu tanaman yang tinggi harus dipotong dengan ketinggian 2 – 2,5 m. wiwilan merupakan sasaran pemangkasan yang paling utama, karena wiwilan ini dapat tumbuh sangat cepat, sehingga dapat menguras nutrisi yang ada di dalam tanah. disamping pemangkasan pada tanaman pokok, juga yang lebih penting adalah pemangkasan dan pengaturan pada tanaman pelindung yang mesti juga dilakukan secara teratur, paling tidak pemangkasan dilakukan pada awal dan akhir musim hujan, dan pada tanaman yang sudah menghasilkan paling tidak satu tanaman pokok memiliki satu tanaman pelindung. dengan demikian tingkat intensitas serangan pada tanaman kakao sangat tergantung pada banyaknya sumber inokulum yang ada di lapangan. bila kita berupaya untuk meminimalkan sumber inokulum yang ada, maka niscaya serangan akan berkurang, sehingga pendapatan menjadi lebih optimal. banyak petani yang dapat menikmati hasil dengan lumayan dari kebun kakaonya, tapi banyak pula hasil kebun kakao tidak memberikan pendapatan secara optimal bagi petani tersebut. hal ini tentu sangat tergantung dari perhatian dan ketersediaan waktu bagi petani untuk melakukan pemeliharaan tanaman kakaonya. ( i made widiada, pp.pertanian distan, kabupaten tabanan, bali).