Loading...

SUPERVISI DAN PENDAMPINGAN PROGRAM UPSUS SWASEMBADA PADI, JAGUNG DAN KEDELAI PROVINSI SULTENG DI KABUPATEN SIGI

SUPERVISI DAN PENDAMPINGAN PROGRAM UPSUS SWASEMBADA PADI, JAGUNG DAN KEDELAI PROVINSI SULTENG DI KABUPATEN SIGI
Kabinet kerja telah menetapkan NAWACITA Bidang Kedaulatan Pangan hingga tahun 2019, yaitu Upaya Khusus Peningkatan produksi Padi, Jagung dan Kedelai. Dalam pencapaian swasembada berkelanjutan tersebut, diidentifikasi sejumlah permasalahan substantif, antara lain : (1) alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian ; (2) rusaknya infrastruktur / jaringan irigasi ; (3) semakin berkurang dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian serta kurangnya peralatan mekanisasi pertanian ; (4) masih tingginya susut hasil (losses) ; (5) belum terpenuhinya kebutuhan pupuk dan benih sesuai rekomendasi spesifik lokasi serta belum memenuhi 6 ( enam ) tepat ; (6) lemahnya permodalan petani ; (7) harga komoditas pangan jatuh dan sulit memasarkan hasil pada saat pada panen raya. Sebagai bagian program tersebut, bertempat di Kantor Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan ( BP4K ) Kabupaten Sigi pada tanggal 11 Juni 2015 dilakukan pertemuan antara Tim Supervisi dan Pendampingan Program Upaya Khusus ( UPSUS ) Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai Kementerian Pertanian yang diketuai oleh Ir. Hotman Radjagukguk. Turut dihadiri pula oleh unsur BP4K Kab. Sigi, Kepala BPP yang ada di wilayah Kabupaten Sigi serta unsur Dinas Pertanian Kab. Sigi dan BAKORLUH P2K Sulteng. Dari hasil pertemuan ini disampaikan beberapa masalah yang ditemui di lapangan antara lain terbatasnya jatah pupuk untuk wilayah Kabupaten Sigi yaitu 110 ton sehingga ketika memasuki musim tanam kedua jatah pupuk tersebut dirasakan sangat kurang. Kegiatan lain Tim Supervisi dan Pendampingan Program Upaya Khusus ( UPSUS ) Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai yaitu melakukan kunjungan ke BP3K Mantikole, Kecamatan Dolo Barat dan BP3K Baluase, Kecamatan Dolo Selatan. Dalam kunjungan ke BP3K Mantikole diperoleh informasi bahwa kehadiran petani belum optimal dalam kegiatan penyusunan RDKK serta pelaksanaan kegiatan LAKUSUSI yang belum optimal oleh Penyuluh setempat. Sedangkan dari hasil kunjungan ke BP3K Baluase diperoleh informasi bahwa kemampuan daya beli petani menjadi salah satu faktor dalam penyusunan RDKK serta tidak optimalnya penerapan Teknologi Jajar Legowo ( JL ) oleh petani setempat karena jarak tanam yang digunakan belum sesuai dengan anjuran dalam Teknologi Jajar Legowo ( JL ). Sehingga diperlukan solusi untuk masalah yang ditemui dalam kunjungan supervisi tersebut agar target swasembada pangan dapat tercapai. Penulis : Moh. Irfan Kaluku, S.TP