Supraptono yang pada bulan Pebruari lalu genap berusia 41 tahun adalah sosok seorang petani muda yang realistik yang berasal dari Desa Bleberan, kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Selepas menempuh pendidikan di Sekolah Pertanian Pembangunan ( SPP) Widya Karya Gunungkidul tahun 1992 dia memilih jalan hidup untuk menekuni ilmu yang telah diperolehnya dikala menempuh jenjang pendidikan di SPP untuk menjadi petani. Karena dia menyadari bahwa dunia pertanian tengah mengalami masa-masa stagnasi didalam proses regenerasi, sehingga yang ada saat ini petani-petani yang sudah lanjut usia. Disamping itu kalau hanya berbekal ijazah setingkat SLTA akan sulit bersaing untuk memperoleh lapangan pekerjaan formal. Maka pilihan jalan hidupnya untuk melanjutkan profesi yang dilakukan oleh orang tuanya yang sebagai petani. Akan tetapi dia sangat yakin bahwa jalan hidup sebagai petani bukanlah pilihan yang salah, karena peluang untuk memperbaiki kekurangan dari yang telah dilakukan oleh para petani seusia orang tuanya masih terbuka luas, dan dia percaya bahwa usahatani jika dikelola secara agribisnis dapat sebagai matapencaharian yang lebih menjanjikan. Apalagi masa-masa sekarang kemudahan yang diberikan oleh pemerintah kepada para petani sudah cukup banyak, sehingga mampu memberikan peluang bagi petani untuk berkiprah guna mengembangkan usahataninya lebih leluasa. Terbukti 18 tahun Supraptono berprofesi sebagai petani telah terlihat betapa cerahnya dunia petani, karena 18 tahun mengelola usahati tanaman pangan hortikultura dan peternakan, mereka telah mampu memiliki 2,2 ha lahan sawah dan tegalan ( milik sendiri sebanyak 1,2 ha dan yang 1 ha tanah pesanggon milik kehutanan), 3 ekor sapi, 10 ekor kambing, 3 buah kendaraan roda 4 ( truk, pic-up, station wagen),serta 1 buah spedamotor, 1 buah hand traktor dan 1 buah power threser yang mereka peroleh dari hasil berusahatani dibidang tanaman pangan dan peternakan selama ini. Jenis komoditas utama yang diusahakan Supraptono adalah jagung, kedele , padi gogo maupun padi sawah serta cabe merah. Hasil yang dapat diperoleh rata-rata setiap tahunnya adalah sbb : 1.Komoditas jagung yang diusahakan seluas 2 ha dengan masa panen 2 kali mencapai 12 ton dan penerimaan bersih sebanyak Rp.15.948.000,-, 2.Komoditas padi sawah seluas 0,2 ha sekali panen 1,4 ton dalam 1 tahun diusahakan 2 kali panen dengan penerimaan bersih pertahun sebesar Rp.6.061.040,-. 3.Usahatani kedele yang diusahakan pada MH II secara tumpangsari dengan jagung seluas 1,5 ha dengan produksi 1,8 ton dan penerimaan bersih sebanyak Rp.5.648.160,-. 4.Usahatani kedele musim kemarau seluas 0,2 ha dengan produksi 2,4 kw dan penerimaan bersih Rp.1.247.070,- 5.Usahatani cabe pada musim hujan ke II seluas 0,1 ha dengan produksi 6,3 kw penerimaan bersih sebanyak Rp.1.603.500,- 6.Produksi ternak sapi potong sebanyak 2 ekor senilai Rp.2.486.000,- 7.Produksi usahatani tanaman kayu-kayuan berupa tanaman jati 400 batang, mahoni 100 batang dan akasia 50 batang senilai Rp.5.000.000,- 8.Dari jasa alsintan yang berupa hand traktor dan power threser sebanyak Rp.17.100.000,-/ tahun. Sehingga dari kegiatan usahataninya dalam 1 tahunnya Supraptono mampu memperoleh penghasilan tidak kurang dari Rp.55.095.700,-. Supraptono juga aktif dibidang organisasi petani sejak dari tingkat dusun hingga ditingkat propinsi, seperti halnya sebagai Ketua kelompoktani Karang Jambu, Sekretaris Gapoktan Desa Bleberan, Pengelola LDPM Gapoktan, Anggota KTNA Propinsi DIY dan Sekretaris KTNA Kabupaten Gunungkidul. Penghargaan yang diperoleh selama ini adalah Penerima Penghargaan LDPM terbaik DIY tahun 2013 Tahap Penumbuhan, Petani Berprestasi I tingkat Kabupaten Gunungkidul Tahun 2014. Dan saat ini bersama-sama kelompoktani yang ada di wilayah Desa Bleberan Playen tengah merintis Penangkaran Benih Kedele Mandiri dibawah bimbingan Bp.Sumari Citro Wibowo Ketua KTNA Daerah Istimewa Yogyakarta beserta BPSB DIY. ( Sumber : Trimulad DSw,SP / PPA Kabupaten Gunungkidul ).