Loading...

Swadaya Petani untuk Pengembangan Tyto alba

Swadaya Petani untuk Pengembangan Tyto alba
Apapun akan dilakukan petani untuk mengamankan sawah lahannya. Bagi masyarakat Wonokerso dan masyarakat tani lainnya, waktu panen adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Dengan rata-rata kepemilikan sawah 0,2 sampai 0,3 ha, panen merupakan harga mati yang harus dirasakan oleh petani. Tapi harapan kadang memang hanya akan jadi angan-angan ketika tidak terwujud. Adanya hama dan penyakit tanaman merupakan momok bagi petani. Misalnya hama tikus. Menurut penuturan Rohmat ketua kelompok tani Makmur II Desa Wonokerso Kecamatan Tembarak, akibat serangan hama tikus dapat menyebabkan 30 % kehilangan hasil, bahkan bisa menyebakan gagal panen. Tidak mengherankan memang, karena Desa Wonokerso termasuk daerah endemis tikus.Cerita kegagalan panen akibat hama tikus di Desa Wonokerso adalah cerita masa lalu. Semenjak petani melalui kelompoktani mengembangkan Tyto alba di tahun 2013, serangan tikus mulai berkurang sehingga hasil panen lebih optimal. Menurut Koordinator Penyuluh Pertanian di Balai Penyuluhan Kecamatan Tembarak Slamet Sugito, S. PKP, sebelumnya kelompoktani Makmur II telah mendirikan 20 unit rubuha (rumah burung hantu). Dimana 12 unit telah dihuni burung hantu Tyto alba, sedangkan yang 8 unit saat ini telah rusak karena sudah berumur 2 tahun lebih. Merasakan manfaat dengan melestarikan dan mengembangkan burung hantu Tyto alba, saat ini petani melalui kelompoktani bersemangat kembali membuat dan memasang rumah burung hantu sebanyak 20 unit. Dan semuanya murni swadaya dari petani.Hal senada juga disampaikan Istikhori, selaku Penyuluh Pertanian Swadaya Desa Wonokerso. "Burung hantu Tyto alba terbukti efektif membantu petani mengendalikan hama tikus, hanya saja burung ini mempunyai kelemahan yaitu tidak dapat membuat sarang sendiri". Oleh karena itu telah muncul kesadaran bahwa karena burung ini telah membantu, maka bantulah burung itu dengan membuatkan sarang agar dapat beranak pinak dan berkembang. Biaya pembuatan rubuha juga murah apabila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menyelamatkan potensi kerugian akibat hama tikus. Bahkan apabila petani dapat memanfaatkan bahan bekas, yang dapat diperoleh dari lingkungan sekitar, biayanya akan semakin dapat ditekan. Hasil pemantauan di Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung, saat ini telah didirikan rubuha sebanyak 122 unit, dengan 25 unit telah dihuni oleh burung hantu Tyto alba.Dalam pengembangan dan pelestarian burung hantu Tyto alba untuk mengandalikan hama tikus memang ada kendala yang dihadapi. Diantaranya masih ada saja pemburu yang menembak burung ini. Oleh karena itu, perlu adanya kebijakan di daerah mengenai perlindungan burung ini dan mensosialisasikannya di masyarakat. Akhirnya kesadaran semua pihak sangat diperlukan demi keberhasilan kegiatan ini. (Fajar Wardono_Bapeluh Kab. Temanggung).