Peningkatan produksi padi atau beras saat ini dan kedepan tetap menempatkan tantangan berat, karena baik dari segi teknis maupun non teknis, internal maupun eksternal dihadapkan kepada kendala yang sangat sulit untuk meningkatkan produksi. Beberapa kendala atau keterpaksaan pertanaman padi saat ini adalah: (1) Penggunaan Pupuk Kimia/anorganik yang cukup tinggi seperti jenis urea, TSP dan KCL, yang pada gilirannya respon pemberian pupuk menurun, tanah sawah mengeras, hingga cenderung menunjukkan gejala produktivitas yang menurun (Levelling Effect). (2) Daya Usaha Tani semakin meningkat, pendapatan petani menurun, karena kebutuhan saprodi seperti pupuk, pestisida, benih meningkat, produktivitas tetap/turun dan harga tetap/turun. (3) Akibat perubahan Iklim Global, serangan hama, penyakit meningkat, air semakin berkurang dan distribusi sulit diduga, sementara pemakaian pestisida tetap merupakan andalan dengan dosis dan frekuensi yang semakin tinggi.Untuk menghindari permasalahan tersebut di atas salah satu pilihan teknologi yang memungkinkan diterapkan adalah System Of Rice Intensification (SRI, Karena penggunaan teknologi ini ramah lingkungan karena mendaur limbah dan memperbaharui, hemat air dan benih, produktivitas tinggi. Kesuburan lahan terjaga, produk bebas dari residu kimia, memakai kearifan local dan harga produksi diatas harga pasar.Peluang Pengembangan Sri Organik : tersedianya potensi lahan sawah beririgasi yang cukup luas meningkatnya kesadaran masyarakat akan produk pangan sehat dan danya dukungan pemerintah, swasta dan Perguruan Tinggi dalam pengembangan SRI organik. Tantangan Pengembangan Sri Organik : Kebiasaan membuang dan membakar jerami di sebagian besar petani menjadi budaya dan diperlukan proses pembelajaran/ pendampingan intensif.Langkah – langkah SRI ORGANIK : (1) Pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal), MOL merupakan cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami, MOL berfungsi sebagai dekomposer, aktivator dan tambahan nutrisi bagi tumbuhan dan MOL dapat dibuat dengan bahan-bahan yang ada dilokasi seperti keong mas, rebung, tulang dan sebagainya. (2) Pembuatan Kompos, Kompos adalah bahan alami yang telah lapuk melalui proses dekomposisi/ penghancuran / penguraian oleh mikro organisme, bahan pembuatan kompos antara lain dari kotoran hewan, sisa tanaman, limbah organik, jerami. Untuk mempercepat proses dekomposisi bahan tersebut dicacah terlebih dahulu dengan menggunakan chopper dan ditambahkan MOL. (3) Pengolahan tanah dilakukan seperti metode konvensional, kemudian ditambah kompos sebanyak 5 – 7 ton/ha (tergantung kondisi kesuburan tanah). (4) Pemilihan Benih Sehat dan Bernas, Benih padi diuji dengan menggunakan larutan garam dalam air (indikator jumlah garam sudah mencukupi apabila telur ayam mentah dapat terapung). (5) Persemaian, Tempat persemaian dibuat dalam besek/ kotak / nampan dengan media tumbuh campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1 : 1. Kebutuhan benih perhektar sekitar 5 kg/ha. (6) Penanaman dan Jarak Tanam, Penanaman bibit berumur 5-7 hari, tanam pindah, tidak lebih dari 15 menit, ditanam tunggal, dangkal, membentuk huruf L dan jarak tanam lebar yaitu 40 X 40 cm atau 50 x 50 cm. (7) Pengelolaan Air dan Penyiangan, Secara umum pada pertumbuhan padi fase vegetatif, air diberikan secara macak-macak. Penggenangan setinggi 2-3 cm hanya dilakukan pada saat penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan selang waktu 10 hari sejak tanam, sebanyak 4 kali. Sehabis penyiangan diberi MOL sebagai nutrisi. Umur 45 hari lahan dikeringkan selama 10 hari. Setelah umur 55 hari air diberikan secara macak-macak kembali. Setelah padi bernas maka air dikeringkan sampai panen. (8) Pengendalian Hama, Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu. Menghindari praktek-praktek pengendalian hama dan penyakit yang akan merusak agroekosistem. Pengendalian hama dan penyakit dapat menggunakan pestisida nabati Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : ali_bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, 2012 Sytem of Rice Intensification (SRI), Kementerian Pertanian