Pelet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan sedemikian rupa dari bahan konsentrat atau hijauan. Pelet ini merupakan salah satu bentuk pengawetan bahan pakan dalam bentuk yang lebih terjamin tingkat pengadaan dan kontinuitas penyediaannya untuk mempertahankan kualitas pakan (Mathius et al., 2006). Dari berbagai referensi menjelaskan bahwa keuntungan pakan yang berbentuk pelet yaitu meningkatkan konsumsi, densitas dan efisiensi pakan, membunuh bakteri patogen, mempermudah handling produk, mengurangi terbentuknya debu, mengurangi penyusutan akibat tercecer, meningkatkan kadar energi metabolis pakan, lebih tahan terjadinya kerusakan pada saat penyimpanan, meningkatkan palatabilitas, menurunkan ongkos pemberian pakan, tidak memberikan kesempatan kepada ternak untuk memilih jenis bahan makanan yang disukai, menurunkan jumlah pakan yang tercecer, memperpanjang lama penyimpanan, khusus ternak ruminansia dapat memanfaatkan jumlah dan jenis hijauan yang lebih besar menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin. Pada penyuluhan kali ini, menguraikan tentang proses/tahap pengolahan pelet yaitu: Tahap I Melakukan sortasi, seleksi, pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. Setelah itu, seluruh bahan baku digiling halus agar diperoleh ukuran partikel yang seragam berbentuk tepung. Bahan tersebut lalu ditimbang dengan menggunakan timbangan duduk. Selanjutnya, bahan–bahan tersebut dicampurkan. Tahap II Teknis pembuatan pelet terdiri dari proses pembuatan, pencetakan, pendinginan dan pengeringan. Pembuatan pelet ini mengunakan proses pemanasan dengan uap (dikukus) agar gelatinisasi terbentuk yang bertujuan agar terjadi perekatan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pelet menjadi kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus (Pujaningsih, 2006). Pengukusan bahan dengan tujuan gelatinisasi dapat pula melunakkan bahan agar mempermudah dalam pencetakan. Disamping itu juga bertujuan untuk membuat : (1) Pakan menjadi steril, terbebas dari bakteri, kuman atau bibit penyakit; (2) Menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat; (3) Pakan menjadi lebih lunak sehingga ternak mudah mencernanya dan (4) Menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ternak. Walker (1984) menjelaskan bahwa selama proses kondisioning terjadi penurunan kandungan bahan kering sampai 20% akibat peningkatan kadar air bahan dan menguapnya sebagian bahan organik. Proses kondisioning akan optimal bila kadar air bahan berkisar 15 – 18%. Winarno (1997) menjelaskan lebih lanjut bahwa kadar air yang lebih dari 20% akan menurunkan kekentalan larutan gel hasil gelatinisasi. Gelatinasi merupakan sumber perekat alami pada proses “pelleting”. Pencetakan merupakan tahap pemadatan bentuk melalui alat cetak. Temperatur bahan sebelum masuk ke dalam mesin pencetak sekitar 80°C dengan kelembaban 12–15%. Menurut Pujaningsih (2006) mengatakan bahwa kelemahan sistem ini adalah diperlukannya tambahan air sebanyak 10 – 20% ke dalam campuran pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah proses pencetakan tersebut. Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin kadang mengalami kemacetan dan pelet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat. Selama proses pengukusan bahan akan terjadi peningkatan suhu dan kadar air dalam bahan sehingga perlu dilakukan pendinginan dan pengeringan. Proses pendinginan (cooling) merupakan proses penurunan temperatur pelet dengan menggunakan angin/udara sehingga pelet menjadi lebih kering dan keras. Proses ini meliputi pendinginan butiran-butiran pelet yang sudah terbentuk, agar kuat dan tidak mudah pecah. Pengeringan dan pendinginan dilakukan pada tahap ini untuk menghindarkan pelet itu dari serangan jamur selama penyimpanan Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi kurang dari 14%, sesuai dengan syarat mutu pakan ternak pada umumnya. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pelet sistem kering, cukup dikering anginkan saja hingga uap panasnya hilang, sehingga pelet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk tepung (Pfost, 1964). Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran di bawah terik sinar matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu atau kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan akan membawa penyakit. Jika alat yang digunakan mesin pengering, tentu akan memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yang cukup tinggi. Tahap III Penentuan ukuran pelet disesuaikan dengan jenis ternak. Pujaningsih (2206) melaporkan bahwa diameter pelet untuk sapi perah dan sapi pedaging adalah 1,9 cm (0,75 inci), untuk anak babi 1,5 cm (0,59 inci) dan babi masa pertumbuhan 1,6 cm (0,62 inci), untuk ayam pedaging periode starter dan finisher 1,2 cm (0,48 inci) begitu pula dengan aneka ternak lainnya lainnya seperti ayam buras, burung, hamster, kucing dan kelinci bahkan hewan akuatik Ikan dan udang) dengan ukuran 0,5- 1 cm. Garis tengah (diameter) pelet untuk pakan dengan konsentrasi protein tinggi adalah 1,7 cm (0,67 inci) dan 0,97 cm (0,38 inci) untuk pakan yang mengandung urea. Demikianlah materi penyuluhan ini, semoga bisa mermanfaat bagi para peternak, terlebih lagi dimasa pandemi Covid-19. Jika peternak bisa membuat sendiri dirumah maka hal tersebut membantu program “stay at home” dan “work from home” dengan tetap produktif walau tinggal di rumah. Yusran A. Yahya NS (Penyuluh Pertanian Disnak Bone)