Oleh: Kikin Yuswono, S.P. Penyuluh Pertanian Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar Bertepatan dengan Hari Tani Nasional yang diperingati setiap tanggal 24 September, BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar melakukan penanaman padi bersama di lahan BPP Tampaksiring. Lahan sawah seluas 0,6 ha (60 are) yang digarap oleh I Wayan Budiana, musim tanam ini menanam padi hibrida. Lahan sawah yang berada di wilayah Subak Belong Desa Pejeng Kaja Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar menggunakan sistem tanam jajar legowo 2 : 1, dengan jarak tanam 20 x 10 x 40 cm. Jarak antar baris 20 cm, jarak antar rumpun dalam satu baris 10 cm dan jarak lorong 40 cm. Umur bibit 20 HSS (hari setelah sebar) dengan penanaman 1 batang bibit per lubang tanam. Pembuatan garis untuk mempermudah saat penanaman menggunakan alat yang disebut `caplak`, dan dilakukan pen-caplak-an sehari sebelumnya. Kondisi tanah sedikit air atau `macak-macak` untuk mempermudah saat pembuatan garis dan penanaman. Dihadiri oleh Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Ni Ketut Sumpahayuni, S.H., M.A.P mewakili Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, bersama staf Bidang Penyuluhan, menambah motivasi PPL Kecamatan Tampaksiring untuk bersama-sama menanam padi beserta Pekaseh dan petani di Kecamatan Tampaksiring. Di tengah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, sektor pertanian khususnya tanaman pangan wabil khusus padi, harus tetap tersedia untuk memperkuat ketahanan pangan di Indonesia umumnya dan Kabupaten Gianyar khususnya. Sektor pertanian dianggap salah satu sektor yang mampu bertahan dalam suasana pandemi ini, dimana beberapa sektor yang lain bisa dikatakan terhenti. Penggunaan padi hibrida mulai dikampanyekan oleh PPL kepada krama subak di Kecamatan Tampaksiring untuk pergiliran varietas dalam beberapa musim tanam belakangan ini. Selama ini sebagian besar petani di Kecamatan Tampaksiring terbiasa menanam padi non hibrida/ inhibrida. Apa lagi sebagian dari mereka masih ada yang menggunakan benih padi dari hasil panen musim sebelumnya. Secara umum padi hibrida akan memberikan produksi yang optimal jika ditanam pada ketinggian 0 - 300 m dpl (di atas permukaan laut), sementara Kecamatan Tampaksiring berada pada ketinggian 275 – 700 mdpl. Namun dari beberapa petani yang sudah mencoba menanam padi hibrida di Kecamatan Tampaksiring mengatakan bahwa padi hibrida mampu memberikan produksi yang lebih tinggi dibandingkan beberapa varietas padi yang selama ini mereka tanam. Kendala yang dihadapi petani di Kecamatan Tampaksiring saat menanam padi hibrida adalah harga benih yang bisa dibilang mahal, dosis pupuk yang digunakan lebih banyak dibanding dosis untuk pemupukan padi non hibrida/ inhibrida, dan perawatan yang intensif. Meski demikian, jika melihat hasil panen yang lebih baik dibanding saat tanam padi musim-musim sebelumnya, mereka tidak kapok untuk menanam padi hibrida lagi. Setiap menanam padi maupun menanam tanaman lainnya, tentu yang diharapkan adalah dapat menuai hasil saat panen nanti. Diperlukan perawatan, pengamatan, monitoring dan pendampingan berkelanjutan sampai saat panen nanti. Ini tentu menjadi tugas PPL untuk selalu mendampingi petani sampai saat panen tiba. Pepatah Jawa mengatakan, "Sapa nandur bakal-e ngunduh", yang kalo diartikan, "siapa menanam akan menuai/ memanen". “Ngunduh tanpa nandur arane download”. Meng-unduh tanpa menanam namanya download. Salam !