Oleh: Kikin Yuswono, S.P. Penyuluh Pertanian Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tampaksiring melakukan tanam bersama di Subak Gepokan Bawah Desa Pejeng Kelod Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar pada hari Rabu, 5 Agustus 2020. Areal sawah milik I Wayan Pasek seluas 26 are sudah dilakukan tanam secara swadaya sehari sebelumnya, sehingga tanam bersama ini lebih kepada melanjutkan sisa areal sawah yang belum ditanami. Tanam bersama dikoordinir oleh I Wayan Sandi, S.P., selaku Koordinator BPP Tampaksiring. Turut hadir di acara tersebut PPL se-Kecamatan Tampaksiring dan beberapa krama Subak Gepokan Bawah. Musim tanam ini, I Wayan Pasek mencoba menanam padi hibrida varietas Mapan 05 dan Sterling. Dia ingin mencoba dan membandingkan dua varietas padi hibrida yang ditanam di areal sawahnya dengan padi non hibrida/ inhibrida yang biasa ditanamnya. Menurut info yang didapatkannya dari PPL Desa Pejeng Kelod dan BPP Tampaksiring serta beberapa petani dari subak lain yang sudah pernah menanam padi hibrida, hasil panen padi hibrida jauh lebih tinggi dibanding varietas padi non hibrida/ inhibrida. Harga benih padi hibrida yang terbilang mahal dibandingkan dengan benih padi non hibrida/ inhibrida tidak membuat I Wayan Pasek surut untuk menanam padi hibrida. Tingginya harga benih padi hibrida dibanding padi non hibrida hampir sebanding dengan jumlah benih yang dibutuhkan. Jika padi non hibrida/ inhibrida membutuhkan 25 kg per ha atau 0,25 kg per are, maka untuk padi hibrida hanya membutuhkan 10 kg per ha atau 0,1 kg per are. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1 diterapkan oleh I Wayan Pasek, dengan tanam satu bibit padi per lubang tanam. Umur bibit yang ditanam 21 hari setelah sebar (HSS). Pembuatan garis untuk lubang tanam dilakukan sehari sebelum tanam dengan menggunakan alat ‘caplak’. Atau bisa menggunakan tali untuk membantu dan mempermudah pada saat penananam. Kondisi areal sawah sedikit air atau ‘macak-macak’ pada saat pembuatan garis dan penanaman. Jarak tanam jajar legowo 2 : 1 yang digunakan adalah 20 x 10 x 40 cm. Jarak antar baris 20 cm, jarak antar rumpun dalam barisan 10 cm dan jarak lorong 40 cm. Padi hibrida memerlukan perawatan yang intensif, mulai dari perlakuan benih sebelum disebar, penyemaian, penanaman sampai saat panen. Sebelum olah tanah, dianjurkan menyebar secara merata kapur pertanian/ dolomit sebanyak 300 kg per hektar atau 3 kg per are. Dibiarkan selama 2 minggu baru diolah tanahnya. Pemberian kapur pertanian/ dolomit bertujuan untuk menetralkan pH lahan sawah. pH adalah angka yang menunjukkan derajat keasaman atau kebasaan suatu zat atau larutan atau benda. Lahan sawah dikatakan asam/ masam jika nilai pH < 7, dan dikatakan basa jika nilai pH > 7. Lahan sawah dikatakan netral jika nilai pH = 7. Tanaman padi akan tumbuh secara optimal pada lahan sawah yang bersifat netral. Tanaman padi masih toleran tumbuh pada lahan sawah yang ber-pH 5,5 – 7,0. Pemberian kapur pertanian/ dolomit dilakukan lagi setelah 3 – 4 tahun. Pupuk dianjurkan menggunakan pemupukan berimbang. Pupuk organik disebarkan sebelum pengolahan tanah dengan dosis 300 – 500 kg per hektar atau 3 – 5 kg per are. Urea membutuhkan 250 kg per hektar atau 2,5 kg per are dan NPK membutuhkan 300 kg per hektar atau 3 kg per are. Pemupukan dilakukan tiga kali pada waktu padi berumur 1 – 7 hari setelah tanam (HST), 18 – 21 HST dan 38 – 42 HST. Tahap penyiangan dilakukan 2 – 3 hari sebelum penyebaran pupuk. Pengairan berselang (intermitten) perlu dilakukan untuk memberi kesempatan kepada akar agar mendapat asupan udara, mencegah timbulnya keracunan besi, mencegah penimbunan asam organik dan gas hydrogen sulfida (H2S) serta memberi kesempatan pada tanaman padi untuk memperbanyak anakan. Untuk pengendalian OPT perlu dilakukan pengamatan secara rutin dan berkala. Selepas penanaman bersama, dilanjutkan acara ngobrol ringan seputar masalah pertanian dan budidaya padi. “Kami berharap kepada PPL Desa Pejeng Kelod dan BPP Tampaksiring untuk selalu mendampingi kami sampai panen. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada BPP Tampakaksiring yang sudah berkenan meluangkan waktu untuk menanam bersama di Subak Gepokan Bawah” tutur I Wayan Pasek. “Kami mengucapkan terima kasih juga kepada Pak Wayan Pasek atas keramahan dan sambutan serta jamuan kopi dan makanan kecilnya. Kami hanya sekedar membantu menanam dengan luas areal yang sedikit. Kami berharap jangan dilihat seberapa luas yang bisa kami tanam, tetapi kebersamaan PPL dan petanilah yang diharapkan” ujar PPL Desa Pejeng Kelod, I Wayan Endra Jaya, S.P. “Kami akan selalu berusaha mendampingi krama Subak Gepokan Bawah dan subak-subak yang lain di Kecamatan Tampaksiring semampu dan sebisa kami. Mengingat keterbatasan tenaga PPL di Kecamatan Tampaksiring dan juga kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Gianyar, kami tidak bisa setiap hari mendampingi di Subak Gepokan Bawah.” sambut I Wayan Sandi, S.P., selaku Koordinator BPP Tampaksiring “Untuk itu, kami juga minta bantuan kepada Pekaseh Gepokan Bawah dan krama subak untuk ikut mengamati perkembangan tanaman padi di sawah miliknya masing-masing secara rutin dan berkala. Apabila ada gejala serangan OPT, lakukan pengendalian dengan prinsip PHT (pengendalian hama terpadu). Apabila setelah dilakukan pengendalian secara swadaya belum menunjukkan hasil yang maksimal, segera laporkan kepada PPL Desa Pejeng Kelod atau kepada Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Tampaksiring” pungkasnya. Acara diakhiri dengan sesi foto bersama.