Loading...

TANAM PADI ANTARA TENAGA BURUH DAN MEKANISASI

TANAM PADI ANTARA TENAGA BURUH DAN MEKANISASI
Saat musim tanam tiba, keberadaan buruh tanam mutlak diperlukan oleh para petani. Kegiatan tanam umumnya dilakukan oleh ibu-ibu secara berkelompok antara lima sampai sepuluh orang per kelompok. Umumnya mereka bekerja mulai jam 6 pagi sampai jam 11 atau sampai jam 2 siang. Biaya tanam padi untuk setiap bata 100 (1/7 hektar, 1428 m2) antara Rp. 110-120 ribu. Apabila bekerja mulai jam 6 sampai jam 2 siang dengan 6 orang bekerja mereka bisa mengerjakan sampai 1 hektar. Artinya untuk satu hektar pemilik sawah mengeluarkan biaya tanam sejumlah Rp. 770.000. Jumlah itu belum termasuk untuk memberi sarapan, teh kopi dan jajanan bagi buruh tanam.Apabila dilakukan oleh enam orang, maka setiap orang buruh tanam bisa mengantongi Rp 128 ribu dalam sehari. Nilai yang cukup bagi ibu-ibu sebagai tambahan penghasilan bagi keluarga. Saat musim tanam serentak seperti ini seringkali sulit mendapatkan buruh tanam. Maklum, kegiatan tanam umumnya hanya dilakukan oleh ibu-ibu. " Ya..kalau pas musim tanam hampir bersamaan kayak gini, susah cari buruh tanam karena orangnya ya itu-itu saja, sebagian besar sudah tua. Karena itu seringkali, harus didatangkan buruh tanam dari luar, tapi harus menambah uang transport, " kata Suwito petani asal Balongsari Megaluh.Keberadaan mesin tanam otomatis tentu akan sangat membantu menghadapi kesulitan buruh tanam. Apalagi di awal musim yang tanamnya hampir serentak. Kalau dengan 6 orang buruh tanam bisa mengerjakan 1 hektar, maka satu mesin tanam dengan satu operator dalam sehari bisa mengerjakan sampai 2 hektar. Dalam 8 jam kerja alat tanam otomatis tersebut membutuhkan bahan bakar bensin 8 liter.Apabila dibandingkan antara menggunakan buruh tanam dengan alat tanam otomatis tentu perbandingannya sangat jauh. Dengan memaki mesin tanam, waktu pengerjaan menjadi lebih cepat dan biaya yang lebih murah. Dengan alat juga lebih mudah dilakukan penyesuaian jarak tanam sesuai dengan anjuran teknis, misalnya dengan sistem jajar legowo. Meskipun juga harus dilakukan penyesuaian model pembibitan karena menyesuiakan dengan mekanisme kerja mesin tanam. Karena itu, menggunakan mesin tanam juga bisa diikuti dengan jasa penyediaan bibit padi yang siap dipakai untuk kerja menggunakan mesin tanam.Namun keberadaan mesin tanam tentu diharapkan tidak merenggut kesempatan ibu-ibu buruh tanam bekerja mencari tambahan penghasilan. Karena itu penerapan mekanisasi pertanian sepatutnya benar-benar memperhatikan kondisi desa dan berbagai faktor lainnya. Agar tidak sampai mengganggu kesempatan bekerja juga tidak menghambat tercapainya produksi sesuai harapan. (Tim Buletin Disperta Jombang : Ir. Bambang PHS, Akhmad Jani M, SP, Welly Puspito N, SP)