Metode Hazton diciptakan oleh Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat Hazairin, dan terbukti berhasil dikembangkan di sejumlah areal pertanian provinsi tersebut. Teknik menanam padi dalam metode Hazton berbeda dengan cara yang biasa digunakan petani.Jika biasanya petani menggunakan teknik tanam dari bibit yang ada, kemudian dipindahkan dan dibagi-bagi lagi, sehingga hanya 3-4 tanaman yang ditanam, dalam metode Hazton, bibit yang akan ditanam tidak dibagi-bagi dan langsung ditanam hingga mencapai 20-25 tanaman. Kemudian, pada metode Hazton, sistem pencabutan bibit dari tempat pembibitan harus hati-hati, dan usahakan akarnya tidak banyak putus."Sasaran yang kami tuju adalah memberdayakan petani yang selama ini menjadi penggarap, yang tidak memiliki lahan luas," ucap Kepala Kantor Perwakilan BI Purwokerto, Rahmat Hernowo di Purwokerto, Senin (30/03).Dalam hal ini, pihaknya melakukan intervensi terkait bagaimana cara menanam padi di lahan yang tidak terlalu luas, namun memiliki produktifitas yang tinggi.Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan di Patikraja, dari lahan yang biasanya hanya mampu memproduksi gabah rata-rata 4 ton per hektar, setelah menggunakan metode Hazton, bisa mencapai 8,7 ton per hektar."Sistem ini terbilang cukup bagus. Bahkan, jenis padi yang ditanam mengikuti jenis yang ada di situ. Namun metode tanamnya yang kita ubah," ungkap Rahmat Hernowo.Selain itu, pihaknya juga akan mencoba mengembangkan metode Hazton tersebut di kabupaten lain yang masuk dalam wilayah kerja BI Purwokerto. Besar harapannya, agar petani setempat nantinya akan mempunyai stok gabah maupun beras, dengan membuat lumbung komunal. Dengan demikian, petani tidak akan kesulitan ketika menghadapi musim tanam berikutnya. (Christophorus Aji Saputro)