Loading...

Tanaman Gamal Sebagai Pakan Ternak

Tanaman Gamal Sebagai Pakan Ternak
Pada musim kemarau (apalagi yang panjang) para petani selalu kelabakan mencari rumput hijauan makanan ternak, terutama di Jawa yang orang dan ternaknya sama-sama padat. Pada saat itu terpaksa mereka mencari rumput ke tempat-tempat yang jauh letaknya misalnya dipinggir-pinggir hutan kalau masih ada rumputnya. Biasanya musim kering ini ternak menjadi relatif kurus, hal ini disebabkan karena pada saat itu jumlah hijauan yang tersedia relatif sedikit dan rendah mutunya. Untuk mengatasi masalah penyediaan hijauan makanan ternak, pemerintah melalui kegiatan penyuluhan yang teratur berupaya untuk menyadarkan para petani agar mereka mau menanam tanah terluangnya dengan rumput unggul yang produksinya relatif tinggi dan kualitasnya lebih baik.Karena terbatasnya lahan terluang yang dimiliki petani khususnya di Pulau Jawa maka rumput ini ditanam dibatas-batas kebun, galengan sawah atau dipinggir jalan desa. Usaha ini dirasakan sudah cukup membantu meskipun belum memecahkan masalah secara keseluruhan. Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hijauan makanan ternak pada saat paceklik rumput adalah dengan memanfaatkan hijauan/daun-daunan inkonvensional yang sudah banyak didapat dipedesaan misalnya daun lamtoro, daun gamal atau Cebreng. Tanaman gamal ini asal-usulnya diperkenalkan dipedesaan dalam rangka pembasmian alang-alang di tanah-tanah kritis; "katanya" Gamal ini adalah singkatan dari Ganyang Mati Alang-alang. Karena sekarang komando "Gamalisasi " padang alang-alang sudah tidak terdengar lagi maka rakyat maupun aparat desa tidak bersemangat lagi melaksanakannya. Meskipun gamalisasi sudah lesu tapi bibit gamal sudah banyak tersebar baik di kota maupun desa. Karena batangnya relatif lurus, cepat tumbuh dan tahan hidup pada lahan kurang subur, cepat rimbun daunnya, sekarang banyak dijadikan pagar hidup di kebun untuk mencegah baik orang maupun binatang mengganggu tanaman pangan yang sangat berharga. Selain itu kayunya dapat dijadikan kayu bakar karena "gamalnya" dipangkas sebab sudah terlalu lebat.Pemanfaatan daun gamal sebagai pakan ternak sangat menguntungkan. Gamal merupakan tanaman sejenis perdu dari kerabat polong-polongan (leguminosa) dan tumbuh sampai ketinggian 1.300 m dari permukaan laut serta dapat dijadikan pupuk hijau. Daunnya dapat dijadikan makanan ternak terutama untuk ruminansia kecil seperti kambing atau domba. Kandungan protein kasarnya cukup tinggi dan tidak membahayakan bila diberi dalam jumlah yang banyak dan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Pemberian gamal segar kurang disenangi ternak karena bau yang tidak sedap berasal dari dalam daun tersebut. Untuk menghilangkan bau daun gamal, maka sebelum diberikan ke ternak harus dilayukan dahulu. Teknik pelayuan tersebut juga berfungsi untuk meminimalisir tingkat racun dalam Gamal. Beberapa literatur menyebutkan pelayuan selama 12 – 24 jam. Daun gamal ini dapat diberikan secara tunggal ataupun dicampur dengan rumput alam maupun rumput unggul.Tanaman gamal sangat mudah tumbuh serta masih tetap berproduksi baik meskipun musim kemarau. Selain itu gamal dapat tumbuh dengan cepat didaerah tropis. Dapat tumbuh pada berbagai macam tipe tanah dan pH rendah sampai tinggi (4,5-6,9) m serta tahan terhadap curah hujan yang rendah sampai tinggi (50-100mm/bln). Gamal dapat dikembangkan dengan dua cara yaitu dengan biji ataupun dengan stek batang. Menanam gamal dengan cara di-stek cukup mudah. Batang tanaman gamal dipotong dan langsung ditancapkan ke tanah. Panjang stek yang digunakan sebaiknya anatar 30 – 150 cm dengan kedalaman tanam kurang lebih 15 cm. Dengan cara ini tanaman gamal akan segera membentuk akar baru dan tumbuh menjadi tanaman baru. Keberhasilan penanaman dengan stek, sangat tergantung pada tingkat kedewasaan (umur tanaman induk) dan bagian batang yang digunakan sebagai stek. Hasil yang terbaik dalam penanaman gamal yaitu dengan menggunakan stek yang berdiameter 3,1- 3,5 cm, berasal dari tanaman induk bagian bawah dan panjang stek 45 cm. Selain itu umur tanaman induk harus cukup tua. Perlu untuk diperhatikan, hendaknya penanaman dilakukan pada permulaan musm hujan, supaya stek yang ditanam cepat bertunas. Biasanya tunas tumbuh setelah 4 minggu penanaman. Jarak tanam sebaiknya 45 cm. Cara lain adalah dengan menggunakan bijinya. Tingkat pertumbuhan tanaman gliricidia dapat memberikan hasil yang memuaskan bila dikembangbiakkan dengan menggunakan biji . Biji-biji yang terpental dari tanaman induknya akan segera tumbuh menjadi tanaman-tanaman baru. Satu kilogram biji gamal kurang lebih ada 3000 biji. Jumlah ini cukup untuk menanami satu hektar lahan. Namun demikian, sistem perkembangbiakan dengan mempergunakan biji dianggap kurang praktis. Meskipun gamal dapat diperbanyak dengan biji, namun lebih sering penanamannya menggunakan stek batang. Hal ini disebabkan masalah penyediaan bibit baru membutuhkan persiapan yang cukup menyita waktu serta sulitnya mencari dan mengumpulkan biji gamal. Pohon gamal cukup jarang yang dapat tumbuh sampai besar, berbunga dan berbiji sebab gamal sudah secara berkala di panen daun dan batangnya sehingga tidak sampai berbunga dan berpolong. Produksi hijauan tanaman gliricidia sangat bervariasi dan akan sangat bergantung pada umur dan ukuran tanaman serta keadaan lingkungan. Pemotongan pertama (pemangkasan daun) hendaknya dilakukan bila tanaman telah berumur 2 atau 3 tahun dan pemotongan dilakukan 1-2 kali setahun. Agar dapat diproduksi hijauan yang tinggi, pemotongan atau pemangkasan dapat dilakukan 3 bulan sekali sehingga didapat diproduksi hijauan per pohon adalah 1,5 kg hijauan segar. Perlu diperhatikan, makin tinggi interval pemotongan akan menurunkan nilai gizi gamal tersebut. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Sumber : Gema Penyuluhan Pertanian. Departemen Pertanian.