Loading...

TANAMAN PAKAN TERNAK (TPT) DI LAHAN TAILING

TANAMAN PAKAN TERNAK (TPT) DI LAHAN TAILING
Tailing adalah limbah industri pertambangan baik emas, tembaga maupun perak. Tailing terdiri dari batuan yang telah hancur dari batuan mineral yang telah diambil mineralnya dan mempunyai porositas tinggi sehingga kapasitas memegang air rendah. Struktur tidak stabil, sangat miskin bahan organic, aktivitas mikroba tidak ada sama sekali.Rehabilitasi bekas lahan tambang dengan menggunakan tanaman disebut fitoremediasi. Pemilihan spesies tanaman, termasuk tanaman pakan ternak untuk rehabilitasi area bekas tambang sangat krusial tergantung tujuan penanaman. Ada kelompok tanaman yang bersifat mengekstraksi, mendegradasi dan menstabilkan kontaminan, terutama tidak dapat dikonsumsi oleh ternak karena akan terakumulasi di dalam tubuhnya dan akan masuk ke rantai makanan. Sehingga Tanaman Pakan Ternak (TPT) yang bersifat akumulator dapat digunakan untuk membersihkan kontaminan pada area bekas tambang.Kebanyakan tanaman pakan trrnak dapat beradaptasi dengan kondisi lahan pasca tambang. Namun perlu perbaikan lahan seperti pemberian pupuk kandang untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikroba.Beberapa jenis rumput maupun leguminosa telah digunakan sebagai agen rekalmasi di beberapa pertambangan di Indonesia (Anoniumus, 2006), antara lain rumput Bahia (Paspalum spp.), rumput Vetiver (Vetiveria zizonoides), rumput Bermuda (Cynodon dactylon). Leguminosa Vigna parkeri Baker, terlihat tumbuh di lokasi terjadinya suksesi alam di suatu pertambangan emas di Papua. Jenis rumput seperti Panicum notatum, Cynodon dactylon tumbuh sendiri di area yang terkontaminasi polutan logam berat (Yoon et al, 2006). Rumput Vetiveria zizanoides (rumput akar wangi), salah satu rumput yang toleran terhadap tanah dengan kandungan logam berat yang tinggi dan bersifat akumulator logam berat. Perakarannya yang sangat panjang, dapat menembus kedalaman tanah yang dalam dan sangat cocok untuk konservasi dan penguat tanggul yang ada di beberapa pertambangan. Rumput ini telah digunakan di pertambangan tembaga dan emas di Papua, untuk penahan tanggul yang dibuat sebagai aliran tailing dari dataran tinggi tempat mineral ditambang ke dataran rendah agar tidak terjadi erosi.Akar rumput Vetiver sangat kuat, rata-rata kekuatan daya rentang berkisar 5 Mpa yang setara dengan seperenam daya rentang baja medium. Jenis rumput ini sangat berbeda dengan rumput pada umumnya. Siregar dan Sajiman (1992) melaporkan rumput Vetiver yang ditanam di Kabupaten Ende, Sikka dan Sumba Provinsi NTT pada musim kering dengan curah hujan tidak sama sekali, pada bulan bulan tertentu masih dapat menghasilkan hijauan pertanian di lahan tailing.Semua kandungan logam berat rumput telah melampaui batas ambang yang diperbolehkan untuk dikonsumsi ternak seperti ditetapkan menurut NRC (NAS, 1980) sehingga bila logam-logam berat tersebut dikensumsi oleh ternak akan terakumulasi di dalam jaringan tubuhnya. Sementara itu, fitotoksisitas Cu terjadi bila tanah mengandung Cu berkisar 60 – 125 mg/kg (Ross dalam Li et al, 2006); 500 – 1000 mg/kg total Pb (Jiang et al. dalam Li et al., 2006).Budidaya tanaman apapun di area tailing perlu strategi tertentu untuk mengelolanya. Kondisi tailing yang secara fisik sangat sarang (porous), miskin hara dan bahan organic, maka perlu pemupukan dengan pupuk organik dan kimia secara seimbang. Penggunaan pupuk kandang maupun pupuk organik lain (pupuk hijau, biosolids) atau top soils perlu dilakukan dengan dosis yang tinggi. (Penulis : Suwarna)Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian," Sumber daya Genetik Tanaman Pakan Ternak Adaptif Lahan Kritis, 2012.