Loading...

TANAMAN PAKAN TERNAK UNTUK LAHAN KERING MASAM DAN SALIN

TANAMAN PAKAN TERNAK UNTUK LAHAN KERING MASAM DAN SALIN
Lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah digenangi air atau tergenang pada sebagian waktu selama setahun (Irsal Las, 2012) dan beriklim kering, dimana curah hujan kurang dari 100 mm per bulan. Lahan kering biasanya mempunyai kesuburan rendah, dengan tanah retak-retak dan kedalaman tanah dangkal. Pemupukan dengan pupuk organic sangat membantu dalam memperbaiki dtruktur tanah, sedangkan pemupukan dengan pupuk kimia akan meningkat hasil biomasa dan kualitas hijauan Tanaman Pakan Ternak (TPT).Budidaya tanaman termasuk tanaman pakan ternak pada lahan kering memerlukan teknologi pengairan yang efisien, pemilihan jenis tanaman, pemupukan, pola tanam dll. Beberapa jenis TPT relatif lebih dapat beradaptasi pada lahan kering beriklim kering dibandingkan dengan tanaman komoditas pertanian lain. Ciri utama lahan masam adalah tingkat produktivitas lahannyayang rendah untuk produktivitas tanaman, terutama tanaman pangan. Keberadaan lahan masam di Indonesia dapat ditemukan pada lahan kering dan lahan basah.Tanah masam biasanya mengandung unsur alumunium (Al) dan mangan (Mn) yang snagat tinggi sedangkan kandungan unsur kalsium (Ca) dan fosfor (P) sangat rendah yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat. TPT yang beradaptasi pada lahn masam tidak dapat tumbuh dengan optimal. Pengapuran adalah salah satu cara untuk meningkatkan pH tanah sehingga unsur hara lebih tersedia untuk pertumbuhan tanaman.Salah satu komoditas tanaman yang lebih berpotensi untuk dikembangkan pada lahan kering masam adalah tanaman pakan ternak (TPT), karena tanaman pakan merupakan sumber hijauan bagi ternak, dan sekitar 80% komponen pakan ruminansia berasal dari hijauan. Selain itu tanaman pakan ternak biasanya ditempatkan pada lahan-lahan yang marjinal atau lahan yang kurang produktif. Potensi untuk mengembangkan tanaman pakan di lahan kering masam didukung dengan tersedianya jenis tanaman pakan ternak yang memiliki kemampuan untuk tumbuh baik pada lahan kering masam. Rumput Brachiaria decumbens (BD) misalnya, merupakan spesies yang toleran pada lahan kering masam karena toleran keracunan alumunium. Dari hasil penelitian terbukti penambahan 200 µM Al ke media tanam, sama sekali tidak mempengaruhi pertumbuhan Brachiaria decumbens.Ketahanan tersebut terkait dengan eksudat yang dihasilkan perakaran, yaitu berupa senyawa-senyawa organic, diantaranya asam sitrat dan malat (Grundy et al., 2002 .Beberapa spesies rumput yang toleran masam (cekaman alumunium) yaitu Brachiaria decumbens (sangat toleran), Axonophus compressus (toleran), Brachiaria brizantha (toleran), Panicum maximum (toleran), Pennisetum purpuroides (toleran), Panicum muticum (moderat-toleran), Elusin indica (moderat- toleran). Setaria spachelata (moderat-toleran), Pennisetum purpureum (moderat toleran) dan Setaria splendid (moderat- toleran).Usaha pertanian di tanah salin mempunyai potensi yang besar karena Indonesia merupakan Negara kepulauan yang mempunyai garis pantai yang panjang. Cekaman salinitas sering terjadi akibat akumulasi garam yang berasal dari adanya deposit garam asal bahan induk, intrusi air laut, atau evaporasi yang tinggi dengan curah hujan yang rendah. Bentuk garam yang dominan pada cekaman salinitas seprti ini umumnya adalah Natrium Klorida (NaCl). Pada lahan-lahan pantai sering memunculkan tanah-tanah salin sebagai akumulasi garam akibat kekeringan pada musim kemarau. Bahan organik di dalam tanah dapat berperan sebagai buffer dengan mengkhelat unsure-unsur penyebab salinitas sehingga dapat meningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara (Buckman dan Brady, 1982). (Penulis : Suwarna)Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian," Sumber daya Genetik Tanaman Pakan Ternak Adaptif Lahan Kritis, 2012.