TATA NIAGA KOMODITAS JAMBU METE Sentra Produksi mete saat ini meliputi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku Tenggara, Jawa Timur ( Madura ), Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat ( NTB ), dan Nusa Tenggara Timur ( NTT ). Komoditas ekspor ini dapat dikembangkan pada lahan marjinal beriklim kering. dari total produksi mete Nasional tahun 2011 sebanyak 298 ribu ton, Sulawesi Tenggara memberikan kontribusi terbesar produksi Nasional. Walaupun ada peningkatan poduksi namun mutunya masih belum berstandar SNI.Mengantisipasi hal tersebut maka dalam peningkatan produksi dan daya saing, diperlukan tersedianya paket teknologi yang baik dan benar berupa Standar Prosedur Operasional (SPO). Paket teknologi yang diperlukan sejak penanaman sampai penanganan biji segar diharapkan mampu menarik Preferensi (kesukaan konsumen ) yaitu ; Produksi optimal bisa mencapai 1.000 kg/ha/tahun pohon tanaman berumur 10-25 Tahun), dengan ketentuan kualitas produksi mete sesuai standar mutu untuk ekspor/SNI, besaran biji seragam, kekerasan dan tingkat kematangan buah seragam, buah utuh, keutuhan kacang yang dihasilkan 95 % grade A warna putih, 85 % grade B warna putih , 65 % grade C warna agak putih dan 50% banyak terbelah warna agak putih, permukaan kulit kacang bebas dari bercak hitam, bebas memar karena benturan, aman dikomsumsi. Harga jambu mete merupakan aspek yang kompleks, karena banyak faktor yang saling mempengaruhi terbentuknya harga. Selama ini, faktor pasokan jambu mete relatif paling berpengaruh terhadap terbentuknya tingkat harga, disamping faktor permintaan. Penyebabnya, beberapa kontrak pembelian, pengiriman, dan tingkat harga sudah disetujui satu tahun sebelumnya. Dengan demikian, bila pada tahun yang bersangkutan mengalami penurunan produksi akibat faktor iklim, hama, penyakit, eksportir akan panik jika tidak mampu memenuhi volume kontraknya.Jambu mete adalah komoditi ekspor yang mana permintaan yang naik secara dratis tidak dapat disuplai segera oleh produsen. Sehingga diperlukan waktu untuk memenuhi permintaan tersebut. Kemudian yang patut diperhitungkan juga adalah elastisitas permintaan jambu mete dalam negeri terhadap pendapatan konsumen yang cukup tinggi. Semakin meningkat pendapatan penduduk Indonesia di masa datang, semakin besar kemungkinan mengkonsumsi jambu mete. Saat ini jambu mete belum dikonsumsi masyarakat secara umum, tetapi baru terbatas untuk golongan berpenghasilan tinggi. Mutu jambu mete rakyat ternyata masih cukup rendah. Padahal bila dilihat dari segi jumlah adalah yang terbesar, sehingga masalah mutu jambu mete pun menjadi faktor paling menonjol dan menjadi kendala utama dalam skala nasional. Ditulis kembali oleh : Ir.Kukuh Wahyu WBBP2TP, Jl. Tentara Pelajar No.10 Bogor 14116E-mail : widjajantokukuh@yahoo.comSumber : Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi