Loading...

TEHNOLOGI PASCA PANEN DAN PENGOLAHAN HASIL SORGUM

TEHNOLOGI PASCA PANEN DAN PENGOLAHAN  HASIL SORGUM
1. Pascapanen; a) Pengeringan. Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran selama ± 60 jam hingga kadar air biji mencapai 10% – 12%. Kriteria untuk mengetahui tingkat kekeringan biji biasanya dengan cara menggigit bijinya. Bila bersuara berarti biji tersebut telah kering. b) Perontokan. Perontokan secara tradisionil dilakukan dengan pemukul kayu dan dikerjakan di atas lantai atau karung goni. Pemukulan dilakukan terus menerus hingga biji lepas. Setelah itu dilakukan penampian untuk memisahkan kotoran yang terdiri dari daun, ranting, debu, atau kotoran lainnya. Kadar air tidak boleh lebih dari 10% – 12% untuk mencegah pertumbuhan jamur.c) Penyimpanan. Biji yang telah bersih dan kering dapat disimpan dalam kaleng yang kemudian ditutup rapat sehingga kedap udara. Bila biji disimpan dalam ruangan khusus penyimpanan (gudang), maka tinggi gudang harus sama dengan lebarnya supaya kondensasi uap air dalam gudang tidak mudah timbul. Dinding gudang sebaiknya terbuat dari bahan yang padat sehingga perubahan suhu yang terjadi pada biji dapat dikurangi. Tidak dianjurkan ruang penyimpanan dari bahan besi, karena sangat peka terhadap perubahan suhu. Permasalahan utama penyimpanan biji di gudang adalah serangan hama kutu (hama gudang). Hama ini dapat dicegah dengan fumigasi. 2. Penyosohan; dengan beberapa metode yaitu penyosohan secara tradisional, penyosohan dengan mesin penyosoh tipe abrasif serta penyosohan alkalis. a) Penyosohan dengan metode mekanis. Penyosohan biji sorgum varietas AZU1-1 (AZ Unpad) dengan mesin penyosoh beras tipe abrasive selama 2 menit memberikan hasil terbaik (rendemen 82.81%, biji utuh 98.04%, biji pecah 1.96%). Penyosohan selama 2 menit juga memberikan kualitas tepung yang baik dengan tingkat kecerahan (putih) yang menyerupai tepung terigu. b).Penyosohan dengan metode alkalis; Penyosohan alkalis memberikan beberapa keuntungan antara lain menghasilkan rendemen lebih besar dibandingkan penyosohan secara tradisional khususnya untuk jenis sorgum dengan kandungan tanin tinggi yang kurang efektif disosoh secara tradisional maupun menggunakan mesin penyosoh. Penyosohan menggunakan larutan NaOH 10 % selama 10 menit menghasilkan biji sorgum sosoh dengan efisiensi penyosohan (Deff) terbaik yaitu 68,67% b.k, kadar serat kasar 0,78 % b.k, serta rendemen sebesar 64,28 (% b.k). Biji sorgum sosoh yang dihasilkan berwarna kuning cerah serta kadar air sebesar 9,87 % b.k dan pH akhir biji sorgum sosoh 6,74. 3. Penepungan dengan cara dry mill; Penepungan dapat dilakukan dengan Hammer mill dengan sebelumnya diberi perlakuan pengeringan. Pengeringan dengan oven 120oC selama 10 atau 20 menit dan pengayakan dengan menggunakan ukuran saringan 40 mesh menghasilkan rendemen tertinggi. Untuk mendapatkan karakteristik tepung terbaik sebaiknya dikeringkan selama 20 menit dan menggunakan saringan 100 mesh. 4. Pengolahan tepung sorgum; Substitusi tepung terigu pada pembuatan roti; Dalam pembuatan roti, imbangan 80% tepung terigu dan 20% tepung sorgum dengan metode pembuatan roti straight process cara Lange dihasilkan roti tawar dengan karakteristik baik dan disukai. Nilai kesukaan terhadap roti tawar campuran tepung terigu dan tepung sorgum adalah untuk penampakan keseluruhan 3,7 (biasa sampai agak suka); warna crust 3,4 (biasa sampai agak suka); warna crumb 4,0 (agak suka); keseragaman pori 4,0 (agak suka); aroma 3,5 (biasa sampai agak suka); keempukan dengan ditekan 3,8 (biasa sampai agak suka); keempukan dengan digigit 4,0 (agak suka) dan rasa 3,7 (biasa sampai agak suka), pengembangan volume roti tawar sebesar 272,17 % dan kadar air bagian crust 23,52%, bagian crumb dekat crust 34,21%, serta bagian crumb 53,93%. 5. Imbangan tepung sorgum dengan tepung ketan dalam pembuatan Opak; Dalam pembuatan Opak sorgum, imbangan terbaik antara tepung sorgum dan tepung ketan diperoleh pada substitusi tepung sorgum 50% (50:50) karena memiliki tingkat pengembangan paling tinggi dan menghasilkan nilai kesukaan sifat permukaan, citarasa dan kerenyahan paling baik. Pada imbangan tersebut, Opak yang disangan memiliki karakteristik inderawi (warna dan pengembangan) lebih baik dibandingkan dengan opak yang dipanggang. Opak yang dihasilkan tidak memiliki pengembangan yang merata, sehingga tekstur permukaan opak matang tampak seolah-olah ada gelembung-gelembungnya. 6. Substitusi tepung terigu pada pembuatan Stik Bawang; Untuk pembuatan makanan ringan stik bawang, imbangan tepung sorgum dan tepung terigu sebesar 60:40 menghasilkan karakteristik adonan yang baik, dan merupakan imbangan yang paling disukai yang meliputi citarasa, kehalusan permukaan, aroma, kerenyahan, dan kenampakan keseluruhan. Rata-rata konsumen/ panelis dalam penelitian memperlihatkan tingkat kesukaan dari biasa sampai suka. 7. Imbangan tepung sorgum dan tepung tapioka dalam pembuatan Krupuk; Untuk pembuatan krupuk sorgum, imbangan terbaik antara tepung sorgum dan tepung tapioka adalah sebanyak 50:50. Hasil krupuk rata-rata disukai sampai sangat suka oleh para konsumen/ panelis. Penambahan imbangan tepung sorgum sampai 60% telah meningkatkan kerenyahan dan citarasa dari krupuk yang dihasilkan. Namun demikian penampakan krupuknya menjadi kurang menarik dan berwarna agak coklat. Hal ini bisa diatasi dengan penambahan pewarna makanan pada adonan krupuk. 8. Pengolahan produk lainnya; a) Bergs Sorgum (bergs sorgum giling) Bergs Sorgum yang dimaksud adalah biji Sorgum lepas kulit sebagai hash penyosohan sehingga diperoleh bergs sorgum giling. Untuk menyosoh biji sorgum digunakan mesin yang terdiri dari silinder gurinda batu, sehingga bergs yang dihasilkan putih bersih. Dengan sifat ini ternyata sorgum jenis non waxy dapat digunakan sebagai nasi, bubur dan bentuk olahan lain. Sedangkan jenis sorgum ketan (waxy Sorgum) yang rasanya pulen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat minyak (snack) seperti tape, Temper, rengginang dan wajik. b) Tepung Sorgum; Tepung sorgum dapat diperoleh dengan menggiling bergs sorgum dalam mesin yang dilengkapi dengan silinder besi yang tajam dan licin. Campuran 60% tepung kedelai dengan 30% tepung sorgum dapat menghasilkan roti dan kue yang cukup baik dan murah harganya. c) Uji ( thin poridge ); Jenis makanan ini terbuat dari tepung sorgum dan banyak dipakai di negara kenya, Tanzania, Uganda, Sudan dan India dengan nama yang berbeda-beda.Uji dibuat dari 1 bagian tepung sorgum. 3 - 4 bagian air, satu bagian susu cair dan gula secukupnya. d)I Ugali ( Stift Oorrid) Jenis makanan ini berasal dari Uganda dan Kenya dengan nama Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yaho.co.idSumber : Direktorat Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2012, Tehnis Budidaya Sorgum