Loading...

Tekan Populasi Tikus, Poktan Maeso Suro Dirikan Rubuha

Tekan Populasi Tikus, Poktan Maeso Suro Dirikan Rubuha
Hama tikus memang merugikan petani. Ia menyerang tanaman padi mulai persemaian sampai menjelang panen. Bahkan hasil panen yang sudah disimpan di rumah tidak luput dari seranganya. Kelompok Tani Maeso Suro Desa Gambor Kecamatan Singojuruh saat ini mulai menyemai benih padi lagi. Untuk antisipasi serangan hama tikus, mereka mendirikan Rumah Burung Hantu (Rubuha) di tengah persawahan. Yanto, salah satu petani desa setempat mengatakan sangat senang dengan pendirian Rubuha di sekitar sawahnya. Ia berharap serangan hama tikus bisa berkurang. Sementara itu Ketua Poktan Meso Suro, Ishak mengaku dulu sebagian petani mengendalikan tikus dengan obat dan setrum listrik. Tetapi, penggunaan listrik juga membahayakan apalagi saat malam petugas HIPPA dan petani menjaga sawahnya masing-masing. Menanggapi tetang pendirian Rubuha ini, Koordinator BPP Singojuruh Radyan Andi mengatakan, “Minimnya pohon besar ditengah sawah, menjadi pemikiran untuk membuat rumah tempat tinggal bagi Tyto alba. Rumah burung hantu tersebut diperlukan untuk tempat tinggal Tyto alba, tempat bertelur dan membesarkan anak, mengintai tikus dan menghindari dari penembak/ pemburu burung”. Perlu diketahui, burung hantu (Tyto alba) termasuk golongan burung buas (karnivora, hewan pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal) dan juga merupakan jenis burung yang kerap digunakan sebagai hewan pembasmi hama tikus di sektor pertanian. Sebagai Predator alam, burung hantu jenis serak jawa (Tyto alba) merupakan pemburu tikus yang paling populer dan andal. Dalam pertanian, sepasang burung hantu dapat melindungi 10-20 Hektar tanaman padi. Dalam waktu satu tahun, satu ekor burung hantu dapat memangsa 1300 ekor tikus. author : aa’ v-Q (p4 di BPP Kec. Singojuruh Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi)