TEKNIK OKULASI KARET Karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan di Indonesia, baik oleh BUMN, Perkebunan swasta, maupun masyarakat secara pribadi. Untuk meningkatkan produksi yang dihasilkan tanaman karet, salah satunya dengan menggunakan bibit unggul.1. PengertianOkulasi adalah salah satui teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan menempelkan mata tunas dari suatu tanaman kepada tanaman lain yang dapat bergabung( Kompatibel) yang bertujuan menggabungkan sifat-sifat yang baik dari setiap komponen sehingga di peroleh perumbuhan dan produksi yang baik. Prinsip okulasi sama yaitu penggabungan batang bawah dengan batang atas, yang berbeda adalah umur batang bawah dan batang atas yang digunakan sehingga perlu teknik tersendiri untuk mencapai keberhasilan okulasi. Kebaikan yang diharapkan dari batang bawah secara umum adalah sifat perakarannya yang baik, sedang dari batang atas adalah produksi Latex yang baik. Bila bibit yang di okulasi ini di tumbuhkan dilapangan dikatakan tanaman okulasi sedangkan tanaman asal biji yang di tumbuhkan dilapangan disebut tanaman semai.3. Teknik Okulasi KonvensionalDikatakan teknik okulasi konvensional karena metoda okulasi inilah yang umum digunakan untuk mempersiapkan bentuk bahan tanaman secara komersial hingga munculnya teknik yang baru yaitu: okulasi hijau (Green budding) okulasi konvesional ini disebut juga okulasi coklat ( brown budding)- Batang bawahUntuk keberhasilan okulasi perlu diperhatikan syarat-syarat berikut:- Batang bawah yang di anjurkan adalah semaian klonaol GT1, AVROS 2037 dan LBC1320- Bibit Semaian telah berumur 9 hingga 18 bulan batangnya sudah berwarna coklat dan mempnuyai 4-5 karangan daun dapat juga digunakan yang berumur 6-9 bulan asal sudah berbatang coklat dan mempnyai 3-4 karangan daun- Diameter batang telah mencapai 1,5-2 cm dan pertumbuhannya normal- Kulit berada dalam stadia mudah dilepas tidak lengket atau pada daun stadia daun tuaTaraf pertumbuhan batang bawah sangat mempengaruhikeberhasilan okulasi, pengokulasianpada stadia flush (bersemi) atau masa pembentukan payung daun sangat rendah persentase okulasi yang jadi3.2. - Batang Atas atau EntresSebagai batang atas di pilih klon yang ssesuai dengan likungan ekologi yang bersangkutan dari klon-klon yang dianjurkan terutama klon-klon yangdianjurkan dalam skla besar. Pemilihan klon yang tepat akan menjamin produktivitas dikemudian hari dalam jangka panjang. 3.3. - Mata TunasAda 3 jenis mata atau kuncup tidur (Dorman) yang dikenal pada tanaman karet dan satu mata bunga:- Mata Ketiak: atau disebut juga mata prima yang fitandai adanya bekas tangkai daun atau berda pada ketiak daun, bila hendak digunakan terlebih dahulu dipangkas daunnya kira-kira 10 hari sebelum dipotong di gunakan sebagai mata untuk okulasi coklat.- Mata burung: ditandai adanya tangkai daun rudimenter. Yang digunakan untuk okulasi hijau.- Mata sisik: mata yang terdapat dibawah kuncup daun-daun ( Flush) atau pada ujung payung daun. Digunakan untuk okulasi mini.- Mata bunga: terdapat pada tanaman yang sudah masuk umur berbunga tidak dapt digunakan untuk okulasi.4. Teknik Okulasi HijauDisamping tekni okulasi konvensional atau okulasi coklat dikembangkan pula metoda okulasi hijau kalau dalam okulasi konvensional digunakan batang bawah yang sudah berwarna coklat maka dalam okulasi hijau digunakan mata okulasi dari entres yang masih berwarna hijau(green budwood). Berdasarkan warna komponen tersebut dikatakanlah okulasi hijau.4.1. - Batang bawahSyarat-syarat batang bawah okulasi hijau adalah sebagai berikut:- Batang bawah yang di anjurkan adalah semaian klonaol GT1, AVROS 2037 dan LBC1320.- Bibit semaian batang bawah telah berumur 3-5 bulan. Lazimnya berumur 5nulan yang leh mudah dapt juga digunakan asal pertumbuhan dan batangnya sudah cukup besar.- Diamer batang sebesar pensil atau telah mencapai diameter 8- 12mm diukur pada pangkal batang- Kulit berada dalam stadia mudah dilepas tidak lengket atau pada stadia daun tua.4.2. - Batang atas atau entresEntres atau kayu okulasi hijau digunakan tunas-tunas atau taruk-taruk hijau yang ujungnya berdaun yang telah mempunyai diameter 1-1,5 cm dan daun-daun pada karangan daun diujung telah berwarna hijau dan masih lemah. Untuk memproleh taruk-taruk hijau pohon batang atas atau pohon entres dipangkas beberapa cm diatas karangan mata, karena pemangkasan tersebut akan tumbuh sejumlah tunas-tunas dari karangan mata yang dibiarkan tumbuh hingga 5-6minggu. Tunas-tunas ini segera dipanen sebagai kayu okulasi hijau.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan okulasiAda sejumlah faktor yang mempengaruhi keberhasilan okulasi yaitu:a. Keterampilan, kebersihan dan kecepatan mengokulasib. Pemilihan entres atau kayu okulasi dengan mata tunas yang masih dormanc. Keadaan iklim pada musim kemarau tanaman karet mengalami gugur daun, kurang baik untuk pengokulasian karena adanya gangguan visiologis. Yang baik adalah pada awal dan akhir musim penghujan, pada musim hujan juga tidak baik, air hujan dapat meresap pada luka okulasi yang dapat mengakibatkan busuk. Kelembaban tinggi baik untuk perkembangan jasad renik pada sisa-sisa latex dari luka okulasi, ini dapat dapat menyebabkan kegagalan pengokulasian.Syarat-syarat batang bawah yang digunakan pada okulasi hijau : • Batang bawah yang di anjurkan adalah semaian klonaol GT1, AVROS 2037 dan LBC1320.• Bibit semaian batang bawah telah berumur 3-5 bulan. Lazimnya berumur 5nulan yang leh mudah dapt juga digunakan asal pertumbuhan dan batangnya sudah cukup besar.• Diamer batang sebesar pensil atau telah mencapai diameter 8- 12mm diukur pada pangkal batang• Kulit berada dalam stadia mudah dilepas tidak lengket atau pada stadia daun tua. Syarat Batang atas atau entres yang digunakan pada okulasi hijau : • kayu entres yang digunakan telah berumur 1-3 bulan setelah pemangkas. • Batangnya berwarna hijau atau telah membentuk 1-2 payung daun, payung teratasnya berwarna hijau dampai hijau tua. Cara Kerja : 1. Buat jendela okulasi pada batang bawah. Batang bawah ini harus bersih dari tanah atau kotoran yang menempel. Jendela okulasi dibuat 7-10 cm dari tanah dengan lebar sepertiga lingkaran batang dan panjangnya sekitar 5 cm. arah pengirisan dari bawah keatas dan ujung pisau harus menyentuh kayunya. Bagian atas dari jendela diiris miring sedangkan bagian bawah tidak.2. Irislah sekitar10-15 batang dan biarkan hingga getahnya kering sehingga kulitnya mudah dikupas (Disaat mengupas, pisau dan jari jangan sampai menyentuh getah). 3. Irislah mata tunas beserta perisainya dari kayu entres (ikutkan sedikit lapisan kayu yang menutup bakal tunas)4. Perisai dipegang tepinya dan bagian dalamnya jangan sampai teraba oleh jari. Bila perisai harus diletakkan di tanah, letak punggungnya dibawah dan bagian dalamnya diatas. Bersihkan tepi perisai yang tajam hingga diperoleh ukuran yang sama dengan jendela okulasi. Potonglah sisi bawah perisai tegak lurus dibagian yang tidak pernah tersentuh oleh jari. 5. keluarkan lapisan kayu pada perisai dengan cara jari tangan menahan bagian punggungnya dan pisau menahan bagian dalamnya. Hati-hati jangan sampai kulitnya dibengkokkan. Periksa keberadaan bakal tunas bagian dalamnya yang tampak seperti bintil. Jika sudah tidak ada, maka perisai itu tidak bisa digunakan.6. Potong bagian atas perisai dengan kemiringan yang sama dengan kemiringan bagian atas jendela. Bagian yang dipotong adalah bagian yang sudah terkena pisau saat melepaskannya dari kayu. 7. jendela yang telah dikeringkan, dikupas dengan hati-hati dengan bantuan ujung pisau. Ujung pisau mengupas kulit dari bagian ujung jendela hingga seluruh kulit pada jendela terkupas. Kulit kambium pada lapisan luar bisa dipegang, sedangkan kambium yang ada pada batang bawah jangan sampai tersentuh.8. Perisai ditempelkan ke jendela okulasi. Setelah saling menempel perisai jangan sampai bergeser karena akan merusak lapisan kambium pada jendela okulasi dan bakal tunas akan lepas. Jika letaknya terbalik, maka tunas yang terbentuk akan tumbuh ke bawah kemudian membengkok keatas.9. Bibir jendela okulasi ditutupkan tepat dipunggung perisai dan dibalut dengan tali rafia. 10. Setelah okulasi berumur 14 hari, balutan bisa dilepas dengan menggunakan pisau tajam. Kemudian okulasi diperiksa dengan cara perisai ditoreh halus. Bila torehannya berwarna hijau berarti okulasi itu jadi. Sedangkan bila berwarna cokelat berarti mati.