Nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang sudah banyak ditanam petani hampir diseluruh kepulauan Indonesia antara lain Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Saat ini nilam termasuk komoditas utama tanaman perkebunan yang oleh Kementerian Pertanian akan terus dikembangkan. Luasan tanaman nilam telah mencapai sekitar 150 ha yang tersebar di 10 provinsi lokasi khusus pengembangan nilam di Indonesia yaitu Aceh, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, DI Yogyakarta, Bali dan Gorontalo. Pembudidayaan nilam tergolong tidak sulit, namun tetap membutuhkan ketelatenan. Tahapan pembudidayaan yang perlu diperhatikan meliputi pembibitan, penanaman, perawatan, pemanenan, dan penyulingan minyak nilam. Pohon Nilam (Pogostemon cablin Benth) dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi (0 – 1.200 m dpi). Nilam akan tumbuh baik pada ketinggian 10m- 400 m dpi. Nilam tidak memerlukan banyak air, tapi juga tidak tahan kering. Menghendaki suhu 24 – 28°C, tapi lembab (lebih dari 75%), curah hujan merata sepanjang tahun (2.000 – 3.500 mm per tahun), dan tanah yang mengandung banyak humus.Nilam yang sudah dipanen dipotong-potong 3 – 5 cm, kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama empat jam (pukul 10.00 -14.00). Setelah itu diangin-anginkari di atas para-para yang teduh, sambil dibolak-balik 2 – 3 kali sehari selama 3 – 4 hari hingga kadar airnya tinggal 15% (ini kondisi siap suling). Pengeringan tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat membuat daun rapuh dan sulit disuling. Terlambat kering, daun menjadi lembapdan mudah ditumbuhi jamur. Akibatnya, rendemen atau mutu minyak yang dihasilkan menurun. Minyak nilam memberikan sumbangan cukup besar dalam penghasil devisa Negara di antara minyak atsiri lainnya. Namun produksi minyak nilam di Indonesia masih terbatas dan produksinya belum optimal. Panen pertama dilakukan setelah tanaman berumur 4-5 bulan, Panen berikutnya dilakukan berturut-turut dengan jarak 2-3 bulan sampai tanaman berumur 2 tahun dan harus diremajakan. Kandungan minyak nilam, terdapat pada waktu tunas mengeluarkan 3 daun pertama. Kandungan ini tidak bertambah meskipun daun bertambah lebar. Oleh sebab itu panen pertama dapat dilakukan setelah tumbuh lima pasang daun.Setelah dipanen, daun nilam dijemur dengan sering dibolak-balik agar kering merata. Terkadang dibiarkan terjadi fermentasi. Ekspor dapat dilakukan dalam bentuk daun kering atau setelah disuling. Pembeli dari luar negeri cenderung menyuling sendiri karena Indonesia sebagai penghasil utama melakukan penyulingan secara langsung dan daunnya disuling tanpa dipilih.Pemanenan daun nilam sebaiknya dilakukan pagi hari, atau menjelang petang, ketika musim kering. Maksudnya agar daun tetap mengandung minyak atsiri tinggi (2,5 -5%). Pemetikan siang hari membuat daun kurang elastis dan mudah robek, Juga transpirasi (penguapan air) daun iebih cepat sehingga kadar minyak atsirinya berkurang. Alatnya bisa berupa sabit, gunting, atau parang tajam.• Panen dapat dilakukan pada umur 6 - 8 bulan setelah tanam• Semua bagian tanaman nilam, yaitu akar, batang, cabang dan daun mengandung minyak atsiri• Alat yang digunakan sabit, gunting, atau parang yang tajam dan bersih• Panen pertama, bagian yang boleh dipangkas adalah cabang-cabang dari tingkat dua ke atas, sedang cabang-cabang tingkat pertama ditinggalkan• Selesai panen pertama, bila cabang-cabang pertama jauh dari tanah dirundukkan tetapi tidak putus kemudian ditimbun tanah pada setiap tunasnya• Setelah tanaman umur 9 bulan, tanaman dapat dipanen kedua kalinya dengan cara seperti panen pertama, sehingga akan diperoleh cabang-cabang baru dan anakan baru.• Demikian selanjutnya sampai panenan pada bulan ke-12, 15, 18, 21, 24, dst.• Panenan daun nilam dipotong-potong + 3-5 cm kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar air 15 % kemudian di suling. Ditulis kembali oleh : Ir. Kukuh Wahyu W (BBP2TP)e-mail : widjajantokukuh@yahoo.comSumber : Puslitbangbun, 2014