Loading...

teknik pengendalian hama tikus sawah

teknik pengendalian hama tikus sawah
tikus sawah tergolong hewan nokturnal dan melakukan aktivitas harian yang teratur, yang bertujuan untuk mencari pakan, minum, pasangan, dan orientasi kawasan. tikus menyenangi tempat-tempat yang gelap karena di tempat ini tikus merasa aman dan terlindung. pada umumnya tikus sawah menempati liang atau tempat persembunyian lainnya. tanaman padi merupakan pakan utama bagi tikus sawah dan semua stadia pertumbuhan dapat dirusak. daur perkembangan dan besarnya kerusakan yang ditimbulkan oleh tikus sawah berkaitan erat dengan fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. jumlah anakan padi yang dikerat oleh seekor tikus sawah dalam semalam tergantung dari musim dan fase pertumbuhan tanaman. pada tanaman padi umur 2 hari setelah semai, seekor tikus mampu merusak 126- 522 bibit dengan rata-rata 283 bibit semalam. tanaman padi mulai bermalai, seekor tikus dapat memotong 11-176 anakan atau rata-rata 79 batang. pada stadia ini tanaman padi rusak karena dipotong dan dimakan bagian titik tumbuh/umbut yang masih lembut. dari sejumlah malai yang dipotong ternyata hanya beberapa malai saja yang dimalan bulirnya, selebihnya dibiarkan berserakan atau dijadikan sarang. kerusakan tanaman padi pada waktu bunting dan bermalai adalah yang sangat berpengaruh terhadap turunnya produksi. pada awal pertanaman padi dengan pola tanam serempak populasi tikus sawah masih sedikit. pada periode tersebut sebagian tikus sawah masih menghuni tanggul irigasi primer, sekitar pekarangan, gudang, tegalan. tikus-tikus membuat liang pada pematang yang ditumbuhi rerumputan karena daerah-daerah ini aman dari bahaya dan memiliki pakan yang cukup tersedia untuk perkembangbiakannya. pada tanaman padi menjelang bermalai, tikus sawah mulai berdatangan dan menghuni lubang lama atau membuat lubang baru untuk berkembang biak. pada stadia generatif pertanaman padi, terjadi puncak populasi tikus sawah dan 90% populasi terdiri dari tikus muda. tersedianya padi bermalai merupakan habitat yang mendukung terjadinya perkembangbiakan tikus sawah. banyak cara pengendalian dan pencegahan tikus sawah yang dilakukan para petani, seperti cara kultur teknis, sanitasi, fisik-mekanis, biologis atau hayati, dan kimiawi (umpan beracun dan fumigasi). tiap-tiap cara pengendalian memiliki kelebihan dan kekurangannya. oleh karena itu dalam usaha pengendalian hama, termasuk tikus, dianut konsep pengendalian hama terpadu. berikut konsep terpadu yang dimaksud: (1) pengendalian dengan cara kultur teknis atau bercocok tanam; (2) pengendalian dengan sanitasi adalah dengan memusnahkan tumpukan jerami setelah panen, karena tumpukan ini menyediakan peluang bagi tikus untuk membuat liang, bersarang dan berkembang biak; (3) membunuh tikus secara langsung, mengusir tikus dengan bermacam-macam alat yang tidak bersifat kimia, dan melindungi tanaman dari serangan tikus; (4) pengendalian secara hayati (biologi) terhadap populasi tikus dilakukan dengan menggunakan parasit, predator, atau patogen untuk mengurangi atau bahkan meghilangkan populasi tikus dari suatu habitat; (5) pengendalian dengan umpan beracun; (6) pengendalian dengan fumigan. penulis : christyan junitari, s.tp-bpp balerejo