Oleh : Cecep Sasmita Arianto Penyimpanan benih merupakan salah satu mata rantai terpenting dalam rangkaian kegiatan teknologi benih. Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih dalam periode penyimpanan yang cukup lama. Purwanti, (2004) menyatakan bahwa kedelai hitam yang disimpan pada suhu rendah (20.6oC) memiliki viabilitas 100 % meskipun telah disimpan selama 6 bulan didalam kantong plastk dan kaleng penyimpanan. Namun kedelai kuning mengalami penurunan viabilitas setelah disimpan selama 6 bulan dengan perlakuan suhu dan kadar air yang sama dengan kedelai hitam. Hal ini mengindikasikan bahwa suhu penyimpanan mempengaruhi pelepasan ion (Panobianco dan Vieira, 2007) dan jumlah elektrolit tercuci pada benih (Vieira et al,.2008) serta memiliki interaksi dengan jenis varietas (Singh dan Gunasena,.1975). (Soemardi dan Tharir, 1985) biji kedelai yang memiliki kadar air 16 % pada periode penyimpanan dapat mengakibatkan kerusakan biji lebih besar dibandingkan dengan kadar air 9 % dan 12 %. (Rogers, 2006) menyatakan bahwa kesuksesan penyimpanan benih sangat dipengaruhi oleh kelembaban relatif dan suhu pada ruang simpan. Kartono (2004), Kadar air awal benih 8 secara konstan, benih kedelai dapat disimpan di gudang biasa hingga 3 tahun tanpa menurunkan daya kecambahnya. Penyimpanan dengan menggunakan kemasan kedap udara dan ruangan penyimpanan bersuhu Beberapa faktor yang mempengaruhi daya kecambah benih kedelai selama penyimpanan adalah :1. Mutu dan daya kecambah benih sebelum disimpan2. Kadar air benih3. Kelembaban ruang penyimpanan4. Suhu tempat penyimpanan5. Hama dan penyakit ditempat penyimpanan6. Lama penyimpanan Menurut Direktorat Bina Pembenihan (1996), untuk mendapatkan benih bermutu tinggi, sebelum disimpan biji kedelai harus dibersihkan dari kotoran seperti :1. Kulit polong, batang atau ranting2. Batu, kerikil atau tanah3. Biji luka, memar atau retak4. Biji yang kulitnya keriput5. Biji berbelang coklat