Teknik persemaian padi merupakan kegiatan untuk memproses benih padi menjadi bibit untuk siap ditanam ke lahan. Benih yang baik apabila diproses dengan teknik persemaian yang baik akan menghasilkan bibit yang baik, sebaliknya teknik persemaian yang tidak sesuai akan menghasilkan bibit yang kurang baik pula. Bibit yang berkualitas dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu akan diperoleh apabila teknik persemaian yang dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur yang benar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam teknik persemaian padi sistem basah atau konvensional adalah sebagai berikut : Waktu Persemaian dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00 sampai jam 09.00 wib. Untuk efisiensi waktu dan memenuhi target tanam, persemaian mulai dilakukan maksimal 25 hari sebelum bibit siap di tanam di lahan. Lokasi Untuk penentuan lokasi persemaian haruslah memenuhi persyaratan agroekologi yang direkomendasikan. Antara lain ; lokasi persemaian haruslah berada di areal lahan dimana bibit nantinya akan di tanam, tanah memiliki kandungan humus dan berstruktur remah, dekat dengan sumber air, jauh dari naungan dan sinar lampu. Luas Areal semai seluas 3–5% dari total lahan yang akan di tanami. Bahan dan alat Adapun bahan-bahan serta alat yang diperlukan antara lain; benih padi (75 g/m²), urea, phonska, pupuk organik/kompos, abu, pestisida, air, sprayer, timba, gembor dan cangkul. Pelaksanaan Bersihkan gulma di areal calon lokasi persemaian. Tanah di cangkul sebanyak dua kali, lalu biarkan selama 1 hari untuk mematikan biji gulma. Hari berikutnya tanah cukup di cangkul satu kali lalu aplikasikan pupuk organik kemudian langsung di ratakan. Buat petakan semai dengan lebar 120 cm dan panjang 500 cm. Di usahakan antar petakan di beri jarak 30 cm untuk memudahkan penaburan benih, pemupukan, penyiraman atau pengairan, peniangan serta pengendalian opt. Setelah selesai membuat petakan, lalu genangi air selama 1 hari. Benih di rendam dalam air selama 24 jam untuk mempercepat perkecambahan dan memisahkan biji hampa dan bernas. benih yang hampa akan mengapung di permukaan air lalu di buang, selanjutnya benih yang bernas atau tenggelam di peram dalam karung selama 8 jam. Untuk lahan endemis Pyricularia oryzae benih di perlakukan dengan fungisida anjuran. Setelah itu, benih disebar ke areal persemaian secara merata kemudian di taburi abu atau tanah halus atau di tutup dengan dedauan agar kelembaban tanah terjaga serta terhindar dari burung. Setelah 5 hss, persemaian di pupuk 200 gram urea dan 200 gram phonska setiap 10 m². Pemeliharaan Agar bibit tetap tumbuh subur maka penyiraman haruslah dilakukan setiap hari memakai gembor, waktunya boleh pagi maupun pada sore hari, minimal 1 kali sehari atau bisa juga dilakukan dengan pengairan melalui saluran irigasi setidaknya 5 hari sekali. Untuk menghindari serangan pengerek batang dan tungro, di persemaian di taburi insektisida dengan bahan aktif karbofuran sebanyak 20 gram per 10 m². Penulis : Mardiyah, SP