Loading...

TEKNIK PERSEMAIAN PADI SISTEM KERING

TEKNIK PERSEMAIAN PADI SISTEM KERING
Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia sendiri, tanaman padi dikembangkan hampir di seluruh daerah. Tapi seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya lahan sebagai lahan pertanian membuat teknologi pengembangan padi semakin terus meningkat. Salah satunya melalui sistim persemaian yang digunakan. Selama ini, masyarakat Indonesia mengenal persemaian padi sistim basah, yang memiliki kekurangan di antaranya : memerlukan tempat yang luas yang berakibat pada pengontrolan hama penyakit yang kurang maksimal. Untuk itu dikembangkanlah persemaian padi sitim kering yang tidak membutuhkan lahan yang luas. Persemaian padi sistim kering mulai sering digalakkan pemerinta,h salah satunya melalui sistim padi SRI yang memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki persemaian padi sitim basah. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan yang relatif sempit seperti pekarangan rumah. Selain itu persemaian padi sistim kering juga mudah dalam pengawasan hama dan penyakit serta tidak memerlukan tenaga kerja karena bisa dikerjakan sendiri. Berikut adalah beberapa hal yang harus anda siapkan untuk membuat persemaian kering Bahan Benih Padi Pupuk Kandang Tanah Nyiru/plastik/nampan/terpal Daun pisang sebagai alas Cara membuat persemaian Benih Benih yang akan di tanam di rendam terlebih dahulu oleh air hangat, biarkan air sampai dingin selama 1 hari 1 malam, kemudian di peram selama 2 x 24 jam, tujuanya agar menghilangakan proses dormansi. Hal ini di tandai dengan munculnya akar – akar kecil pada biji menandakan siap di tanam. Atau anda bisa melakukan uji kecambah terlebih dahulu untuk memastikan berapa persen pertumbuhan benih. Persiapan Tanah Untuk media tanamnya dapat menggunakan tanah yang sudah tercampur oleh pupuk organik atau pupuk non-organik (kristal) tetapi di sarankan menggunakan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 2. Pastikan bahwa pupuk organik yang anda gunakan benar-benar matang, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan benih yang akan di tanam. Untuk memastikan pupuk organik itu matang atau tidak, anda bisa cek kematanganya dengan cara memasukan pupuk kedalam ember kemudian tunggu sampai pupuk mengendap dan lihat jika air bening berarti pupuk organik itu sedah siap di gunakan, begitu juga sebaliknya. Persiapan Media Tanam. Untuk menyiapkan media tanam kita akan menggunakan daun pisang sebagai alas dasar dari permukaan tanah yang tercampur pupuk 4. Sebar Benih Kemudian benih yang sudah diperam 2 x 24 jam tadi di sebarkan di permukaan tanah dengan kepadatan 0,6 – 0,7 Kg/m2 media. Setelah tersebar merata, lalu tutup persemaian dengan potongan rumput alang-alang tipis tipis atau bisa menggunakan campuran tanah dan pupuk kandang. Lalu siram. 5. Pemeliharaan Selanjutnya setelah benih tumbuh kurang dari 2 cm, penyiraman dilakukan 2 x sehari (melihat kondisi cuaca) serta kelembaban tanah semai setiap pagi dan sore. Pengambilan penutup rumput dilakukan 4 hari setelah penyebaran benih (biasanya benih telah tumbuh sekitar 2 cm). Setelah tutup diambil, maka penyiraman dilakukan 1 hari sekali pada waktu sore hari (melihat kondisi cuaca). Bibit Siap ditanam umur terpendek 9 hari atau umur maksimal 16 hari. Ditulis Oleh: Siti Fakihatul Munawarah (PPL Desa Peresak)