Loading...

Teknik Produksi Benih Kedelai

Teknik Produksi Benih Kedelai
Secara umum tidak terdapat perbedaan teknik budidaya kedelai untuk tujuan produksi benih dengan konsumsi, kecuali adanya kegiatan pemeliharaan mutu genetik melalui pemeriksaan lapangan pada produksi benih. Pada prinsipnya, tanaman diupayakan untuk tumbuh sehat, bebas dari cengkraman organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dan mengakomodasikan teknologi pascapanen agar benih yang dihasilkan terjamin mutunya. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam produksi benih kedelai yaitu:1. Kegiatan produksi dilakukan di sentra produksi, pada lahan subur dengan sumber pengairan yang memadai, dan tidak di lokasi endemik hama/ penyakit.2. Penanaman dilakukan pada waktu yang tepat. Tanam lebih awal atau terlambat menyebabkan tanaman berpotensi terserang hama dan penyakit. Tanam serempak pada satu hamparan dapat mengurangi biaya produksi dan menekan serangan hama dan penyakit.3. Pemeliharaan tanaman dilakukan secara optimal. Penyiangan yang terlambat tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman akibat persaingan dengan gulma, tetapi juga meningkatkan biaya penyiangan. Hama dan penyakit dikendalikan secara terpadu. Pestisida digunakan apabila komponen pengendalian yang lain tidak efektif. Aplikasi pestisida perlu tepat waktu, tepat sasaran, tepat dosis, dan tepat jenis.4. Panen dilakukan pada saat yang tepat. Penundaan waktu panen menyebabkan hilangnya sebagian hasil pada saat panen. Penanganan pascapanen dengan tepat penting artinya untuk mendapatkan benih yang bermutu. Penyiapan LahanTanah bekas pertanaman padi tidak perlu diolah (tanpa olah tanah/TOT). Jika menggunakan lahan tegal, pengolahan tanah dilakukan secara intensif, dua kali bajak dan diratakan. Pemilihan Varietas dan Kebutuhan BenihSaat ini telah tersedia sejumlah varietas unggul baru kedelai yang sesuai untuk lahan sawah dan lahan kering (misalnya Anjasmoro, Kaba, Sinabung, Ijen, Grobogan, dan Dering 1) dan lahan masam (Tanggamus, Seulawah, dan Ratai), Pilih varietas yang sesuai dengan preferensi pengguna. Kebutuhan benih untuk benih berukuran kecil (40 kg/ha), berukuran sedang (50 kg/ha), dan berukuran besar (60 kg/ha). PenanamanBenih ditanam dengan tugal dengan kedalaman 2-3 cm. Jarak tanam (10-15 cm x 40 cm) dengan jumlah biji (2-3 biji)/lubang tanam, dan dilakukan penjarangan pada umur 2 minggu dengan menyisakan 2 tanaman/rumpun. Pada lahan sawah, kedelai dianjurkan untuk ditanam tidak lebih dari lima hari setelah padi dipanen untuk menghindari kekeringan dan serangan hama dan penyakit. PemupukanTanaman dipupuk dengan Urea (59 kg/ha), SP 36 (75 kg/ha), dan KCl (59 kg/ha) pada saat tanam. Pada lahan sawah yang subur atau pada lahan bekas padi yang dipupuk dengan dosis tinggi, tanaman tidak perlu tambahan pupuk NPK. Penggunaan Mulsa Jerami PadiPenggunaan mulsa jerami dapat mngurangi frekuensi penyiangan dan menekan serangan hama lalat kacang. Pada lahan sawah dianjurkan menggunakan mulsa. Mulsa jerami dihamparkan sebanyak 5 ton/ha secara merata di permukaan lahan dengan ketebalan PengairanFase pertumbuhan kedelai yang sangat peka tehadap kekurangan air yaitu pada awal pertumbuhan vegetatif (15-21 HST), saat berbunga (25-35 HST), dan saat pengisian polong (55-70 HST). Pada fase-fase tersebut tanaman harus diairi apabila tidak ada hujan. Pengendalian Hama dan PenyakitPengendalian hama dilakukan berdasarkan hasil pemantauan. Jika populasi hama tinggi atau kerusakan daun 12,5 % dan kerusakan polong 2,5%, gunakan insektisida yang efektif untuk pengendalian hama. Pengendalian hama secara kultur teknis dan secara hayati (biologis) lebih diutamakan, antara lain dapat menggunakan mulsa jerami, pergiliran tanaman, tanam serempak dalam satu hamparan, dan penggunaan tanaman perangkap jagung dan kacang hijau. Sedangkan penyakit utama antara lain karat daun dan beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit karat daun dapat dikendalikan dengan fungisida anjuran seperti Mancozeb. Pengendalian virus dilakukan dengan mengendalikan vektornya berupa serangga hama kutu dengan insektisida anjuran seperti Deltamethrin, dilakukan pada saat tanam berumur 40, 50, dan 60 hari. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan