Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah (struktur tanah dan tekstur tanah) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan sawah terdiri dari beberapa tahap : Pembersihan Selokan-selokan perlu dibersihkan untuk memperlancar aliran air irigasi yang masuk ke petak sawah. Jerami yang ada perlu dibababat untuk pembuatan kompos, jerami ikut dibenamkan kedalam tanah, lebih baik lagi jika ditaburi atau disemprot dengan decomposer agar pembusukannya lebih cepat dan sempurna. Sebelum pengolahan tanah dimulai, pematang harus diperbaiki, dibuat cukup tinggi dan lebar, agar dapat menahan air dengan baik. Sebab dalam Pengolahan tanah air tidak boleh mengalir keluar. Pengairan perlu diperbaiki dan dibersihkan dari rumput-rumput. Ini akan mencegah kehilangan air pengairan dan mengurangi terwabahnya biji gulma kedalam petakan-petakan sawah. 1. Pencangkulan Perbaikan pematang dan petak sawah yang sukar dibajak, fungsinnya untuk membersihkan pematang dari gulma dan memperkuat pematang sehingga tidak dijebol jika air sudah masuk kelahan cukup banyak apa lagi musim hujan, pembersihan pematang juga berfungsi untuk mencegah hama tikus karna pematang yang bersih dengan sendirinya akan membuat tikus tidak nyaman untuk tinggal. Pembuatan saluran drainase, kegunaandari saluran drainase ini adalah mengatur tinggi air, dan kondisi air lahan ,lahan yang selalu sering dialiri air. 2. Pembalikan tanah dengan traktor Sebelum membajak, airilah petakan sawah seminggu sebelum pembajakan, untuk melunakan tanah dan menghindarkan melekatnya tanah pada mata bajak. Terlebih dahulu dibuat kemalir ditepi dan ditengah petakan sawah agar air cepat membasahi skemaliran petakan. Kedalaman dalam pembajakan + 15-25 cm. Hingga tanah benar-benar terbalikan dan hancur, manfaat dari pembajakan adalah sebagai berikut : Untuk memberantasan gulma, sebab dengan pembajakan tumbuhan dan biji gulma akan terbenam. Menambah unsur organik, karena pupuk hijau yang berasal dari rumput akan terbenam dan tercampur dengan tanah. Mengurangi pertumbuhan hama penyakit. Setelah dibajak tanah segera harus digenangi, untuk mempercepat pembusukan sisa-sisa tanaman dan menghindari hilangnya nitrogen juga melunakan bongkahan tanah yang disebabkan pembajakan. Penggenangan dilakukan selama kira-kira seminggu. 3. Menggaru dan Meratakan Sebelum penggaruan dimulai, terlebih dahulu air didalam petakan dibuang, namun sedikit ditinggalkan untuk membasahi bongkahan bongkahan tanah. Dan selama penggaruan, skemaliran pemasukan dan pembuangan air harus ditutup, untuk menjaga supaya sisa air jangan sampai habis keluar dari petakan. Dengan cara menggaru tanah memanjang dan melintang, bongkahan-bongkahan tanah dapat dihancurkan. Dengan proses penggaruan yang berulang-ulang: Peresapan air ke bawah dikurangi. Tanah menjadi rata. Penanaman bibit menjadi mudah. Rumput-rumput yang ada akan terbenam. Setelah penggaruan pertama, sawah digenangi lagi selama 7-10 hari. Agar karkas sisa tanaman terjadi fermentasi dan melapuk. Proses perataan sebenarnya adalah penggaruan yang ke-dua. Yang dilakukan setelah lahan digenangi 7-10 hari. Pengaruan yang ke-dua ini dilakukan dengan maksud: Meratakan tanah sebelum tanam pindah. Membenamkan pupuk dasar guna menghindari denitrifikasi. Melumpurkan tanah dengan sempurna. Pengolahan tanah mulai dari pembajakan pertama sampai perataan, memerlukan waktu kira kira 25 hari, kira-kira sama dengan umur bibit di persemaian. Penulis: Masdiana, SP (PPS Kec. Abuki)