Loading...

TEKNIS PRODUKSI BENIH JAGUNG

TEKNIS PRODUKSI BENIH JAGUNG
Keberhasilan produksi benih ditentukan oleh kesiapan benih sumber,ketepatan penerapan teknologi budidaya, ketepatan pemeliharaan mutu genetic, mutu fisik, dan mutu fisiologi benih, serta distribusi benih. Benih sumber dihasilkan oleh berbagai industry perbenihan seperti UPBS Balitbangtan, indsutri swasta dan BUMN, serta penangkar benih baik formal maupun informasl. Dalam memproduksi benih sumber jagung baik BS,FS, maupun F1 dilapangan, terdapat perbedaan antara tekbologi budidaya untuk keperluan produksi benih dan tujuan untuk konsumsi. Perbedaannya terletak pada material induk selain dari proses penjagaan kebenaran mutu genetic dan mutu fisiologis dari benih yang dihasilkan. Benih yang diproduksi secara benar akan menjadi agen pembawa teknologi dan sekaligus akan bernilai ekonomi lebih tinggi disbanding biji jagung untuk konsumsi.Produksi benih sumber jagung yang paling penting diperhatikan adalah teknik produksinya sehingga akan diperoleh benih yang bermutu. Untuk teknik produksi benih penjenis (BS) dapat dilakukan melalui tahapan tahapan (Badan Litbang Pertanian, 2007) sebagai berikut :Penyiapan lahan. 1) Lahan dibersihkan dari bekas pertanaman sebelumnya yang tertinggal; 2) Pengolahan tanah dilakukan setelah lahan bersih dari sisa tanaman sebelumnya, pengolahan tanah dilakukan sampai tanah menjadi terburai atau tidak bongkah-bongkah.Penyiapan benih. 1) Materi benih untuk produksi benih penjenis (BS) adalah benih inti;2) Materi benih untuk produksi benih FS adalah benih kelas BS; 3) Benih inti tersimpan dalam bentuk sudah terpipil dan tersimpan dalam kantong kertas (setiap kantong berisi benih dari satu tongkol); 4) Pada saat akan dilakukan penanaman, terlebih dahulu diambil ± ¼ bagian benih dari setiap kantong kertas dan dicampurkan seluruhnya dalam suatu wadah; 5) Campuran benih dari setiap kantong tadi digunakan sebagai benih untuk tanaman jantan; 6) Sedangkan benih yang dalam setiap kantong digunakan sebagai benih untuk tanaman betina; 7) Daya kecambah baik benih inti, maupun benih BS lebih dari 95 %.Penanaman. 1) Plotting untuk penanaman dengan menggunakan ajir bamboo yang jaraknya telah diatur; 2) Jarak tanam antar baris tanaman jantan :75 cm (4 baris tanaman betina); 3) Jarak tanam antar baris tanaman jantan: 75 cm (2 baris tanaman jantan); 4) Jarak tanama dalam barisan: 25 cm ( 1 tanaman per rumpun); 5) Penanaman untuk tanaman betina, benih berasdal dari setiap kantong, dan setiap kantong ditanam dalam satu baris. Jadi setiap baris tanaman betina berasal dari satu kantong (tongkol), sehingga dalam 4 baris tanaman betina berarti benihnya berasal dari 4 kantong (4 tongkol) yang berbeda; 6) Penanaman untuk jantan, benih berasal dari benih campuran masing-masing tongkol yang telah disiapkan sebelumnya; 7) Penanaman dilakukan dengan menggunaka tugal, 1 biji per lubang dan ditutup dengan tanah atau pupuk kandang. Pemupukan. 1) Pemberian pupuk (7-10 hai setelah tanam/hst): 100 kg Urea + 100 kg ZA + 200 kg SP36 + 150 kg KCL/ha dicampur merata. Pupuk diberikan dalam lubang yang dibuat dengan tugal (7-10 cm di samping tanaman) dan ditutup dengan tanah; 2) Pemberian pupuk II (28-30 hst): 150 kg Urea/ha diberikan dalam lubang yang terbuat dengan tugal (10-15 cm di samping tanaman ) dan ditutup dengan tanah. 3) Pemberian pupuk III (40-45 hst): 100 kg urea/ha diberikan dalam lubang yang dibuat dengan tugal (10-15 cm di samping tanaman) dan ditutup dengan tanah.Penyiangan dan Pembumbunan. 1) Penyiangan I dan pembumbbunan: 15-20 hst (sebelum pemupukan II). Penyiangan dilakukan dengan menggunakan cangkul dan sekaligus membumbun tanaman agar tanaman tumbuh dengan kokoh; 2) Penyiangan II: 30-35 hst (sebelum pemupukan III). Penyiangan dilakukan dengan menggunakan cangkul dan sekaligus memperbaiki guludan agar tanaman dapat tumbuh lebih kokoh.Pengendalian Hama. 1) Pemberian insektisida Carbofuran : 30 hst melalui pucuk (0,3 kg b.a/ha), jika terjadi gejala serangan penggerek batang atau tongkol.Hal-hal yang perlu mendapat perhatian: 1) Tanaman yang mempunyai tipe menyimpang dicabut sebelum berbunga; 2) Malai bunga jantan pada tanaman induk betina (yang ditanam 4 baris) di cabut sebelum anthesis (membuka), diamati setiap hari pada saat menjelang anthesis (sesuai deskripsi umur masing-masing-masing).Cara Panen dan Prosesing. 1) Penen dapat dilakukan setelah masak fisiologis atau kelobot telah mongering berwarna kecoklatan (biji telah mengeras dan telah mulai membentuk lapisan hitam/bleck layer minimal 50 % di setiap barisan biji). Pada saat itu biasanya kadar air biji telah mencapai kurang dari 30 %; 2) Semua tongkol yang telah lolos seleksi pertanaman di lapangan dipanen, kemudian dijemur diterik matahari sampai kering sambil dilakukan seleksi tongkol (tongkol yang memenuhi kriteria diproses lebih lanjut untuk dijadikan benih); 3) Penjemuran tongkol dilakukan sampai kadar air biji mencapai sekitar 16%, selanjutnya dipipil dengan mesin pemipil (kecepatan sedang) atau dengan alat pemipil produk Balitsereal yaitu PJM5-BALITSEREAL; 4) Setelah biji terpipil, dilakukan sortasi biji dengan menggunakan saringan/ayakan O 7 mm, biji-biji yang tidak lolos saringan/ayakan dijadikan sebagai benih; 5) Biji-biji yang terpilih dijemur kembali diterik matahari atau dikeringkan dengan alat pengering untuk mempercepat proses pengeringan) sampai kadar air mencapai ± 10 %. Pengujian daya kecambah dilakukan sebelum dikemas dalam wadah kemasan plastic; 6) Secepatnya benih dikemas (agar kadar air tidak naik lagi) ke dalam kemasan plastic putih buram 9bukan transparan) dengan ketebalan 0,2 mm dan dipres (usahakan udara dalam plastic seminimal mungkin; 7) Kemudian kemasan-kemasan benih diberi label ( nama varietas, tanggal panen, kadar air benih waktu dikemas, day kecambah) dan disimpan dalam gudang atau ruang ner AC (agar benih dapat lama bertahan). (Penulis : Suwarna, Penyuluh Pertanian Pusat – Badan penyuluhan Dan Pengembangan SDM Pertanian). Sumber :1. Pedoman Umum Pengembangan Model Kawasan Mandiri Benih Padi, Jagung dan Kedelai, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, 2015.