Loading...

Teknologi Adaptasi Perubahan Iklim Pada Komoditas Padi

Teknologi Adaptasi Perubahan Iklim Pada Komoditas Padi
Sebagai bahan pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia, tidak heran permintaan pada komoditas padi selalu tinggi. Upaya peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan beras nasional terus dilakukan. Namun disisi lain terjadinya fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini disadari telah menghambat pencapaian target produksi padi nasional. Beberapa fenomena perubahan iklim yang sangat terasa dampaknya pada sektor pertanian, khususnya tanaman padi adalah terjadinya perubahan pola dan panjang musim, yang berdampak pada bergesernya awal musim tanam. Selain itu, dampak yang terjadi adalah meningkatnya intensitas banjir dan kekeringan yang dapat menyebabkan kegagalan panen. Untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim, para pelaku utama hendaknya melakukan langkah adaptasi. Menurut pengertiannya, adaptasi adalah upaya menyesuaikan kondisi dan teknologi dengan kejadian perubahan iklim. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 31/2009 tentang Meteorolgi, Klimatologi dan Geofisika, pengertian adaptasi adalah suatu proses untuk memperkuat dan membangun strategi antisipasi dampak perubahan iklim serta melaksanakannya, sehingga mampu mengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya. Pada usahatani padi, telah direkomendasikan beberapa teknologi adaptasi yang dapat digunakan para pelaku utama, diantaranya: 1. Pengairan BerselangTeknik pengairan berselang merupakan salah satu teknologi yang dapat menekan emisi gas rumah kaca (GRK) metan (CH4) dari lahan sawah hingga 30-50%. Teknologi ini cocok digunakan pada lahan sawah irigasi, Dapat menghemat air sampai 30%. Prinsip kerja penerapan teknologi ini adalah: • Mengatur kondisi air pada lahan sawah melalui penggenangan dan pengeringan secara bergantian. • Dilakukan sejak tanam sampai satu minggu sebelum tanaman berbunga• Sawah diairi apabila kedalam muka air tanah telah turun mencapai ±15 cm dari permukaan tanah. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan paralon berlubang yang dibenamkan ke dalam tanah 2. Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi Teknologi pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL) merupakan panduan yang ditujukan untuk memperoleh rekomendasi pemupukan tanaman padi sesuai kondisi setempat, kebutuhan tanaman dan tingkat hasil yang dapat dicapai. Penerapan PHSL ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dengan mempertimbangkan ketersediaan hara dalam tanah, sisa tanaman, dan air irigasi. Pemberian pupuk yang lebih rendah dari kebutuhan tanaman akan menyebabkan berkurangnya hasil panen, sedangkan pemberian pupuk berlebihan, selain merupakan pemborosan juga dapat menyebabkan tanaman mudah rebah, berisiko terhadap serangan hama dan penyakit, dan mengganggu kelestarian lingkungan. Saat ini, rekomendasi PHSL dapat diperoleh melalui : (1) akses internet di situs: http://webapps.irri.org/nm/id; (2) Telpon genggam dengan mengontak nomor 135; dan (3) smartphone berbasis android. Prinsip kerja penerapan PHSL adalah: • Menetapkan target hasil yang realistis berdasarkan musim tanam, varietas, dan pengelolaan tanaman• Mendorong penggunaan hara yang ada di dalam tanah, bahan organik, sisa tanaman, pupuk kandang, dan air irigasi secara efektif• Menggunakan pupuk untuk mengisi kekurangan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dari pasokan hara dalam tanah 3. Penanaman Varietas Rendah Emisi Pada lahan sawah tergenang dengan kondisi tanah anaerob, emisi gas metan terjadi pada saat bahan organik dalam tanah mengalami proses dekomposisi. Metan adalah gas rumah kaca yang 21 kali lebih berbahaya dari CO2. Metan menyumbang 20% terhadap pengaruh gas rumah kaca, dan tanaman padi menyumbang 10% terhadap peningkatan emisi gas metan dari lahan sawah. Volume emisi gas metan dapat dikurangi melalui penanaman varietas berdaya hasil tinggi dengan emisi rendah 4. Pengelolaan Residu Tanaman Padi Residu tanaman padi berupa jerami dan sekam. Pengembalian jerami ke lahan sawah dapat membentuk gas metan. Sedangkan bila di bakar, metan dan asap yang terbentuk mengandung karbondioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO) yang juga berkontribusi pada perubahan iklim. Pemanfaatan sekam dalam bentuk setengah bakar dapat memperbaiki kesuburan tanah yang mulai menurun, dan jika dikembalikan ke sawah dapat menekan emisi gas metan sebesar 80%. Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2012. Perubahan Iklim dan Inovasi Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Kementerian PertanianBMKG. 2013. Modul Perubahan Iklim: Pelatihan bagi Pelatih (TOT) Penyuluh Pertanian. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com