Latar Belakang Hiauan merupakan sumber makanan ternak terutama untuk ternak rumansia. Selain pertumbuhan pokok untuk pertumbuhan dan sumber tenaga , hijauan juga komponen penunjang produksi dan reproduksi ternak . jenis hijauan seperti rumput, daun kacang kacangan, batang jagung muda, dalam bentuk segar atau kering wajib tersedia dalam jumlah cukup sepanjang tahun. Ketersediaanya penting karena kebutuhan pakan hijauan bagi ternak rumansiaterutama sapi mencapai 70 % dari total pakan, Hijauan untuk pakan ternak perlu memenuhi beberapa kreteria, disukai, mudah dicerna, nilai gizi tinggi dan dapat segera berproduksi kembali setelah dipanen. Hijauan pakan terbagi menjadi dua golongan yaitu rumput rumputan dan semak pohon / tebon. Kebutuhan hijauan akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya jumlah populasi sapiyang dimiliki. Kendala utama penyediaan hijauan pakan untuk ternak adalah ketersediaan yang tidak tetap sepanjang tahun, pada saat musim penghujan produksi hijauan melimpah sebaliknya pada musim kemarau tingkat produksinya akan rendah atau bahkan tidak berproduksi sama sekali. Melihat kendala yang dihadapi pada musim kemarau ini Tim Penyuluh Pertanian memberikan inopasi pelatihan dan pembinaan teknologi Budidaya Pakan Ternak dan teknologi pengolahan pakan ternak seperti pembuatan silase atau pengawetan hijauan pakan ternak di mana pakan olahan dengan fermentasi anaerob ini masih mempunyai cukup gizi dan nutrisi hijauan meski dalam penyimpanan yang cukup lama. Di mana bahan yang diperoleh adalah produk petani sendiri berupa budidaya tanaman jagung yang di panen muda dan tebon atau batangnya sebagai bahan pembuatan silase. a. Persyaratan tumbuh tanaman jagung Jagung dapat ditanam di Indonesia dengan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air dan membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. Varietas unggul dapat dipilih dari kelompok jagung bersari bebas (komposit), seperti Gumarang dan Lamuru, Sukmaraga dan Anoman serta kelompok jagung hibrida seperti Pioneer, BISI, Semar dan Bima. Masing-masing varietas memiliki keragaan umur panen, produksi dan ketahanan terhadap hama dan penyakit yang berbeda. Benih varietas Hibrida cukup mahal dan memerlukan lahan yang cukup subur sehingga dianjurkan ditanam pada MK I atau MK 2 di lahan sawah irigasi. Untuk lahan sawah tadah hujan dan lahan kering dianjurkan menggunakan varietas komposit. .Jarak TanamJarak tanam merupakan faktor yang sangat menentukan hasil yang akan didapat Populasi Tanaman yang dianjurkan adalah 66.600 batang per ha Jarak tanam 40 cm x 20 cm, dianjurkan di wilayah yang memiliki cukup tenaga kerja. Tanam cara tugal, ditanam 1-2 benih per lubang dengan jumlah benih 20-40 kg/ha , menggunakan alat tugal, sedangkan cara tanam Rapat ini karena nilai produksinya pada batangnya sebagai vahan hijauan Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan jarak tanam 1. Kondisi Tanah2. Musim 3. Benih bermutuc.Kebutuhan BenihBanyaknya kebutuhan benih dilapangan ditentukan beberapa faktor antara lain:1. Luas lahan yang akan di tanam,2. Jarak tanam 3. Jumlah benih setiap lubang tanam INFORMASI POKOK 1. Persyaratan tumbuh tanaman jagung Jagung dapat ditanam di Indonesia dengan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. Rata-rata umur panen jagung di dataran tinggi 105 HST, sedangkan di dataran rendah dan dataran medium 95 HST. Tipe tanah yang baik untuk pertumbuhan jagung adalah tekstur lempung berdebu dan berstruktur agregat atau majemuk. Pada tanah berat, perlu perbaikan aerasi dan drainase agar tanah tidak tergenangpH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl. Varietas unggul dapat dipilih dari kelompok jagung bersari bebas (komposit), seperti Gumarang dan Lamuru, Sukmaraga dan Anoman serta kelompok jagung hibrida seperti Pioneer, BISI, Semar dan Bima. Masing-masing varietas memiliki keragaan umur panen, produksi dan ketahanan terhadap hama dan penyakit yang berbeda. Benih varietas Hibrida cukup mahal dan memerlukan lahan yang cukup subur sehingga dianjurkan ditanam pada MK I atau MK 2 di lahan sawah irigasi. Untuk lahan sawah tadah hujan dan lahan kering dianjurkan menggunakan varietas komposit. 2. Jarak Tanam Jarak tanam merupakan faktor yang sangat menentukan hasil yang akan didapat Populasi Tanaman yang dianjurkan adalah 66.600 batang per ha Jarak tanam 75 cm x 20 cm, satu biji per lubang, dianjurkan di wilayah yang memiliki cukup tenaga kerja. Pertumbuhan tanaman dari benih yang ditanam satu biji per lubang relatif lebih baik karena peluang persaingan antarta tanaman lebih kecil dibandingkan dengan tanaman dari benih yang ditanam dua biji per lubang. Jarak tanam 75 cm x 40 cm, dua biji per lubang, dianjurkan di wilayah yang kekurangan tenaga kerja atau upah kerja mahal. Setelah lapis olah tanah cukup lembab, tanam jagung segera dilakukan. Ada dua cara tanam, yaitu ditugal, dan diletakkan di bekas alur bajak. • Tanam cara tugal, ditanam 1-2 benih per lubang dengan jumlah benih 15-20 kg/ha , menggunakan alat tugal, sedangkan cara tanam sebar alur (teter) mengikuti alur bajak sapi dengan jumlah benih lebih banyak sekitar 25-30 kg/ha. • Untuk pertanaman monokultur digunakan jarak tanam 75 cm x 20 cm (1 tanaman per lubang) atau 75 cm x 40 cm (dua tanaman per lubang). Bila tanamnya berdasarkan alur bajak, jarak tanam antar baris sesuai dengan jarak alur bajak (60 cm - 75 cm) dan jarak dalam barisan 15-25 cm dengan satu tanaman per lubang. • Penanaman jagung dapat menggunakan cara tanam double row (jajar legowo) yaitu 120 cm x 60 cm x 12,5 cm (satu tanaman per lubang) atau 120 cm x (60 cm x 25 cm) (2 tanaman per lubang).• Untuk tumpangsari dengan padi gogo dan kacang-kacangan, digunakan jarak tanam sebagai berikut : jagung 150 cm - 200 cm x 40 cm, padi gogo 20 cm x 20 cm, sedangkan jarak tanam kacang-kacangan adalah 50 cm x 10 cm atau 40 cm x 15 cm. • Jagung dapat juga ditumpangsarikan dengan tanaman hortikultura. Keuntungan cara tanam doubel row (jarwo) a. Semua tanaman menjadi tanaman pinggir sehingga mendapatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir. Semakin banyak intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman maka proses metabolisme terutama fotosintesis tanaman yang terjadi di daun akan semakin tinggi sehingga akan didapatkan kualitas tanaman yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan dan hasil. b. Mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama hama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya dan dengan lahan yang relatif terbuka kelembaban juga akan menjadi lebih rendah sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan. c. Dengan adanya baris kosong akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan/penyiangan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong/lorong. d. Tumpang sari : Keterbatasan luas lahan dan masih rendahnya produktivitas jagung di tingkat petani menyebabkan usahatani jagung menjadi tidak optimal. Seiring kemajuan teknologi, model pertanaman tumpangsari (intercrop) banyak mendapat perhatian. Salah satu diantaranya adalah tumpangasri jagung dengan tanaman kedelai pada sistem tanam legowo. e. Tumpangsari jagung-kedelai juga bertujuan untuk mengatasi persaingan penggunaan lahan untuk tanaman jagung dan kedelai secara monokultur. Mengingat bahwa harga jagung relatif baik dan keunggulan koparatif tanaman jagung relatif lebih tinggi dibanding tanaman kedelai, maka dalam sistem tumpangsari jagung-kedelai, produktivitas tanaman jagung minimal sama dengan tanpa tumpangsari. f. Kombinasi tumpangsari jagung-kedelai dapat diterapkan pada sistem tanam legowo 2 : 1 dimana dua baris tanaman dirapatkan (jarak tanam antar baris), sehingga antara setiap dua baris tanaman terdapat ruang untuk pertanaman kedelai. Tingkat produktivitas jagung diperoleh pada pertanaman legowo tidak berbeda bahkan cenderung lebih tinggi (karena adanya pengaruh tanaman pinggir/border) dibanding pertanaman baris tunggal (tanam biasa). g. Ruang kosong pada baris legowo dapat ditanami 2 baris tanaman kedelai tanpa menurunkan produktivitas jagung sehingga terjadi peningkatan indeks penggunaan lahan dan pendapatan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelai yang ditanam di antara tanaman jagung akan diperoleh 50% dari hasil kedelai yang ditanam sistem monokultur. Penanaman tanaman kedelai sebagai tumpangsari pada tanaman jagung juga dapat memperbaiki kesuburan lahan karena adanya fiksasi N dibanding sistem monokultur jagung. 3. Perlakuan benih Sebelum benih ditanam diawali dengan penentuan benih yang akan ditanam , seleksi benih dan perlakuan benih (seed treatmen) khusus untuk darah endemis bulai . Perlakuan benih/ Seed treatmen adalah upaya preventif / pencegahan tanaman dari serangan penyakit bulai . Bahan yang digunakan dalam perlakauan benih adalah metalaksil/ Rhidomil dengan dosis 2 gram per Kg benih. Benih dibasahi, yakinkan kondisi benih (lembab) taburi metalaksil aduk sampai rata . penulis : Parwan, SP