Loading...

TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG (Zea mays) SECARA TOT DI JUNJUNG SIRIH

TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG (Zea mays) SECARA TOT DI JUNJUNG SIRIH
TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG (Zea mays) SECARA TOT DI JUNJUNG SIRIH Jagung merupakan komoditas bahan pangan nomor dua setelah beras karena beberapa wilayah Indonesia masih menjadikannya sebagai bahan makanan pokok. Selain itu jagung juga dapat diolah menjadi berbagai macam penganan mulai dari cemilan (snack) maupun menjdi makanan berat (bolu/roti). Tanaman jagung dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi, pada lahan sawah atau tegalan. Suhu optimal antara 21-34 °C, pH. Tanah antara 5,6-7,5 dengan ketinggian antara1000-1800 m dpl. Dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl.Tanaman jagung membutuhkan air sekitar 100-140 mm/bulan. Oleh karena itu waktu penanaman harus memperhatikan curah hujan dan penyebarannya. Penanaman dimulai bila curah hujan sudah mencapai 100 mm/bulan. Bibit jagung baik hibrida maupun komposit pada dasarnya dapat dibudidayakan secara sederhana tanpa melalui olah tanah (TOT). Pengolahan tanah pada lahan untuk pertanaman jagung tidak harus dilakukan pencangkulan/pembajakan sebelumnya tetapi cukup dengan pembersihan (landclering) dengan ditebas atau diberikan herbisida 2 minggu sebelum penanaman. Syarat lahan untuk penerapan TOT adalah lahan gembur baik lahan kering maupun sawah dengan tekstur remah/tidak liat. Pada lahan sawah sebagai tanaman rotasi dengan padi, cukup dilakukan penugalan lubang tanam dengan jarak yang disesuaikan. Jarak tanam yang dianjurkan ada 2 cara adalah: (a) 70 cm x 20 cm dengan 1benih per lubang tanam, atau (b) 75 cm x 40 cm dengan 2 benih perlubang tanam). Dengan jarak tanam seperti ini populasi mencapai 66.000-71.000 tanaman/ha. Sebelum penugalan sebaik kondisi lahan lembab tetapi dengan dibuatkan parit (drainase pada sisi pematang dan bagian tengah lahan) agar air tidak menggenangi tanaman. Pada lahan kering, setelah kondisi semak dan gulma telah ditebas/mongering dilakukan pembakaran sisa tebasan gulma kemudian dibersihkan bekas-bekas pangkal gulma semak. Penanaman dilakukan dengan penugalan sedalam 3-5 cm menggunakan kayu yang diruncingi bagian ujungnya. Agar lubang tanam lurus, diberikan tali pemandu. Jarak tanam sama dengan di areal persawahan hanya saja waktu tanam pada awal musim hujan karena untuk menjaga kecukupan air selama pertumbuhan. Pemupukan awal setelah tanam dapat diberikan kompospupuk kandang satu genggam setiap lubang tanam yang diberikan disekitar lubang tanam, pemupukan kimia dilakukan setelah 7 HST, 28 HST dan 45 HST dengan dosis per Ha 100 kg ure, 150 kg SP36 dan 100 kg KCL ,pemupukan kedua dengan dosis 150 kg Urea, apabila dibutuhkan pupuk ketiga dosis 100 kg Urea. Apabila enggunakan pupuk majemuk pemupukan pertama dengan dosis 350 kg NPK Phonska, pemupukan kedua 150 kg urea, dan ketiga 150 kg urea. Cara pemberian pupuk, ditugal sedalam 5 cm dengan jarak 10 cm dari batang tanaman dan ditutup dengan tanah. Pembubunan dilakukan setelah pemupukan dengan menimbunkan tanah memakai cangkul diantara tanaman setinggi 15 cm. Perlakuan ini sekaligus untuk mengurangi gulma. Perawatan selanjutnya sampai menjelang dengan jagung berumur 70 HST hanya pemantauan dari OPT yang menganggu. Perompesan daun dapat dilakukan dengan memotong daun tua bagian bawah pada umur 75-80 HST agar mempercepat masa penuaan biji jagung dan menghindari kebakaran daun kering. Penulis : Ifwan Linur, SP (PP Muda/IIId)Referensi:www. nad.litbang.pertanian.go.id/ind/images/dokumen/modul/27-Brosur%20Jagung1.pdfwww. sulbar.litbang.pertanian.go.id/ind/images/phocadownload/TEKNOLOGI-BUDIDAYA-JAGUNG.pdf