Beberapa wilayah Indonesia memiliki agroekologi lahan rawa lebak. Seperti. Lahan Rawa Lebak dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (1)lahan lebak dangkal/pematang; (2) lebak tengahan, dan (3) lebak dalam. Pembagian ini memiliki arti penting karena masing-masing tipologi lahan dan tipe air memiliki kendala spesifik sehingga memerlukan pendekatan pengelolaan tersendiri. Lahan rawa lebak dangkal dan tengahan dapat ditanami dengan pola tanam padi-padi atau padi-palawija, sedang pada lahan rawa lebak dalam hanya dengan tanaman padi-padi. Paket teknologi kedelai pada lebak dangkal dan tengahan adalah sebagai berikut:Pengolahan lahan. Lahan disiapkan tanpa olah tanah. Setelah padi dipanen, jerami dipotong dekat dengan permukaan tanah, jerami digunakan untuk pakan atau ditinggal di lahan dimanfaatkan untuk mulsa atau dibakar. Jerami yang dibakar sesuai untuk sumber hara kalium.Varietas Kedelai yang dianjurkan, yaitu: varietas biji besar: anjasmoro, Baluran, Rajabasa, Burangrang, Argomulyo dan varietas biji sedang: Tanggamus, Sibayak, Nanti, Ratai, Seulawah, Slamet, Sinabung, Wilis, Ijen, Gema, dan Dering.Pemilihan Benih. Dalam memilih benih, kita harus memperhatikan beberapa syarat, yaitu: bernas memiliki daya tumbuh > 85%, murni, sehat, dan bersih dengan total kebutuhan benih antara 40-60 kg/ha. Hal ini tergantung pada ukuran biji, makin besar ukuran biji dan menyebabkan makin banyak benih yang dibutuhkan.Perlakuan benih. Benih yang akan digunakan perlu perlakuan dengan 2 cara, yaitu: (1) perlakuan benih dengan carbosulfan (10 g Marshal 25 ST/kg benih) atau Fipronil (10 ml Reagent/kg benih) untuk mengendalikan lalat benih atau serangga lainnya; (2) perlakuan benih dengan menggunakan pupuk hayati sumber rhizobium 20 g/kg benih, diberikan pada lahan yang belum ditanami oleh Kedelai.Penanaman. Kedelai ditanam dengan menggunakan jarak 40 x 15 cm atau 40 x 10 cm, dengan jumlah 2 benih dalam lubang tanaman. Terlebih dahulu, buat saluran drainase untuk pengairan dengan jarak anat saluran 5-6 m dengan ukuran lebar sekitar 40 cm dan kedalaman 60 cm. Dengan jarak tanam ini, maka petani akan mendapatkan populasi tanaman antara 350.000 – 500.000 ribu tanaman/ha. Ameliorasi tanaman dibutuhkan untuk memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman Kedelai dengan menggunakan kapur pertanian.Pemupukan. Jenis dan takaran pupuk sangat berbeda dan tergantung pada kondisi atau tingkat kesuburan tanah berdasarkan hasil analisis tanah. Jika tersedia pupuk organic atau kandang, dianjurkan pemberian sekitar 2 ton/ha. Dengan menggunakan pipik kandang bila analisis tanah menunjukkan nilai N rendah – sedang maka dibutuhkan 25 kg Urea/ha. Untuk penggunaan Fosfor pada lahan rawa lebak. Bila nilai hara dalam analisis tanah dalam kategori sedang, maka dibutuhkan 50 kg/ha SP36. Namun bila tergolong kategori rendah, maka dibutuhkan pupuk sejumlah 75 kg/ha SP36. Pada pemupukan kalium, bila hasil analisis tanah dalam kategori sedang, maka membutuhkan 50 kg/ha Kcl, akan tetapi bila menunjukkan dalam kategori rendah maka membutuhkan 75 kg/ha.Pengendalian Gulma. Gulma dikendalikan berdasarkian pemantauan baik secara mekanis-konvesional atau manual penyiangan dengan sistem cangkul atau cabut. Dengan mekanisasi maupun secara kimia dengan menggunakan herbisida pra dan pasca tumbuh; penyemprotan herbisida pra tumbuh dilakukan seminggu sebelum tanam sedang penyemprotan herbisida paska tumbuh diharapkan hati-hati agar tidak membakar daun tanaman Kedelai.Pengendalian OPT. Organisme penganggu tanaman selalu ada di hamper semua jenis tanaman. OPT dapat dikendalikan secara mekanis dan kimiawi. Untuk mengendalikan secara kimiawi, maka diperlukan pengetahuan yang cukup pada ambang batas. Berapa batas maksimal yang dapat ditolerir atau tidak sehingga harus mengendalkan dengan penyemprotan. Adapun hal-hal teknis dapat dikendalikan dengn mengikuti cara pengendalian hama dan penyakit terpadu yang biasa disuluhkan oleh para penyuluh, POPT. Panen. Tanaman Kedelai siap dipanen apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-coklat atau coklat-kehitaman. Panen dilakukan dengan menyabit maupun mencabut tanaman. Pembijian tanaman kedelai dilakukan secara manual (sistem gemblok,pemukul kayu) maupun secara mekanis dengan mesin perontok. Teknologi budidaya kedelai yang akan diusahakan oleh petani sangat berbeda-beda tergantung dengan jenis lahan yang dimiliki oleh petani. Perbedaan yang sangat menonjol, yaitu: varietas benih kedelai yang akan ditanam, perlu diberikan pengapuran atau tidak serta berapa jumlah yang tepat untuk diberikan pupuk anorganik. Sumber: Panduan Teknis Budidaya Kedelai di Berbagai Kawasan Agroekosistem. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi-Umbian. Puslitbangtan. Balitbangtan. Kementerian Pertanian. Nama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.com