Loading...

Teknologi Budidaya Padi

Teknologi Budidaya Padi
Teknologi budidaya padi “Salibu” mungkin masih terdengar asing di telinga petani padi di dunia Pertanian, padahal di daerah jawa teknologi sederhana ini sudah banyak diterapkan sebagai alternatif budidaya padi hemat bibit, hemat tenaga dan hemat biaya produksi. Teknik budidaya padi Salibu merupakan terobosan baru untuk memacu dan meningkatkan produktivitas hasil panen padi bagi para petani dan meningkatkan produktifitas nasional. Sebelum teknik salibu ini diperkenalkan, para petani di pulau Jawa sudah mengenal teknik Ratun, yaitu sisa tanaman padi sehabis panen dibiarkan tetap berada di lahan sawah tanpa dilakukan pemotongan batang, kemudian diairi kembali. Tunas baru kemudian muncul pada sisa tanaman tersebut, namun bentuknya tidak beraturan dan produktivitasnya juga jauh menurun dari tanaman sebelumnya, karena teknis ratun nyaris tanpa perlakuan apapun. Sementara teknik salibu, hanya menggunakan pangkal batang sebagai sumber tunas baru, sehingga tanaman baru hasil pertunasan ini hidupnya serempak dan seragam, begitu juga dengan jajaran tanamnya, akan mengikuti tanaman sebelumnya. Kentungan menggunakan pangkal batang sebagai sumber tunas adalah, jumlah anakan lebih banyak, dan setelah tunas baru muncul, tanaman lama akan mati dan terurai sebagai material organic yang akan diserap tanaman baru sebagai asupan hara. Tahapan teknik budidaya padi Salibu Segera setelah tanaman padi dipanen lahan digenangi air setinggi ±5 cm selama 2-3 hari, dan jangan di biarkan dalam kondisi lahan sawah terlalu kering, Setelah sawah di genangi selama 2 – 3 hari kemudian saluran pembuangan air dilepas kembali. Hal tersebut di lakukan bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah dan menghindari agar batang padi yang masih berdiri tidak mati kekeringan. Untuk selanjutnya perlakuan budidaya padi Saliu sama dengan budidaya padi biasa, yaitu mengatur pengairan, melakukan penyiangan, mengendalikan hama dan penyakit tanaman jika terjadi serangan, sampai datangnya waktu panen yang umurnya kurang lebih sama dengan tanaman sebelumnya. Setelah dilakukan panen, maka dapat dilakukan lagi pengulangan teknik salibu pada lahan yang sama, ini dapat dilakukan 3 sampai 5 kali. Di ujicoba di Kotapadang, Durianmas Rejang Lebong Salah satu tugas dan fungsi penyuluh pertanian adalah memperkenalkan teknologi pertanian baru kepada para petani yang menjadi binaan mereka, termasuk teknologi budidaya padi salibu ini. Seperti yang dilakukan oleh para penyuluh pertanian yang bertugas di BPP Durianmas, Kotapadang ini, berbekal referensi yang didapat dari berbagai literasi, para penyuluh ini mencoba memperkenalkan teknik budidaya salibu kepada patani setempat. Tidak mudah memang, karena awalnya petani tidak yakin bahwa teknis budidaya padi salibu ini mampu menghasilkan produksi yang nyaris sama dengan budidaya yang menggunakan bibit baru, namun para penyuluh pertanian yang dimotori oleh Khanif Suryanto, SST ini terus berupaya meyakinkan para petani. Hasilnya, ada beberapa petani yang kemudian merelakan lahan sawahnya untuk ujicoba teknik salibu ini, karena BPP memiliki lahan sendiri tetapi hanya 0,1 Ha. Beruntung, selama ini hubungan interaksi antara penyuluh dan petani di kecamatan ini, berjalan dengan sangat baik, sehingga para penyuluh pertanian ini nyaris tidak mengalami kendala ketika melakukan ujicoba penerapan teknik salibu ini, Bahkan para petani peilik lahan juga cukup antusias untuk melibatkan diri berpartisipasi aktif dalam ujicoba ini, karena sebenarnya para petani pun cukup penasaran dengan teknik baru budidaya padi ini. Alhamdulillah, ujicoba yang dilakukan oleh para penyuluh pertanian bersama petani di Durianmas ini menunjukkan hasil yang cukup baik. Hari Sabtu (10/6/2017) lalu, mereka mulai memanen padi hasil penerapan teknik salibu ini. Para penyuluh terlihat gembira, begitu juga dengan petani yang terlihat sumringah melihat hasil panen padi saliu ini. Tanpa harus menyediakan dan menanam bibit baru, ternyata mereka bisa kembali memanen padi di lahan yang sama. Kebetulan lahan ujicoba teknik salibu ini memang menggunakan varietas mikongga yang produktivitasnya di kecamatan ini berkisar 4,5 ton per hektar, dan hasil panen teknik salibu pada lahan yang sama, produktivitasnya juga tidak jauh berbeda dengan hasil panen pertama. Keberhasilan ini membuat para petani semakin yakin bahwa teknik salibu ini bisa mereka terapkan untuk meningkatkan produksi padi di daerah ini. Dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah, tentu saja provit margin yang akan didapat oleh para petani akan jauh lebih tinggi. “Saya tidak menduga sebelunya kalau teknik salibu ini bisa menghasilkan produksi yang hampir sama dengan penanaman yang menggunakan bibit baru, ini sebuah terobosan bagus untuk mendongkrak produksi padi kita” ungkap Ayubi “ Dalam kesempatan ini, saya juga menyampaikan rasa terima kasih atas kreatifitas dan terobosan yang telah dilakukan oleh teman-teman penyuluh di kecamatan Kotapadang ini” Oleh : Khanif Suryanto, SSTPP Ahli Kab Rejang Lebong