Loading...

TEKNOLOGI BUDIDAYA UBI KAYU

TEKNOLOGI BUDIDAYA UBI KAYU
Tanaman ubi kayu atau singkong merupakan salah satu sumber karbohidrat yang berasal dari umbi. Tanaman ubi kayu dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki ketinggian sampai dengan 2.500 m dari permukaan laut. Ubi kayu dapat ditanam sebagai tanaman tunggal (monokultur), sebagai tanaman pagar, maupun bersama dengan tanaman lain (tumpangsari atau tumpang-sisip). Untuk petani yang mengutamakan hasil ubi kayu, namun ingin mendapatkan tambahan penghasilan dari kacang-kacangan, padi gogo, atau jagung, maka dapat menggunakan teknik budidaya secara baris ganda (double row). Dengan pengaturan tanam double-row dimungkinkan untuk menanam dua kali tanaman kacang-kacangan, tanpa mengurangi hasil panenan ubi kayu. Penyiapan Bibit dan Varietas; a) bibit berupa stek diambil dari tanaman yang sehat dan berumur lebih dari 7 bulan namun kurang dari 14 bulan; b) Yang digunakan untuk stek adalah bagian tengah batang yang bagus. Bagian pucuk yang masih terlalu muda (sekitar 50 cm) dan bagian pangkal yang terlalu tua (sekitar 20 cm) sebaiknya tidak digunakan untuk stek ; c) Batang kemudian dipotong-potong dengan gergaji. Untuk stek normal panjang stek sekitar 15-25 cm ; d) Apabila terpaksa menggunakan batang yang terserang hama/penyakit, maka stek perlu disemprot atau direndam dalam pestisida sebelum ditanam. Varietas Unggul; Pemilihan varietas disesuaikan dengan keperluan. Saat ini banyak tersedia pilihan varietas unggul ubi kayu. Untuk konsumsi langsung, pilih yang kualitas rebusnya baik dan rasanya enak (tidak pahit), seperti Malang-1 atau Adira-1, UJ-3 (Thailand), Varietas UJ-5 (Cassesart) dan klon lokal (Barokah, Manado, Klenteng dan lain-lain). Untuk tepung/tapioka, pilih varietas unggul yang kadar patinya tinggi, walaupun rasanya biasanya pahit (langu). Pengolahan Tanah; a) Tanah diolah sedalam 25 cm dapat dilakukan dengan mencangkul, membajak dengan ternak dan traktor. Dibuat guludan atau bedengan, kemudian cara tanam yang banyak digunakan petani dengan jarak 70 x 80 cm; b) Pada awal pertumbuhan, ubi kayu memerlukan air yang cukup. Oleh karena itu, apabila tidak menggunakan irigasi, tanam sebaiknya dilakukan pada musim hujan; c) Stek ditanam dengan cara menancapkan ke tanah sedalam sekitar 3 - 5 cm. Posisi stek jangan sampai terbalik; d) Jarak tanam yang umum digunakan adalah 80 x 70 cm atau 100 x 70 cm, tergantung varietas. Dengan jarak tanam ini populasi mencapai 13.000-17.000 tanaman/ha. Jarak tanam yang lebih rapat biasanya menghasilkan umbi yang lebih kecil walaupun produksi per hektarnya tidak berkurang. Pemupukan; 1) Takaran pupuk yang dibutuhkan adalah 200 kg Urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per hektar, yang diberikan dalam dua tahap: umur 7-10 hari dipupuk dengan takaran 100 kg Urea, 100 kg SP36, dan 50 kg KCl per hektar; b) umur 2-3 bulan dipupuk dengan takaran 100 kg Urea dan 50 kg KCl per hektar; c) bila dianggap perlu, pada umur 5 bulan bisa ditambahkan Urea; 2) Pupuk diberikan secara tugal, sekitar 15 cm dari tanaman Wiwil (membatasi jumlah tunas); pada umur 1 bulan tunas-tunas yang berlebih dibuang/dirempes, menyisakan 2 tunas yang paling baik. Penyiangan dan Pembumbunan; penyiangan dilakukan sedikitnya 1-2 kali, sehingga tanaman bebas gulma hingga umur 3 bulan, pada umur 2-3 bulan perlu dilakukan pembumbunan. Panen; umur panen ubi kayu bervariasi menurut varietasnya. Varietas unggul umumnya dapat dipanen sekitar umur 8 -12 bulan. Panen dilakukan dengan mencabut ubikayu dan memisahkan dengan batang. Pasca Panen; Secara umum pengolahan pasca panen ubi kayu digunakan untuk membuat tepung tapioka, tepung kasava, kue, mioe dan lain-lain. Produk-produk olahan lain dari ubi kayu adalah produk-produk hidrolisis (monosakarida, disakarida, polisakarida, ). Produk-produk tersebut menjadi bahan baku pembuatan glukosa sirup, candies dll. Proses hidrolisa dilakukan dengan mekanisme hidrolisa asam dan hidrolisa enzim. Produk olahan lain adalah produk fermentasi yang menghasilkan etanol, cuka, asam cuka, butanol, aseton, asam laktat, asam sitrat, monosodium glutamat, gliserol, ragi, dan lain-lain. Sumber : 1. Sarwono, 2005. Ubi-ubian. Seri Agribisnis, Penebar Swadaya, Jakarta. 50 hal. 2. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, 2005. Teknologi Produksi Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Malang. 36 hal. Penulis : Iman Priyadi, (Penyuluh Pertanian Balai Besar pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian) email : imanpriyadi@yahoo.co.id