Teknologi Hazton merupakan teknik menanam tanaman padi yang mengadaptasi fisiologi tanaman padi itu sendiri. Teknologi Hazton mulai dikembangkan sejak hampir 2 tahun lalu dikembangkan di Kalimantan Barat. Teknologi ini diperkenalkan pertama kali oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat Hazairin dan salah seorang stafnya bernama Anton sehingga disingkatlah menjadi Hazton.Teknologi HAZTON adalah metode tanam padi dengan bibit padat yaitu 20 – 30 bibit per lubang tanam. Varietas yang akan digunakan terserah jenisnya, bisa padi lokal maupun padi unggul. Perlu juga diketahui, metode Hazton yang menggunakan benih tua yang berumur 25-35 hari, dengan penanaman sebanyak 20-30 rumpun perlubang tanam, menjadikan seluruh rumpun tanaman merupakan tanaman induk. Diharapkan, secara keseluruhan akan menjadi indukan produktif, karena bibit berada di posisi tengah dan terjepit sehingga bibit akan cenderung tidak menghasilkan anakan, sehingga lebih produktif.Sistem kerja teknik ini cukup sederhana. Cara yang biasanya petani gunakan, yakni teknik menanam, dari bibit yang ada kemudian dipindahkan dan dibagi-bagi lagi, sehingga hanya 3-4 tanaman yang ditanam. Tapi untuk teknik Hazton, bibit yang ingin ditanam tidak dibagi-bagi dan langsung ditanam hingga mencapai 20-25 tanaman. Cara pencabutan untuk metode Hazton dari tempat pembibitan harus hati-hati usahakan akarnya tidak banyak putus. Teknik ini bisa dipakai untuk semua varietas dan bisa tumbuh baik di lahan basah maupun lahan kering. Para petani yang menggunakan teknik ini, padinya masak serentak hingga akan memudahkan petani karena tidak memanen hingga dua kali.Keunggulan dari metode ini tentu saja hasil produksinya meningkat. Juga ada beberapa keuntungan lain, yakni menanam satu rumpun dengan induknya dan tidak beranak tangkai lagi, sehingga buah biji padi cukup banyak. Teknologi Hazton penanamannya mudah, tanaman cepat beradaptasi dan tidak stress. Karena bibit yang digunakan bibit tua, maka tanaman ini lebih tahan terhadap hama keong dan orong-orong, ketahanan bibit ini akan meminimalisir penyulaman, selain itu juga meminimalisir penyiangan. Karena rumpun padi Hazton ini sangat rapat maka tidak memberi kesempatan pada gulma untuk ikut tumbuh diantara tanaman padi. Karenanya penyulaman dan penyiangan dapat diminimalisir.Otomatis metode ini juga menghemat biaya tenaga kerja.Teknologi ini dapat mempercepat masa panen (-/+ 15 hari lebih cepat dibanding usia normal), mutu gabah tinggi (persentase hampa rendah), serta menghasilkan beras yang berkualitas tinggi (rendemen beras kepala tinggi, persentase beras pecah rendah). Secara konsep pengolahan tanah Metode Hazton tidak banyak berbeda dengan metode yang lain. Teknologi Hazton yang merupakan teknologi pola tanam padi yang memaksimalkan sifat fisiologis dari tanaman. Teknologi hazton pada tanaman padi juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat petani.Teknologi HAZTON" juga diketahui secara fisik tanaman lebih kuat dari serangan OPT, jumlah anakan lebih kuat karena dari anakan induk, malainya masak serempak serta masaknya bulir padi lebih cepat sekitar 2 minggu dari yang biasa dilakukan petani dan hasil percobaan penanaman padi "Teknologi HAZTON" yang telah dilakukan di Kalimantan Barat baik pada media dalam pot maupun di lahan petani seluas 0,75 Ha. Teknologi Hazton merupakan teknik menanam padi melakukannya dengan cara menggunakan 1 – 3 bibit per lubang tanam, menghasilkan dalam satu rumpun padi 10 – 20 anakan vegetatif dan pada masa generatif menghasilkan 10 – 15 anakan produktif dengan produksi padi sekitar 3 – 4 ton/ha. Penanaman dengan melakukan penanaman padi dengan cara : 1 (satu) lubang tanam dengan populasi 1 – 5 bibit, 10 – 20 bibit, dan 20 – 30 bibit yang dikenal dengan "Teknologi HAZTON". Dari hasil percobaan tersebut produksi yang terbaik adalah menggunakan 20 – 30 bibit per lubang tanam dengan anakan produktif per rumpun 45 – 50 batang dan jumlah bulir 200 – 250. Berdasarkan perhitungan dari 45 batang/malai menghasilkan 224 bulir bulir padi per malai dengan jumlah bulir per rumpun 10.080 bulir gabah. Apabila asumsi berat 1.000 bulir gabah beratnya 30 gram, berarti berat gabah per rumpun : (10.080 bulir gabah : 1.000) x 30 gram = 302,4 gram atau 0,3024 kg. Populasi per hektar dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm = 160.000 rumpun. Produksi Gabah Kering Panen (GKP) = 48.384 kg/ha atau 48 ton/ha Konversi menjadi beras = 24 ton/ha."Kelebihan teknologi hazton produktivitas rata-rata 9,0 ton gabah kering pungut (GKP) per ha. Petani Dikabupaten Lebak sudah berhasil mengembangkan metode teknologi hazton, diantaranya Kelompok Tani Suka Bungah, Kecamatan Cibadak. Produktivitas rata-rata 8,5 ton gabah kering pungut (GKP) per hektare. Selain itu juga teknologi metode hazton bisa mengurangi biaya "ngoyos" atau perawatan tanaman padi yang semestinya lima sampai enam kali menjadi 1 kali mpe 2 kali.juga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi petani lebih baik. Teknologi Hazton baru berhasil diterapkan di Kalimantan Barat dimana para petaninya sangat memperhatikan dan mengikuti pola dan cara yang baik dan benar yang telah dianjurkan. Sehingga jarang sekali kegagalan teknologi Hazton disebabkan oleh petani yang keliru dalam mengikuti aturan atau penerapannya.Perlu sekali diperhatikan prosedur atau cara tanam yang sangat menentukan hasil panen, yaitu mulai dari persemaian benih harus dijaga, pemindahan benih ke lokasi tanam, sehingga ketika mencabut benih, akarnya dibersihkan terlebih dahulu. Ternyata itu sangat berdampak pada pertumbuhan padi.Penulis : Sundari/BBP2TP BogorSumber : Kepala Bidang Penyuluh Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Lebak, Wismaryoto, Tabloid.2016