Loading...

Teknologi Irigasi Untuk Pertanaman Padi

Teknologi Irigasi Untuk Pertanaman Padi
Saat ini dalam memanfaatkan air irigasi masih sering masih dijumpai pemborosan, sehingga masih sering dijumpai kehilangan air dalam jumlah cukup besar sehingga air yang masuk ke petak tersier menjadi berkurang. Demikian juga para pelaku utama dalam memanfatkan air irigasi tersebut juga masih banyak yang berlebihan mengalirkan air ke petakan sawah hingga mencapai tinggi genangan hampir 15 cm, padahal tanaman padi yang diairi terus menerurus belum tentu memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding yang diairi berselang (intermittent drainage). Metode pendistribusian atau penggenangan air ditentukan oleh faktor iklim, fisik tanah, topografi, hidrologis lahan dan ketersediaan air di saluran sekunder. Faktor iklim yang perlu dipertimbangkan meliputi: curah hujan, evaporasi, suhu udara dan kecepatan angin. Bukan hanya banyaknya curah hujan namun juga perlu dipelajari pola distribusi curah hujan dan laju evaporasi sepuluh harian. Distribusi curah hujan dan evaporasi menentukan durasi dan kedalaman genangan air pada fase tumbuh tertentu. Secara prinsip: (a) tinggi genangan air di petakan sawah antara 2 cm sampai 15 cm tidak mempengaruhi hasil, (b) penggenangan air melebihi 5 cm dapat memacu kehilangan air melalui rembesan dan kehilangan air melalui aliran permukaan maupun pencucian (c) dengan kondisi tanpa genangan atau batas jenuh selama fase tumbuh tertentu dapat menghemat penggunaan air, meningkatkan produktivitas air dan tidak menganggu proses fisiologis tanaman dalam hubungannya dengan transpirasi atau pembentukan bahan kering dan (d) fase tumbuh tertentu tanaman padi hibrida tidak memerlukan penggenangan air dalam kaitannya dengan tingkat kerebahan tanaman, serapan hara nitrogen, fosfat dan kalium serta pembentukan perakaran dan (e) penggenangan air dengan durasi yang terlalu lama (lebih dari tujuh hari) menciptakan kondisi reduktif tanah dan pendangkalan permukaan air tanah serta membuat iklim mikro kondusif terhadap perkembangan infestasi penyakit dan keberadaan hama. Air irigasi sebagai sarana yang sangat vital bagi tanaman dipergunakan untuk beberapa hal antara lain seperti berikut:1)Pelarut bahan makanan (unsur hara);2). Pengangkut bahan makanan terlarut melalui akar ke tubuh tanaman;3). Pembantu proses fotosintesis.Air yang berlebihan atau kurang akan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berbuah secara optimum. Pengelolaan pemberian air irigasi ke petak sawah perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman sebagai fungsi jenis dan umur tanaman, cara pemuliaan tanaman serta jenis tanah dan permukaan air tanah. Ketepatan pemberian air irigasi (fungsi jumlah dan waktu) akhirnya akan memberikan pengaruh terhadap hasil panen yang optimum. Ada beberapa teknologi irigasi yang cocok untuk dikembangkan pada daerah- daerah yang mempunyai kondisi tertentu, teknologi tersebut diantaranya: 1. Sumur Renteng; Sumur renteng merupakan teknologi irigasi yang cocok dikembangkan pada daerah dengan tanah yang memiliki tekstur berpasir. Tanah-tanah seperti ini memiliki kemampuan meloloskan air yang sangat tinggi sehingga tidak mampu menyimpan air dalam waktu lama. Prinsip sumur renteng adalah menampung air untuk irigasi dalam sebuah bak penampungan berbentuk silinder yang terhubung dengan bak penampungan lainnya melalui pipa kapiler. Keunggulan sistem irigasi sumur renteng adalah : a) Efisien karena irigasi cukup diberikan pada bak penampungan utama. b) Risiko kehilangan air selama pendistribusian dapat diminimalisasi karena irigasi dari bak penampungan dapat menjangkau zona perakaran tanaman secara langsung.2. Irigasi Kapiler; Irigasi kapiler cocok dkembangkan di daerah yang memiliki topografi terjal dan memiliki sumber air relatif terbatas. Prinsip dasar dari irigasi kapiler adalah memanfaatkan air dari sumber mata air atau sungai yang disalurkan menuju bak penampungan secara gravitasi menggunakan pipa PVC. Dari bak penampungan, air yang tersedia didistribusikan menggunakan selang plastik kapiler.3. Irigasi Tetes (Drip Irigation); Kegunaan irigasi tetes adalah untuk memanfaatkan ketersediaan air yang sangat terbatas secara efisien yang sesuai diterapkan pada lahan kering beriklim kering dengan topografi relatif landai. Prinsip pendistribusian air pada sistem irigasi tetes adalah dengan menyalurkan air dari tangki penampungan yang ditempatkan pada posisi lebih tinggi dari lahan usaha tani melalui selang irigasi. Kebutuhan air tanaman dipasok dari tangki penampungan melalui selang irigasi yang didesain secara khusus, sehingga air dapat diberikan dengan debit yang sama dan konstan pada setiap titik keluaran selang irigasi menggunakan sistem tetes pada daerah perakaran tanaman. Teknik ini sangat efisien dalam penggunaan air tetapi hanya cocok untuk budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi.4. Irigasi Macak-macak di Lahan Sawah; Petani biasanya menggenangi lahan sawah secara terus-menerus (continous flow) hingga ketinggian air mencapai 15 cm. Irigasi macak-macak adalah teknik pemberian air yang bertujuan membasahi lahan hingga jenuh tanpa tergenangi hingga mencapai ketinggian tertentu. Teknik irigasi ini efisien dalam penggunaan air dibandingkan dengan pengairan secara terus-menerus. Beberapa penelitian menunjukkan hasil tanaman padi yang mendapat irigasi macak-macak tidak berbeda nyata dengan yang mendapat genangan tinggi secara terus-menerus (Tabel 2). Penurunan genangan dari 10-15 cm menjadi 5-7 cm selain mengurangi penggunaan air irigasi juga dapat meningkatkan hasil tanaman. Efisiensi penggunaan air berperan penting dalam peningkatan nilai ekonomi produksi pertanian pada lahan beririgasi. Efisiensi penggunaan air dengan pengairan macak-macak 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan penggenangan secara terus-menerus . 5. Irigasi Bergilir (Rotational Irrigation); Irigasi bergilir merupakan teknik pengairan tanaman pada luasan tertentu dan untuk periode tertentu, sehingga areal tersebut menyimpan air yang dapat digunakan hingga periode pengairah berikutnya. Pengairan dengan sistem bergilirtidak menurunkan hasil padi dan bahkan cenderung meningkat.6. Irigasi Berselang;Sistem irigasi berselang merupakan teknik pengairan tanaman pada lahan sawah dengan volume tertentu, dan pengairan berikutnya dilakukan pada periode tertentu pula setelah genangan air surut dapat meningkatkan produktivitas padi, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pengairan secara terus-menerus dan irigasi bergilir. Dengan irigasi berselang hasil padi meningkat 7% dibanding hasil pada lahan yang digenangi terus menerus, sementara hasil padiAgar supaya air tidak banyak terbuang maka perlu adanya kerjasama yang baik. Petani bersedia melaksanakan budidaya pertanian tepat pada waktunya. Karena kalau terlambat tanam, air yang yang telah disediakan akan terbuang. Disamping itu pemeliharaan prasarana dan sarana pengairan harus selalu diperhatikan. Jangan sampai terjadi rembesan dan kebocoran. Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber: 1. Prof Dr Ir. Soemarno, M.S. 2004. Pengelolaan Air Tanah Bagi Tanaman. Program Pascasarjana, Universitas Brawijaya Malang.2. http://einsteintilulit.blogspot.co.id/2010/06/efisiensi-penggunaan-air-irigasi-pada.html3. http://www.litbang.pertanian.go.id/special/padi/bbpadi_2008_p2bn1_13.pdf